MEUREUDU – Di tengah berbagai tantangan pembangunan, persoalan ekonomi masyarakat, hingga dinamika sosial yang dihadapi daerah, puluhan ribu masyarakat memadati halaman Gedung MTQ Pidie Jaya dalam Dzikir Akbar dan Tausiah Islam yang menjadi puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Kabupaten Pidie Jaya sekaligus menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Selasa malam (16/6/2026).
Kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya melalui Dinas Syariat Islam itu dihadiri Bupati Pidie Jaya H. Sibral Malasyi, MA, S.Sos., M.E, unsur Forkopimda, para ulama, kepala SKPK, serta sekitar 38 ribu jamaah dari berbagai kecamatan.
Berbeda dengan seremoni perayaan pada umumnya, peringatan HUT kali ini lebih menonjolkan pendekatan spiritual.
Ribuan tangan terangkat, lantunan dzikir menggema, sementara doa-doa dipanjatkan untuk masa depan Pidie Jaya yang dinilai tengah membutuhkan persatuan dan optimisme untuk bangkit.
Dalam sambutannya, Bupati Sibral Malasyi menegaskan bahwa usia ke-19 tahun bukan sekadar angka perjalanan sebuah daerah, melainkan momentum evaluasi terhadap berbagai capaian sekaligus tantangan yang masih harus diselesaikan.
Menurutnya, pembangunan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur dan program pemerintahan, tetapi juga membutuhkan kekuatan moral, spiritual, dan kebersamaan masyarakat.
“Dzikir yang kita lantunkan bersama malam ini semoga dikabulkan Allah SWT dan menjadi amal ibadah bagi kita semua. Mudah-mudahan Pidie Jaya ke depan menjadi daerah yang lebih baik, lebih maju, dan mampu bangkit dari berbagai tantangan yang sedang dihadapi,” ujar Bupati.
Ia mengajak masyarakat menjadikan semangat hijrah sebagai inspirasi perubahan, memperkuat persaudaraan, serta mendukung pembangunan daerah dengan mengedepankan nilai-nilai keislaman.
Sementara itu, penceramah internasional asal Yaman, Ustaz Habibi Alwi, mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pertumbuhan fisik dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas iman, akhlak, dan persatuan masyarakatnya.
Dalam tausiahnya, ia menekankan bahwa keberkahan sebuah negeri lahir ketika masyarakatnya menjaga hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
“Jika masyarakat menjaga salat, memperbanyak dzikir, saling menghormati, dan menjaga persatuan, maka Allah akan membuka pintu keberkahan bagi daerah tersebut,” pesannya di hadapan puluhan ribu jamaah.
Momentum dzikir akbar tersebut menjadi refleksi bahwa setelah 19 tahun berdiri sebagai daerah otonom, Pidie Jaya masih memiliki pekerjaan besar untuk mewujudkan cita-cita pembangunan yang merata dan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah berbagai perbedaan dan tantangan yang ada, doa bersama yang dipanjatkan ribuan warga malam itu menjadi simbol harapan agar daerah ini mampu melangkah lebih kuat, lebih bersatu, dan lebih siap menghadapi masa depan.
Bagi banyak jamaah yang hadir, dzikir akbar tersebut bukan sekadar rangkaian peringatan HUT daerah, melainkan ikhtiar kolektif memohon keberkahan agar Pidie Jaya tidak hanya bertambah usia, tetapi juga bertambah kualitas pembangunan, persatuan, dan kesejahteraan masyarakatnya.[Mul]











