MEULABOH – Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Madura dan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh melakukan webinar kolaborasi pada Kamis, 25 Juni 2026.
Kegiatan ini dilakukan dengan metode daring melalui zoom meeting yang digagas oleh UIN Madura. Webinar dengan tema Komunikasi Publik: Sosial dan Kebebasan Berpendapat dalam Perspektif Komunikasi Islam menghadirkan Prof. Masduki sebagai pemateri utama dalam menyorot gaya komunikasi pemerintahan saat ini.
Selain Prof. Masduki, tiga orang mahasiswa dari UIN Madura dan STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh menyampaikan orasinya dalam melihat komunikasi publik saat ini.
Dalam orasi Syarifatul Lailiyah dan Muhaimin dari UIN Madura, ia menyebutkan bahwa komunikasi publik saat ini tidak hanya disampaikan secara tradisional. Media sosial juga ambil andil memberi ruang kepada para komunikator politik dalam melakukan komunikasi dengan dampak yang luas.
Sementara itu, Ade Oktavia Ramadhani dari STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh menyampaikan orasi dengan topik generasi muda dan komunikasi publik di era digital. Dalam orasi singkatnya Ade mengungkapkan bahwa era digital memiliki sisi peluang dan ancaman. Namun sisi positif lebih dominan memberi peluang.
“Era digital lebih banyak menghadirkan peluang dibandingkan ancaman. Teknologi mempermudah akses informasi, membuka kesempatan belajar tanpa batas, dan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mau terus mengembangkan kemampuan dan mengikuti perubahan zaman,” papar Ade dalam orasinya.
Sesi webinar diisi pemateri utama oleh Prof. Masduki, guru besar di bidang Ilmu Media dan Jurnalisme. Materi dengan judul Komunikasi Politik dalam Sistem Politik Otoriter menyorot gaya komunikasi pemerintah saat ini yang banyak membingungkan masyarakat.
“Tayangan konten di media sosial adalah benang merah tentang bagaimana cara presiden kita saat ini memimpin. Secara teori, saat ini Prabowo menjalankan komunikasi politik otoriter. Pemerintah memiliki kontrol penuh terhadap media. Media massa berfungsi sebagai corong pemerintah untuk pencitraan dan indoktrinasasi,” ungkap Masduki dalam pemaparan yang dihadiri oleh 90 orang peserta dari dua kampus.
Kegiatan ini terselenggara sebagai bentuk implementasi MoU Prodi KPI yang bernaung di bawah Asosiasi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (ASKOPIS). Selain untuk meningkatkan hubungan kemitraan, webinar kolaborasi juga menjadi panggung bagi mahasiswa untuk menyuarakan pendapatnya.
“Mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi di kelas, tapi dapat berkomunikasi dengan diberikan panggung akademik yang luas. Semoga seluruh mahasiswa dari Aceh dan Madura mendapatkan pemahaman yang lebih luas dan meningkatkan keberanian dalam bersuara,” harap Heny Triyaningsih, dosen KPI UIN Madura.









