Oleh Saiyidatu Syuhuri. Penulis adalah mahasiswi dari UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Kerajaan Samudra pasai ialah kerajaan islam pertama di pulau Sumatera tepatnya di pesisir pantai utara Sumatra, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia. Kerajaan ini pertama kali didirikan oleh Meurah Silu sebelum beliau memeluk agama islam, dan ketika beliau telah meyakini agama islam namanya berubah menjadi Malik as-Saleh yang artinya Malik yang saleh, dan kemudian beliau juga menjadi pemimpin pertama di kerajaan samudera pasai dengan gelar Sultan Malik as-Saleh. Pada abad ke-13 Kerajaan Samudra Pasai telah menjadi pusat perdagangan internasional dan menjadikan ia kerajaan islam terbesar di Nusantara.
Selanjutnya, Kerajaan Samudra Pasai juga merupakan kerajaan maritim yang terus berkembang, karena posisinya yang sangat berpengaruh yaitu di dekat Selat Malaka. Seperti yang kita ketahui bahwa Selat Malaka merupakan salah satu jalur yang dilalui oleh kapal-kapal perdagangan internasional.
Dengan hal ini, membuat kerajaan samudera pasai menjadi tempat singgah para pedagang dari Arab, Persia, Cina, hingga wilayah Asia Tenggara. Karena itu, Kerajaan samudra pasai mejadi perlabuhan penting sebagai pusat pertemuan bagi pedagang-pedagang dari berbagai negara.
Perkembangan perdagangan yang sangat maju membawa kemakmuran bagi kerajaan Samudra Pasai itu sendiri, tak berhenti di situ, perkembangan tersebut juga memperluas wilayah kekuasaan dan meningkatkan kesejateraan masyarakat setempat, lalu menariknya keberhasilan dalam pengelolaan perdagangan membuat kerajaan sumudra pasai mencapai puncak kejayaannya sebagai kerajaan yang berperan penting di kawasan Nusantara. Namun, perlu diketahui bahwa keberhasilan tersebut tentunya tidak terlepas dari pengelola dan pengatur yang menjalankan pelayaran perdagangan maritim.

Adapun gelar bagi seseorang yang mampu dan ahli dalam bidang tersebut dinamakan Mua’llim.
Secara harafiah, istilah Mu’allim dalam bahasa Arab berarti “orang yang mengajar” atau “guru”. Namun, dalam perdagangan maritim di Kerajaan Samudra Pasai, istilah ini digunakan sebagai gelar yang menunjukkan kepada seorang pelaut, navigator, atau nakhoda kapal yang memiliki keahlian dan pengetahuan dalam mengemudikan kapal serta memahami rute pelayaran. Adanya gelar Mu’allim di Kerajaan Samudra Pasai terjadi karena kerajaan ini adalah kerajaan maritim.
Aktivitas perdagangan jalur laut menjadi dasar perekonomian Samudra Pasai. Pelabuhan Samudra Pasai menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dari berbagai negara yang memperdagangkan komoditas seperti lada, emas, sutra, kain, dan berbagai barang berharga lainnya. Perdagangan melalui kapal laut ini tentu memerlukan orang-orang yang memiliki kemampuan dan keahlian dalam memimpin pelayaran. Oleh karena itu, para Mu’allim memiliki peran penting agar proses perdagangan jalur laut berjalan dengan lancar dan sistematis.
Sebuah artikel berjudul Cisah Menemukan Makam Keluarga Mu’allim mendukung tulisan ini dengan menunjukkan lokasi makam keluarga Mu’allim di wilayah Syamtalira Bayu, yang terletak sekitar 2 kilometer dari pesisir Teluk Samawi (Kuala Lancok) di Aceh Utara. Berbagai batu nisan memuat nama-nama individu dengan gelar Mu’allim, termasuk Bab bin Paduka Mu’allim Khoj bin Malik Thahud bin Barjan, yang menjelaskan bahwa Bab adalah anak dari Paduka Mu’allim Khoj (atau Khoja).
Gelar Paduka dengan jelas menunjukkan bahwa Mu’allim Khoj ini adalah seorang bangsawan. Meskipun Mu’allim merupakan gelar yang dikenal untuk navigator atau nakhoda kapal, Khoja selain merujuk pada seorang syekh atau pengajar ia juga bermakna pedagang dalam bahasa Persia, dalam konteks ini, Khoj kemungkinan besar merujuk pada seorang saudagar.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ayah Bab adalah seorang navigator sekaligus pedagang yang memegang peran penting di Kerajaan Samudra Pasai. Namun demikian, makamnya belum ditemukan di area pemakaman tersebut. Walaupun pun tempat peristirahatan terakhirnya tidak pernah ditemukan di wilayah Syamtalira Bayu, hal itu dapat dipahami bahwa gelarnya, Paduka Mu’allim Khoj, menyiratkan bahwa ia adalah sosok yang bertugas melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia.
Selain itu, sosok yang disebut sebagai Mu’allim di lokasi pemakaman tersebut adalah Mu’allim Husain Barjan. Husain merupakan putra dari Barjan, yang menyandang gelar Mu’allim (yang berarti navigator atau pelaut), dan jika benar bahwa Barjan adalah Khatib Husain, maka dapat disimpulkan bahwa Barjan juga menamai putranya Husain. Temuan ini mengindikasikan bahwa profesi navigator bukanlah sekadar pekerjaan biasa, melainkan profesi yang memiliki peran sosial yang tinggi.
Selain itu, bukti lain mengenai gelar Mu’allim saya dapatkan langsung dari hasil wawancara yang saya lakukan dengan bapak Sukarna Putra yang bertugas sebagai koordinator museum samudera pasai dan beliau juga aktif di lembaga riset penelitian sejarah samudera pasai yaitu Center For Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) beliau menegaskan bahwa gelar Mua’llim ditemukan juga pada makam seorang perempuan bernama Siti Jumaidil Awal yang menyandang jabatan katibah Mu’allim, yaitu juru catat atau asisten dari seorang nakhoda bernama Mu’allim Ahmad.
Fakta ini membuktikan struktur pelayaran di Samudera Pasai mempunyai sistem pembagian kerja yang jelas dan terstruktur. Bagaimanapun, kehadiran figur perempuan dalam tugas tersebut menunjukkan bahwa kaum hawa punya andil di sektor pelayaran Kerajaan Samudra Pasai.
Sejarah pelayaran Samudra Pasai juga dapat dilihat pada ukiran batu nisan. Ada satu batu nisan milik seorang Mu’allim, yaitu orang yang mengajarkan agama dan menjadi juru kemudi kapal. Batu nisan tersebut memiliki gambar kapal dan perahu yang diukir oleh seniman kaligrafi.
Meskipun sampai saat ini, belum dapat ditemukan kapal dari zaman Samudra Pasai, ukiran-ukiran di batu nisan tersebut menunjukkan bahwa kapal sangat penting untuk bepergian, berdagang, dan menyebarkan ajaran Islam pada masa itu. Kapal-kapal Samudra Pasai memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat pada masa itu dan saat ini masih dapat dilihat dalam ukiran-ukiran, pada batu nisan milik Mu’allim tersebut.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa gelar Mu’allim bukan hanya tentang keterampilan dan pengetahuan seseorang. Gelar ini juga menunjukkan bahwa Kerajaan Samudra Pasai adalah kerajaan maritim dengan sistem pelayaran yang kuat.
Gelar Mu’allim, sebuah pelabuhan, dan jaringan perdagangan internasional semuanya mengarah pada hal tersebut. Banyak temuan arkeologis juga mendukung gagasan bahwa Samudra Pasai berperan penting dalam dunia maritim. Gelar Mu’allim bagaikan petunjuk yang menunjukkan betapa hebatnya Kerajaan Samudra Pasai dalam hal pelayaran dan perdagangan pada masa itu, dan gelar Mu’allim dengan pelayaran dan perdagangan Kerajaan Samudera Pasai benar-benar berjalan beriringan.










