BANDA ACEH – Di tengah tantangan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial keagamaan, kebutuhan akan akademisi Muslim yang mampu menjembatani khazanah klasik dengan persoalan kontemporer semakin mendesak.
Menjawab kebutuhan tersebut, STAI Nusantara Banda Aceh membuka Penerimaan Mahasiswa Baru Program Magister (S2) Studi Islam Tahun Akademik 2026/2027 dengan mengusung penguatan riset, kajian manuskrip, dan tradisi intelektual ulama Aceh.
Ketua Program Studi Magister Studi Islam STAI Nusantara Banda Aceh, Dr. Safwan, S.Pd.I., M.Ag., mengatakan program ini dirancang bukan sekadar menghasilkan lulusan bergelar magister, tetapi mencetak ilmuwan Muslim yang memiliki kapasitas akademik, kemampuan riset, dan kepekaan terhadap persoalan umat.
“Magister Studi Islam di STAI Nusantara kami bangun dengan pendekatan yang memadukan warisan intelektual Islam Nusantara, khususnya manuskrip dan tradisi keilmuan Aceh, dengan metodologi penelitian modern. Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu mengontekstualisasikannya dalam menjawab tantangan masyarakat hari ini,” ujar Safwan.
Menurutnya, Aceh memiliki kekayaan manuskrip Islam yang belum banyak dikaji secara akademik. Padahal, naskah-naskah tersebut menyimpan pemikiran para ulama tentang fikih, tafsir, tasawuf, pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan yang masih relevan untuk dikembangkan sebagai sumber keilmuan.
“Selama ini manuskrip sering dipandang sebagai peninggalan sejarah semata. Padahal, di dalamnya terdapat gagasan besar yang dapat menjadi rujukan dalam membangun peradaban Islam yang moderat, inklusif, dan berkemajuan. Karena itu, kajian manuskrip menjadi salah satu kekhasan program studi kami,” katanya.
Safwan menjelaskan, kurikulum Magister Studi Islam juga menitikberatkan pada penguatan budaya riset dan publikasi ilmiah. Mahasiswa didorong menghasilkan penelitian yang mampu memberikan solusi atas persoalan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya memenuhi syarat akademik untuk memperoleh gelar.
“Kami ingin setiap tesis yang lahir memiliki nilai kebermanfaatan. Riset harus menjadi instrumen untuk menjawab persoalan sosial, pendidikan, ekonomi syariah, maupun dinamika keagamaan yang berkembang di masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses pembelajaran didukung tenaga pengajar yang berasal dari berbagai disiplin ilmu serta memiliki pengalaman akademik di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, kampus terus memperluas jejaring kerja sama guna membuka peluang kolaborasi riset dan publikasi bagi mahasiswa.
Pendaftaran mahasiswa baru dibuka hingga 20 Agustus 2026, dengan jadwal wawancara pada 25 Agustus 2026 dan perkuliahan dimulai 1 September 2026.
STAI Nusantara menyediakan kelas reguler maupun nonreguler untuk memberikan fleksibilitas bagi calon mahasiswa, termasuk kalangan profesional dan aparatur sipil negara.
Safwan berharap kehadiran Program Magister Studi Islam STAI Nusantara Banda Aceh dapat menjadi ruang lahirnya generasi intelektual Muslim yang tidak tercerabut dari akar tradisi keilmuan Aceh, tetapi mampu berkiprah dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat nasional maupun global.
“Visi kami adalah melahirkan lulusan yang mampu menjaga warisan intelektual Islam Aceh sekaligus menghadirkan gagasan-gagasan baru yang relevan dengan kebutuhan zaman. Tradisi keilmuan harus terus hidup melalui riset, publikasi, dan pengabdian kepada masyarakat.” Ucap Dr. Safwan, S.Pd.I., M.Ag, Ketua Program Studi Magister Studi Islam STAI Nusantara Banda Aceh.[Mul]









