Subussalam – Anggota MPR RI H. Muslim Ayub, S.H., M.M. menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kota Subussalam Sabtu (18/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya MPR RI untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan, khususnya Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia.
Dalam pemaparannya, Muslim Ayub mengajak peserta melihat Pancasila melalui peristiwa-peristiwa yang dekat dengan kehidupan masyarakat, salah satunya euforia Piala Dunia FIFA 2026 yang menyita perhatian publik di berbagai belahan dunia. Menurutnya, ajang olahraga terbesar tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi oleh kekuatan kolektif yang dibangun melalui persatuan, disiplin, integritas, dan rasa saling percaya.
Muslim Ayub menuturkan bahwa negara-negara yang tampil sebagai kekuatan sepak bola dunia tidak dibangun dalam waktu singkat. Prestasi tersebut lahir dari budaya kerja yang konsisten, penghormatan terhadap aturan, pembinaan generasi muda, serta semangat mengutamakan kepentingan tim di atas kepentingan pribadi. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan filosofi Pancasila yang menempatkan kebersamaan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
“Ketika jutaan orang menyaksikan Piala Dunia, sesungguhnya kita juga sedang menyaksikan bagaimana karakter sebuah bangsa ditampilkan di hadapan dunia. Kedisiplinan, sportivitas, rasa hormat kepada lawan, dan kerja sama menjadi faktor yang menentukan keberhasilan. Nilai-nilai itulah yang juga diajarkan oleh Pancasila,” ujar Muslim Ayub.
Ia menambahkan bahwa Indonesia tidak kekurangan sumber daya manusia maupun keberagaman budaya. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan seluruh elemen bangsa untuk bersatu dalam mencapai tujuan bersama. Karena itu, sila ketiga Pancasila harus dimaknai sebagai energi pemersatu yang mampu menghilangkan sekat perbedaan demi kepentingan nasional.
Menurut Muslim Ayub, semangat kompetisi yang sehat dalam sepak bola juga memberikan pelajaran bahwa persaingan tidak boleh menghilangkan rasa saling menghormati. Dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar, namun seluruh proses harus tetap berlandaskan etika, hukum, dan musyawarah sebagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam sila keempat Pancasila.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan suatu bangsa tidak cukup diukur dari capaian ekonomi semata, tetapi juga dari kualitas karakter masyarakatnya. Oleh karena itu, pengamalan Pancasila harus dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, menaati aturan, serta membangun budaya gotong royong di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Menutup kegiatan, Muslim Ayub mengajak masyarakat Subussalam untuk menjadikan semangat kebersamaan yang ditunjukkan negara-negara peserta Piala Dunia sebagai inspirasi dalam membangun Indonesia. Menurutnya, apabila nilai-nilai Pancasila terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, Indonesia akan memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi bangsa yang maju, berdaya saing, sekaligus tetap menjaga jati diri dan persatuan nasional.[]










