Penulis: Hafizhuddin Islamy. Alumni Prodi Pai UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Islam agama yang rahmatal lil alamin, datang dengan membawa perubahan besar bagi peradaban dunia. Muncul ditengah tengah porak-porandanya keadaan masyarakat jahiliah, Islam datang dengan membawa misi besar untuk memperbaiki akhlak manusia. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti (akhlak) manusia menjadi lebih mulia”.
Keadaan masyarakat jahiliah saat Rasulullah lahir hingga beliau diangkat menjadi Rasul sangatlah memilukan dan memprihatinkan. Kehidupan yang tidak memiliki arah dan aturan, bertindak semena-mena, saling membunuh dan melakukan banyak hal keji lainnya.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah bagaimana masyarakat jahiliah memperlakukan para wanita. Pada zaman yang begitu terpuruk akan krisis akhlak tersebut, wanita hanya dipandang sebagai sarana pemuas nafsu kaum laki-laki. Laki-laki pada zaman itu memperlakukan wanita semena-mena. Berganti istri, membuang istri ketika para istri sedang dalam keadaan menstruasi dan mencari wanita lain untuk memuaskan nafsunya.
Begitu hinanya masyarakat jahiliah memandang wanita hingga kelahiran bayi wanita oleh mereka dianggap merupakan sebuah aib yang memalukan dan harus ditutupi. Bahkan ada dari mereka yang mengubur hidup-hidup bayi wanitanya karena tidak sanggup menanggung malu atas kelahirannya.
Barulah ketika Islam datang, melalui Rasulullah Saw, diangkatlah derajat dan kedudukan wanita ke posisi yang lebih mulia. Kedudukan wanita yang sudah tenggelam hingga ke dasar jurang yang paling dalam, oleh Rasulullah diselamatkan dan beliau tempatkan wanita pada kedudukan dan kemuliaan yang semestinya mereka dapatkan. Kemudian Rasulullah ajarkan melalui sabda sabdanya bagaimana seorang wanita seharusnya diperlakukan dan bagaimana seharusnya mereka menjalani kehidupannya.
Namun sungguh disayangkan, ketika hari ini ada wanita-wanita yang hidup bertentangan dengan syari’at yang telah Rasulullah ajarkan. Banyak wanita hari ini dengan bangga tanpa rasa bersalah berkeliaran dengan aurat terbuka, menggunakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya serta berias dengan wewangian yang berlebihan.
Hal-hal seperti ini disadari atau tidak, mencoreng perjuangan Rasulullah yang telah mengangkat derajat para wanita. Ketika seorang wanita hidup bertentangan dengan syari’at, maka seakan-akan ia sedang melempar kotoran ke wajah Rasulullah yang telah menyelamatkannya dari derajat yang paling hina hingga ke kedudukan yang mulia.
Wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang dihiasi dengan banyak keunikan. Sangking uniknya wanita, Allah Swt di dalam Al-Quran mengkhususkan satu surat dengan nama An-Nisa yang didalamnya secara khusus Allah berikan penjelasan mengenai perihal hukum yang berkaitan dengan wanita.
Wanita sendiri memiliki kedudukan yang sangat istimewa di dalam Islam. Di dalam haditsnya Rasulullah bersabda “Wanita adalah tiangnya negara, apabila baik wanitanya maka negara itu akan menjadi negara yang baik. Namun apabila rusak wanitanya maka negara tersebut pun akan ikut rusak”. Dari hadis ini bisa disimpulkan bahwa baik atau buruknya masa depan sebuah negara sangatlah bergantung pada baik atau buruknya wanita yang hidup di negara tersebut.
Bagaimana tidak, wanita adalah makhluk yang Allah hiasi dengan kelembutan hadir sebagai pencetak kader yang meneruskan generasi. Pendidikan pertama yang akan diperoleh generasi selanjutnya bersumber dari ibunya, sesuai dengan sabda Nabi Saw “Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya”. Dari sini jelaslah bahwa tugas utama seorang wanita adalah memberikan pendidikan untuk anak-anaknya.
Namun problem di lapangan yang patut dipertanyakan adalah “Sudah sejauh mana para wanita hari ini siap untuk mengemban tugas itu? Sudahkah ibu-ibu hari ini yang memiliki anak perempuan mengajarkan anaknya untuk bersiap menjadi seorang ibu dan menjadi istri untuk suaminya? Atau apakah kita lupa? Apakah mendidik seorang wanita untuk menjadi seorang ibu telah terasa kuno bagi kita? Apakah kita telah disibukkan untuk mendidik para wanita menjadi orang sukses di dalam kariernya? Mendidik agar ia menjadi orang yang sukses, mandiri, tangguh, punya penghasilan sendiri dan melupakan tujuan utama bahwa seorang wanita perlu dididik agar ia mampu mentransfer nilai-nilai pendidikan yang baik untuk anaknya?
Perlu diingat, tidaklah salah orang tua yang bercita-cita agar anak perempuannya menjadi anak yang sukses. Yang salah adalah ketika para orang tua sibuk mempersiapkan kehidupan yang layak untuk putrinya, namun di satu sisi lain ia lupa untuk mempersiapkan anaknya menjadi seorang ibu. Definisi sukses yang saat ini harus lebih dipahami oleh para orang tua. Bahwa bagi seorang wanita, sukses bukan hanya tentang berapa penghasilan yang berhasil ia peroleh setiap bulannya, bukan hanya tentang seberapa tinggi jenjang pendidikan dan gelar yang telah didapatkannya, namun seorang wanita baru dianggap sukses apabila berhasil mendidik anak-anaknya.
Kita tidak membatasi ruang gerak para wanita, namun yang diharapkan adalah agar mereka tidak melupakan tugas utama mereka menjadi seorang ibu. Tentunya dalam hal mendidik dan mencetak kader penerus yang berakhlak mulia, tidak bisa hanya mengandalkan tangan seorang ibu saja, dalam hal ini seorang ayah pun harus ikut bekerjasama dalam menjalankan tugas-tugas rumah tangga bersama.
Seorang wanita adalah ratu didalam rumah tangganya, bahkan selama ini kita tidak sadar bahwa istri dalam ungkapan orang Aceh sering disebut dengan istilah porumoeh yang bermakna bahwa seorang istri itu adalah seseorang yang memiliki kuasa penuh atas rumah yang diberikan suaminya, ia menjadi penanggung jawab harta suaminya dan penanggung jawab seluruh isi rumah yang ada termasuk juga anak-anaknya.
Nilai nilai Islam yang memuliakan wanita kemudian diadopsi oleh Kesultanan Aceh, yang mana di dalam Qanun Meukuta Alam yang dirancang di zaman pemerintahan ratu Safiatuddin, tercetus bahwa terdapat jumlah sekian mahar yang harus dipenuhi untuk dapat menikahi wanita Aceh. Adanya batasan mahar dengan jumlah tertentu untuk menikahi wanita adalah sebuah bentuk upaya agar wanita yang sudah dinikahi itu senantiasa dipandang berharga, tidak dipandang rendah selayaknya pesuruh. Intinya Islam memperlakukan dan memposisikan wanita sangat mulia dengan selalu menjaga hak-haknya dan memperhatikan segala kebutuhan serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan wanita itu sendiri.
![[Opini] Betapa Islam Memuliakan Wanita](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-16.15.28-750x375.jpeg)
![[Opini] Betapa Islam Memuliakan Wanita](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-16.15.28-120x86.jpeg)




