Padangsidimpuan – Hamparan padang tandus, jalan panjang yang nyaris tanpa permukiman, hingga kuliner daging kuda menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi pasangan kakek dan nenek asal Aceh, T. Faisal Laksamana, (65) dan dr. Indriati (61), dalam perjalanan overland keliling dunia.
Mengendarai kendaraan pribadi yang telah dipersiapkan untuk perjalanan lintas negara, keduanya berhasil tiba di Almaty, Kazakhstan, setelah menempuh perjalanan panjang dari China. Jalur menuju Asia Tengah menjadi salah satu etape paling menantang dalam ekspedisi mereka.
Dari China, Faisal dan Indriati melewati kawasan pegunungan hingga memasuki hamparan padang tandus yang luas. Puluhan kilometer perjalanan dilalui tanpa rumah penduduk. Meski kondisi jalan relatif mulus dan tertata, kesunyian justru membuat perjalanan terasa menegangkan.
“Jalannya cukup bagus, mulus dan teratur. Tetapi kami tidak bisa membayangkan kalau terjadi masalah dengan mobil di tengah padang tandus seperti ini. Mau minta bantuan kepada siapa? Rumah penduduk saja tidak ada,” ujar Faisal kepada Antara, di Padangsidimpuan selaku media partner ekspedisi ini, Minggu.
Setelah menempuh perjalanan panjang, keduanya memilih bermalam di kawasan wisata Charyn Canyon Tarmerlik. Bermalam di kawasan alam dengan bentang tebing yang spektakuler itu menjadi pengalaman tersendiri sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Almaty yang berjarak sekitar 280 kilometer.
Setibanya di Almaty, rasa lelah perjalanan, kata dia, terbayarkan. Mereka bertemu dua sahabat perjalanan, Lily Yosa dari London dan Mila dari Belgia, yang sama-sama berasal dari Medan. Pertemuan itu sekaligus menjadi awal rencana perjalanan berikutnya menuju Kyrgyzstan dan Uzbekistan.
Sambil menunggu proses visa Kyrgyzstan, Faisal dan Indriati menjelajahi Almaty, termasuk Green Bazaar, pasar tradisional yang menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat setempat. Di tempat itu, mereka tidak hanya melihat beragam komoditas lokal, tetapi juga merasakan suasana kehidupan sehari-hari warga Kazakhstan.
Pengalaman kuliner kemudian menjadi bagian yang paling berkesan. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan mereka, Faisal dan Indriati mencicipi sup daging kuda dan steak daging kuda yang disajikan bersama jus delima. Bagi pasangan tersebut, makanan lokal itu menjadi pengalaman budaya yang berbeda dari kuliner yang biasa mereka temui selama perjalanan.
“Luar biasa. Kami baru kali ini mencoba makan daging kuda. Rasanya menjadi pengalaman yang tidak terlupakan selama perjalanan kami di Kazakhstan,” kata Faisal yang sudah menetap di Kota “Salak” Padangsidimpuan.
Sebagai wisatawan Muslim, pengalaman kuliner tersebut juga dilengkapi dengan perjalanan spiritual. Setelah menikmati makanan khas setempat, keduanya melanjutkan aktivitas dengan menunaikan salat di Almaty Central Mosque.
Perjalanan Faisal dan Indriati bukan ekspedisi yang dilakukan secara spontan. Mereka telah menjelajahi berbagai wilayah Indonesia sebelum mulai memperluas perjalanan ke luar negeri. Pada 2023, keduanya melakukan perjalanan ke Malaysia dan Brunei, kemudian pada 2024 menjelajahi Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Laos.
Dalam ekspedisi kali ini, keduanya membawa kendaraan pribadi dari Indonesia dan menempuh perjalanan darat menuju Asia Tengah. Dari Kazakhstan, mereka berencana melanjutkan perjalanan ke Kyrgyzstan dan Uzbekistan sebelum bergerak menuju negara-negara berikutnya.
Bagi Faisal dan Indriati, perjalanan tersebut bukan sekadar berpindah dari satu negara ke negara lain. Setiap ruas jalan menghadirkan cerita, setiap pertemuan meninggalkan kenangan, dan setiap makanan lokal menjadi cara baru untuk mengenal budaya masyarakat yang mereka datangi.
Dari padang tandus di perbatasan China-Kazakhstan hingga mencicipi daging kuda di Almaty, perjalanan pasangan ini memperlihatkan bahwa pengalaman menjelajah dunia juga dapat ditemukan melalui hal-hal sederhana: sebuah jalan yang panjang, sebuah meja makan, dan pertemuan dengan orang-orang baru.
Ekspedisi mereka masih jauh dari selesai. Setelah Asia Tengah, perjalanan akan diarahkan menuju Eropa hingga Arab Saudi, termasuk Tanah Suci. Kendaraan pribadi yang mereka bawa pun kembali menjadi rumah sekaligus teman perjalanan dalam mewujudkan mimpi menjelajah dunia.








