MEUREUDU – Bencana tidak pernah datang dengan kepastian waktu. Karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh dibangun setelah musibah terjadi. Masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan pesisir, harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menyelamatkan diri sebelum ancaman berubah menjadi korban.
Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, H. Ruslan M. Daud, S.E., M.A.P. (HRD), menegaskan hal tersebut saat membuka kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati di Gedung MTQ Kabupaten Pidie Jaya, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan bertema “Pengabdian Kepada Masyarakat dalam Rangka Pemulihan Pasca Bencana Hidrometeorologi Aceh untuk Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Melalui Edukasi Keselamatan Pelayaran dan Kesiapsiagaan Bencana” itu melibatkan 1.216 orang.
Menurut HRD, pengalaman bencana seharusnya menjadi pelajaran bahwa keselamatan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan respons pemerintah ketika keadaan sudah darurat. Kapasitas masyarakat harus dibangun jauh sebelum bencana terjadi.
“Masyarakat harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menjaga keselamatan diri maupun orang lain. Kesiapsiagaan menghadapi bencana juga harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama di wilayah pesisir,” ujar HRD.
Ia menilai edukasi kebencanaan harus bergerak dari sekadar pengetahuan menuju keterampilan yang dapat dipraktikkan. Masyarakat harus mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi tsunami, gelombang tinggi, banjir rob maupun cuaca ekstrem.
Sebab, dalam situasi bencana, waktu untuk belajar sudah habis. Yang tersisa adalah kemampuan untuk bertindak.
HRD berharap kegiatan PKM Poltekpel Malahayati tidak berhenti pada seremoni dan penyampaian materi. Pengetahuan yang diberikan harus benar-benar menjadi bekal masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.
“Jangan hanya menjadi kegiatan seremonial. Yang kita harapkan adalah masyarakat benar-benar mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang bisa digunakan ketika menghadapi bencana,” katanya.
Ia juga mengapresiasi Poltekpel Malahayati yang memilih Pidie Jaya sebagai lokasi pengabdian. Menurutnya, penguatan ketahanan masyarakat pesisir membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah, DPR RI dan masyarakat.
Bupati Pidie Jaya H. Sibrah Malasyi, M.A., S.Sos., M.E., turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memperkuat pembangunan daerah sekaligus mendukung proses pemulihan pascabencana.
Sementara itu, Direktur Poltekpel Malahayati, Ir. Andi Fiardi, S.T., M.T., CGRE, mengatakan edukasi dalam kegiatan PKM mencakup keselamatan pelayaran dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana.
Materi meliputi penggunaan alat keselamatan, prosedur pelayaran yang aman, serta langkah menghadapi tsunami, gelombang tinggi, banjir rob dan cuaca ekstrem.
Kegiatan tersebut diikuti 800 peserta PKM, 400 peserta Mental Health, tiga narasumber/dosen dan 13 panitia pendukung. Total sebanyak 1.216 orang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Bagi masyarakat pesisir, kesiapsiagaan bukan pilihan tambahan. Ia merupakan kebutuhan dasar.
Bencana mungkin tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Namun, kesiapan menghadapinya bisa dibangun mulai hari ini.[Mul]








