MEUREUDU — Aceh memiliki sejarah panjang perjuangan dan konflik, namun, bagi Sekretaris Partai Aceh (PA) Pidie Jaya sekaligus Ketua DPRK Pidie Jaya, A Kadir Jailani alias Pang Kade, tantangan generasi muda hari ini bukan lagi sekadar memahami bagaimana masa lalu terjadi, melainkan bagaimana mengambil peran di tengah era perdamaian.
Pesan itu disampaikan Pang Kade saat memberikan materi pada Pelatihan Kader Penggerak Nanggroe Japakeh di Aula Kantor Partai Aceh Pidie Jaya, Selasa (15/9/2026).
Di hadapan puluhan peserta, Pang Kade mengajak kader muda melihat perjalanan Aceh secara utuh, mulai dari masa perjuangan, konflik, hingga lahirnya perdamaian dan berbagai perubahan yang berlangsung setelahnya.
Menurutnya, sejarah harus menjadi bekal untuk membaca kondisi Aceh hari ini. Pemahaman terhadap masa lalu, kata dia, penting agar generasi muda tidak kehilangan arah dalam menghadapi persoalan dan tantangan baru.
“Aceh telah melewati masa konflik yang panjang. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat Aceh hingga memasuki era perdamaian,” ujar Pang Kade.
Ia menyebut perdamaian telah membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam politik, pemerintahan, pembangunan dan kehidupan sosial.
Tetapi ruang tersebut, menurut Pang Kade, membutuhkan generasi yang memiliki kapasitas untuk mengisinya.
Pang Kade menegaskan generasi muda harus dipersiapkan bukan hanya sebagai peserta kegiatan, tetapi sebagai calon pemimpin yang mampu hadir dan bekerja di tengah masyarakat.
“Generasi muda, khususnya kader penggerak, harus dipersiapkan menjadi leader. Bukan hanya memahami sejarah, tetapi juga mampu mengambil peran dan membawa perubahan di tengah masyarakat,” katanya.
Ia mengatakan tantangan Aceh saat ini berbeda dengan masa konflik. Karena itu, bentuk perjuangan generasi muda juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Pendidikan, pembangunan, pengabdian kepada masyarakat dan keterlibatan dalam kehidupan sosial serta politik, menurutnya, menjadi bagian dari ruang perjuangan generasi muda di era perdamaian.
“Perjuangan hari ini adalah bagaimana kita mengisi perdamaian, membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Pang Kade berharap peserta Japakeh tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan. Nilai kepemimpinan dan pengabdian yang diberikan selama pembekalan diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Sebab, regenerasi kepemimpinan tidak lahir hanya dari slogan. Ia membutuhkan kader yang memahami sejarah, membaca perubahan dan berani mengambil tanggung jawab di tengah masyarakat.
Pelatihan Kader Penggerak Nanggroe Japakeh berlangsung selama dua hari, 15–16 September 2026, di Aula Kantor Partai Aceh Pidie Jaya.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pembekalan bagi pemuda untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam kehidupan sosial dan pembangunan Aceh. [Mul]








