Oleh: Dr. Safwan, S. Pd.I, M. Ag. ( Akademisi)
Usia 515 tahun Kabupaten Pidie seharusnya dirayakan dengan rasa bangga sebagai tanah yang melahirkan banyak ulama, pahlawan nasional, dan pemikir besar. Namun, angka setengah milenium ini justru menghadirkan ironi tajam. Kritik dari akademisi Dr. Safwan, S.Pd.I., M.Ag. mengenai “Krisis Figur Nasional” asal Pidie membuka mata kita bahwa daerah ini sedang mengalami kemunduran daya tawar politik, baik di tingkat Provinsi Aceh maupun di kancah nasional (Senayan).
Ketika tidak ada lagi tokoh Pidie yang memimpin partai politik utama di tingkat provinsi atau duduk sebagai perwakilan di DPR RI (Dapil Aceh 1), maka rantai aspirasi dan pengaruh strategis pun terputus.
Menjadikan “Meutaloe Wareh” Bukan Sekadar Slogan
Selama ini, filosofi Meutaloe Wareh (ikatan kekerabatan masyarakat Aceh) sering kali hanya berhenti sebagai romantisme kultural dan jargon pemanis bibir saat momen silaturahmi. Padahal, jika direvitalisasi secara modern, konsep ini merupakan modal sosial yang sangat kuat untuk membangun konsolidasi politik dan ekonomi.
Krisis figur yang melanda Pidie bukanlah karena kekurangan orang cerdas. Pidie memiliki ribuan intelektual, birokrat, pengusaha, dan profesional hebat. Masalah utamanya terletak pada lemahnya konsolidasi internal, fragmentasi politik lokal, dan ego sektoral yang membuat potensi besar tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang terpadu.
Langkah Konkret Diaspora Pidie di Perantauan
Menjawab tantangan mendesak ini, para tokoh dan diaspora Pidie di perantauan memegang kunci strategis untuk membalikkan keadaan melalui beberapa langkah konkret:
Membentuk Talent Pool dan Jaringan Kaderisasi: Diaspora yang sukses di berbagai sektor nasional (pemerintahan, akademisi, korporasi, hukum) perlu mendata, memetakan, dan membina generasi muda potensial asal Pidie untuk disiapkan menjadi calon pemimpin masa depan.
Transformasi Meutaloe Wareh Menjadi Network Capital: Mengubah ikatan emosional kekerabatan menjadi jaringan profesional yang saling mendukung, di mana para diaspora senior aktif memberikan bimbingan (mentorship) dan jalan karier bagi generasi penerus.
Konsolidasi Pendanaan dan Strategi Politik: Menggalang sinergi lintas sektor untuk mendukung kader-kader terbaik Pidie secara moral maupun logistik ketika mereka tampil dalam kontestasi politik, sehingga mereka tidak berjuang sendirian di medan laga.
Menjadi Jembatan Penghubung (Lobbying Power): Memanfaatkan posisi strategis diaspora di pusat kekuasaan untuk mengalirkan program pembangunan, investasi, dan perhatian kebijakan nasional langsung ke Kabupaten Pidie.
Refleksi 515 tahun Pidie harus dibaca sebagai alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat—baik di kampung halaman maupun di perantauan. Sudah saatnya ego lokal diredam, simpul meutaloe Wareh dirajut kembali secara profesional dan visioner, demi mengembalikan Pidie sebagai episentrum peradaban dan kepemimpinan di Aceh. []









