MEUREUDU — Dua kursi DPRK yang berhasil diraih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Pidie Jaya pada pemilu terakhir tampaknya tidak lagi dipandang sebagai titik akhir. Dari capaian tersebut, PKB mulai memasang sasaran lebih tinggi: empat kursi DPRK pada pemilu mendatang.
Target itu bukan sekadar menambah angka keterwakilan. PKB ingin memperluas jejak politiknya dari wilayah yang selama ini menjadi basis keterwakilan menuju seluruh daerah pemilihan.
Pesan tersebut disampaikan Ketua DPC PKB Pidie Jaya, H. Muhammad Ridha ST MM (Oja), saat membuka Musyawarah Anak Cabang (Musancab) DPAC PKB se-Pidie Jaya di Hotel Ananda Meureudu, Sabtu (19/9/2026).
Sekitar 50 kader hadir dalam forum tersebut. Delapan kecamatan menjadi sasaran konsolidasi struktur, sekaligus menjadi ruang bagi PKB untuk menguji kesiapan mesin organisasinya menghadapi kontestasi politik berikutnya.
Oja menilai, membangun partai tidak cukup dengan sekadar memiliki kepengurusan di atas kertas. Struktur harus menjadi jaringan kerja yang hidup dan mampu menjangkau masyarakat.
“Kita harus terus maju. Ini momentum kita menyusun struktur DPAC se-Pidie Jaya yang kompeten. Sama-sama kita bekerja membangun, di mana yang kurang kita tutupi dan yang lebih kita berbagi,” kata Oja.
Di balik agenda Musancab, PKB menyampaikan satu target yang cukup jelas: satu kursi di setiap dapil.
“Insyaallah dengan kebersamaan kita mampu mencapai empat kursi di parlemen Pidie Jaya. Satu dapil satu kursi harus kita rebut,” ujarnya.
Target tersebut memperlihatkan perubahan orientasi PKB. Jika sebelumnya perjuangan lebih banyak berkutat pada mempertahankan kursi yang sudah diperoleh, kini partai mulai berbicara tentang ekspansi.
PKB mencatat perkembangan dari satu kursi pada periode sebelumnya menjadi dua kursi pada pemilu terakhir. Capaian itu kini dijadikan pijakan untuk mengejar dua kursi tambahan.
Oja secara khusus menyebut dapil yang sudah memiliki keterwakilan dan dapil yang belum berhasil menghasilkan kursi bagi PKB.
“Untuk dapil satu dan dua yang sudah ada keterwakilan di parlemen, kita harus menambah dukungan masyarakat dan mempertahankan kursi yang telah ada. Dapil tiga dan empat ke depan harus mampu mendapatkan kursi,” katanya.
Dengan demikian, tantangan PKB bukan hanya mempertahankan dua kursi yang sudah berada di parlemen. Partai juga harus menemukan basis suara baru di dapil yang selama ini belum memberikan keterwakilan.
Di titik inilah konsolidasi struktur menjadi penting. DPAC yang dibentuk di delapan kecamatan dituntut tidak berhenti sebagai perangkat administratif, tetapi menjadi ujung tombak komunikasi partai dengan masyarakat.
Oja menyadari target empat kursi membutuhkan kader yang tidak hanya aktif ketika momentum pemilu tiba.
Ia menekankan pentingnya merekrut orang-orang yang dianggap mampu bekerja dan memiliki komitmen membesarkan partai.
“Kita harus mengajak orang-orang pilihan, bekerja dengan ikhlas dan memberikan pengorbanan untuk kebangkitan PKB, khususnya di Pidie Jaya, umumnya untuk Aceh dan nasional,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa PKB sedang mencoba menggeser pola kerja dari sekadar mobilisasi menjelang pemilu menuju penguatan organisasi secara lebih berkelanjutan.
Sebab, target satu kursi di setiap dapil pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan partai membangun jaringan, mempertahankan pemilih yang sudah ada, sekaligus memperluas dukungan di wilayah baru.
Bagi PKB, pekerjaan rumahnya menjadi berlapis: mempertahankan dua kursi, mencari dua kursi baru, dan memastikan struktur partai di delapan kecamatan benar-benar bekerja.
Jika target empat kursi tercapai, peta kekuatan politik di parlemen tentu akan berubah. Namun, untuk sampai ke sana, PKB harus terlebih dahulu mengubah target politik menjadi suara pemilih di masing-masing dapil.
Oja menyebut perjuangan tersebut sebagai kelanjutan dari estafet yang telah dibangun Ketua DPC PKB periode sebelumnya, Hery Ahmadi.
“Estafet yang telah dibangun Ketua periode sebelumnya, Hery Ahmadi, harus mampu kita pertahankan dan kita tingkatkan untuk meraih kemenangan,” katanya.
Dengan kata lain, PKB tidak ingin capaian dua kursi menjadi batas pertumbuhan. Dua kursi dijadikan pijakan untuk membangun kekuatan yang lebih besar.
Di tengah target elektoral tersebut, Oja juga mengingatkan fungsi utama politik partai: membawa kepentingan masyarakat ke ruang pengambilan keputusan.
“Kita bantu suarakan hak-hak masyarakat melalui parlemen lewat politik,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting karena semakin besar target kursi yang dipasang, semakin besar pula tuntutan terhadap kader yang nantinya duduk di parlemen.
Bagi PKB Pidie Jaya, pekerjaan politik ke depan bukan hanya menghitung berapa kursi yang bisa diperoleh. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana struktur yang kini diperkuat mampu mengubah dirinya menjadi kekuatan politik yang nyata dan tetap memiliki hubungan dengan masyarakat.
Sekretaris DPW PKB Aceh, Tgk. Mujlisal S.Ag., M.H., saat membuka Musancab, menekankan bahwa soliditas organisasi menjadi salah satu kekuatan yang harus dibangun menghadapi agenda pemilu.
“Kita butuh soliditas, bergerak satu komando di bawah Muhaimin di DPP dan HRD untuk DPW PKB Aceh. Struktur kepengurusan mesin pemilu bersama-sama adalah kekuatan yang kita harapkan,” ujar Mujlisal.
Pesan tersebut menempatkan struktur DPAC bukan sekadar kelengkapan administratif partai, dalam konteks target empat kursi, struktur di tingkat kecamatan diharapkan menjadi bagian dari mesin kerja politik yang terkoordinasi.
Hadir dalam kegiatan itu Sekwil PKB Aceh Tgk Mujlisal Hasan, Anggota DPRA Hery Ahmadi, anggota DPRK Pidie Jaya Rusdy dan Faisal Gahru, serta Ketua Dewan Syuro PKB Pidie Jaya Tgk Zulfikar.[Mul]









