Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 9

redaksi by redaksi
09/10/2026
in Cerbung
0
Sang Kombatan [Jilid 2]

“Cukup pembahasan soal 2007. Aku tak ingin membahasnya lagi malam ini,” ujarku kemudian.

Suasana kemudian hening. Mustafa yang tadi bersemangat juga tak berani membantah. Aku kembali menarik nafas panjang. Namun, jika mau diakui, apa yang dipikirkan oleh Mustafa sebenarnya memang ada benarnya.

“Harusnya, ada martir yang mengingatkan kembali para penguasa di Aceh terkait alasan mengapa mereka berperang dan kenapa damai ini terjadi,” gumamku dalam hati.

“Dari perang bertransformasi ke politik. Dari gerilya ke puncak kekuasaan. Kini semua itu diraih tapi jati diri mereka justru hilang. Niat, tujuan dan cita-cita awal telah bergeser. Padahal, mereka menjadi penguasa karena perjuangan panjang dan tulang belulang rakyat dan rekan seperjuangan yang telah tiada.”

Tapi bagiku, riak kecil seperti pengawal di belakang cafe, adalah bola salju yang mengelidik. Bahkan juga ‘senjata’ yang akan memakan tuannya sendiri.

Aku kembali memandang Rusli, Mustafa dan Iwan secara bergantian. Aku menyayangi dan menghormati mereka sama seperti keluargaku sendiri. Setiap keputusan salah yang akan mereka ambil, juga akan menjadi penyeselanku di masa depan.

“Sebelum tamu dari belakang turun, aku ingin menceritakan satu hal kepada kalian. Maukah kalian mendengarkannya?” ujarku kemudian.

Mata Iwan terlihat berbinar. Ia membetulkan posisi peci hitamnya di kepala dan memasang wajah serius. Sedangkan wajah Mustafa terlihat rebih rileks. Demikian juga dengan Rusli, ia beberapa menepuk perut buncitnya hingga bersuara. Ketegangan yang barusan terjadi seolah dianggap angin lalu.

“Apakah kalian tahu, apa yang terjadi dengan Tentara DI/TII usai deklarasi GAM di Gunong Halimun?”tanyaku tiba-tiba.

Iwan menggeleng. Sedangkan Mustafa dan Rusli terdiam.

“Hanya sebahagian kecil yang bergabung dengan GAM. Sebahagian bersembunyi di tengah-tengah masyarakat. Membakar baju dan senjata serta memutuskan semua hubungan terkait DI/TII,” jawabku kemudian.

“Sebahagian lagi diburu dan terbunuh. Ini karena mereka dianggap pengkhianat dan terlibat langsung dalam Ikrar Lamteh. Mereka orang-orang yang dianggap bertanggungjawab dibalik kembalinya Aceh ke republic.”

“Mereka yang bergabung GAM, meninggal di awal-awal pertempuran fase GAM. Ada Ilyas Leubee dari Gayo. Ia meninggal di hutan dekat tempat kita ngopi malam ini. Ada almarhum Teungku Basyarah dari Bireuen. Juga mengalami nasib naas yang hampir sama.”

“Sedangkan Tentara DI/TII yang bersembunyi juga mengalami nasib tak kalah tragis. Dihantui trauma karena diburu, dicaci maki serta dicap pengkhianat. Mereka menanggung malu hingga akhir hayat.”

“Yang paling naas adalah kelompok ketiga. Mereka yang terlibat langsung dengan Ikrar Lamteh. Awalnya, hidup makmur karena digaji republic. Ada juga yang mendapatkan kebun teh di Jawa.”

“Namun saat GAM meletus, kelompok inilah yang dicari pertama. Bukan perang tentara republic, tapi membersihkan para pengkhianat Aceh. Inilah yang terjadi dan aku tak perlu menjelaskan apa yang terjadi kemudian,” kataku lagi.

Kami berempat terdiam cukup lama. Suara dedaunan jatuh dan deru kendaraan dari jalan raya sesekali terdengar melintas.

“Aku percaya kalian, setidaknya hingga malam ini, belum memutuskan apakah bergabung atau tidak, dengan kelompok di belakang tadi. Tapi satu hal yang harus diakui,” kataku.

“Menuntut keadilan bersenjata itu butuh waktu lama. Setidaknya paling sedikit itu, 20 tahun. Akan ada banyak kematiaan baru, kalian jika bergabung, juga akan seperti Ilyas Leubee dan Teungku Basyarah. Maka sebelum memilih, pikirkan anak dan keluargamu. Bukan sekedar hidupmu sendiri.”

“Mereka yang di belakang juga akan menjadi korban baru. Aceh akan kembali berkonflik. Kita pernah mengalaminya, dan itu keadaan paling sulit yang pernah kita rasakan.”

“Poin pentingnya, ketika kalian memutuskan kembali memegang senjata, maka lawan pertama adalah teman dan mantan rekan perjuangan kita sendiri. Ada banyak kawan kawan kita malu dan takut disebut mantan tantara nanggroe, pengkhianat atau orang yang publoe nanggroe,” ujarku lagi.

[Bersambung]

Baca Juga

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 6

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 7

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 8

 

 

 

Tags: Musa AMsang kombatanSang kombatan jilid 2
Previous Post

PKB Dorong Pansus Ijazah Gibran, Golkar Sebut Hanya Cukup Panggil KPU

Next Post

MUQ Aceh Selatan Borong Sederet Juara di EXPOSE III

Next Post
MUQ Aceh Selatan Borong Sederet Juara di EXPOSE III

MUQ Aceh Selatan Borong Sederet Juara di EXPOSE III

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

PMI Aceh Besar Siapkan 250 Kader Remaja untuk Hadapi Situasi Kemanusiaan

PMI Aceh Besar Siapkan 250 Kader Remaja untuk Hadapi Situasi Kemanusiaan

10/10/2026
Dinsos Aceh Besar Lakukan Sosialisasi DTSEN di Gampong Reuloh

Dinsos Aceh Besar Lakukan Sosialisasi DTSEN di Gampong Reuloh

10/10/2026
TIKAI, 31 Cerpen Agusni AH: Merawat Luka, Cinta, dan Ingatan dalam Balutan Kisah Aceh

TIKAI, 31 Cerpen Agusni AH: Merawat Luka, Cinta, dan Ingatan dalam Balutan Kisah Aceh

10/10/2026
Polda Aceh Kerahkan 1.820 Personel Amankan Muzakarah Ulama

Polda Aceh Kerahkan 1.820 Personel Amankan Muzakarah Ulama

10/10/2026
Kakanwil Kemenag Aceh Tekankan Pembatasan Penggunaan HP bagi Siswa di Langsa

Kakanwil Kemenag Aceh Tekankan Pembatasan Penggunaan HP bagi Siswa di Langsa

10/10/2026

Terpopuler

Sang Kombatan [Jilid 2]

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 9

09/10/2026

Rektor UIN Ar-Raniry Serahkan Motor Modifikasi untuk Mahasiswa Disabilitas

Dua Ceh Senior Siap Adu Syair di Didong Jalu, Win Kul Comeback Setelah Lama Vakum

Dinsos Abdya Pulangkan Lansia Terlantar Asal Nias ke Sumut

Lazuardi Muhammad Latif Kembali Dilantik sebagai Kaprodi Ilmu Hadis UIN Ar- Raniry

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com