Rindu berdiri dengan wajah memerah. “Saya pak,” katanya kemudian.
“Ya kamu. Silahkan sebutkan nama lengkap dan asal,” ujar dekan dari atas panggung dengan menggunakan pengeras suara.
“Yang keras suaranya ya,” kata dekan lagi.
Kaki Rindu sedikit goyang saat itu. Namun dia terlihat sangat anggun. Parasnya benar-benar menarik perhatian. Ia terdiam beberapa sesaat. “Nama saya Rindu Merdeka Saphonna, pak. Asal Aceh,” ujar dia kemudian dengan lantang.
Ucapan Rindu membuat suasana hening. “Coba diulang. Pendengaran saya kurang menangkap perkataanmu tadi,” ulang dekan.
“Rindu Merdeka Saphonna, dari Aceh pak,” kata Rindu mengulang. Kali ini lebih keras agar dekan tak lagi menyuruhnya mengulang nama. Rindu khawatir ejaan namanya akan menimbulkan pertanyaan tambahan dari dekan.
Dari atas panggung, dekan terlihat membetulkan letak kacamatanya. Mimiknya sedikit berubah ketika menangkat kata ‘Rindu Merdeka’ serta berasal dari Aceh.
“Saphonna itu apa artinya,” tanya dekan.
Rindu mengangguk. “Anak pertama pak,” balas Rindu. Jawaban Rindu dibalas dengan tepuk tangan dari yang hadir.
“Jadi kamu adalah anak pertama dari orangtuamu asal Aceh. Ayok, tepuk tangan semua untuk si Rindu Merdeka dari Aceh,” ujar dekan lagi dengan keras. Tepuk tangan meriah kembali terdengar bergemuruh. Kali ini wajah Rindu kembali memerah. Seolah hendak pingsan.
Dekan kemudian memberi aba-aba agar kembali tenang. “Rindu. Orangtuamu itu GAM ya,” ujar dekan kemudian dengan santai dan tersenyum.
Rindu sudah menyangka jika pertanyaan itu akan hadir setiap orang mendengarkan Namanya. Ini sudah dirasakannya sejak dia masih berusia sekolah dasar. Namanya sangat khas dan identik.
“Ya pak. Tapi saya lahir di era damai. Ayah saya kini hanya warga biasa,” kata Rindu lagi. Dekan tersenyum lebar mendengar penjelasan Maba tadi. Ia kagum jika perempuan itu memiliki mental yang sangat khusus.
Pandangan dekan kemudian menyorot sekeliling. Seperti orang yang mencari sesuatu. “Yang namanya Gusti siapa? Coba bangun,” ujar dekan dengan suara lantang sambil tersenyum.
“Itu di caping milik Rindu tertulis ‘Milik Gusti.’ Bapak ingin kenal dengan Gusti juga. Kalau punya keberanian, coba bangun,” tantang dekan di hadapan semua yang hadir. Kali ini sepertinya aku benar-benar kena batu.
[Bersambung]
Baca Juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 11
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 12
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 13
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)





