Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Barat Selatan

Fobia Bendera Bulan Bintang di Perayaan Maulid di Aceh

redaksi by redaksi
15/10/2026
in Lintas Barat Selatan, Opini
0
Fobia Bendera Bulan Bintang di Perayaan Maulid di Aceh

Oleh: [Rusman]

Ada pemandangan yang aneh setiap Maulid Nabi di Aceh dalam beberapa bulan terakhir. Di saat gampong-gampong berlomba mengibarkan umbul-umbul dan menghias meunasah atau masjid, ada satu bendera yang justru membuat sebagian aparatur menjadi alergi: Bendera Bulan Bintang.

Padahal Bendera Bulan Bintang itu bukan bendera asing. Ia adalah bendera yang sah secara hukum di Aceh. Ia telah diatur dalam Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh. Qanun yang lahir dari turunan langsung Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh dan MoU Helsinki 2005.

Tapi mengapa setiap ada warga yang mengibarkannya saat pawai Maulid, perayaan adat, atau di depan rumah, selalu muncul narasi “separatis”, “makar”, dan kemudian diturunkan paksa?

Maulid Adalah Momentum Keacehan

Maulid Nabi di Aceh bukan sekadar perayaan keagamaan. Ia adalah perayaan kebudayaan. Sejak zaman Sultan Iskandar Muda, Maulid dirayakan dengan khanduri, peusijuek, dan pengibaran panji-panji keislaman. Bendera Bulan Bintang sendiri memiliki akar sejarah dari bendera Kesultanan Aceh.

Mengibarkan Bulan Bintang saat Maulid adalah ekspresi identitas. Warga ingin mengatakan: Kami muslim, kami Aceh, dan kami cinta Rasulullah dengan cara keacehan kami. Tidak ada niat mengganti Merah Putih.

Fobia yang Harus Disembuhkan

Fobia ini lahir dari trauma masa lalu dan minimnya literasi regulasi. Sebagian pihak masih melihat Bulan Bintang dengan kacamata konflik 20 tahun lalu, bukan dengan kacamata perdamaian hari ini.

Menurunkan paksa Bulan Bintang saat warga sedang bershalawat dalam Maulid justru melukai dua hal sekaligus: melukai perasaan keacehan dan melukai semangat perdamaian.

Dan Untuk Rakyat Aceh, Mari Kibarkan Dengan Marwah

Namun demikian, di sisi lain, kita juga harus berbesar hati mengkritik diri kita sendiri.

Kecintaan pada Bendera Pusaka Aceh tidak boleh diekspresikan dengan cara yang salah, di tempat yang salah, dan dengan adab yang salah.

Kita menghimbau kepada seluruh rakyat Aceh:

Jangan kibarkan di bawah Merah Putih. Sesuai etika dan Qanun, Bulan Bintang adalah bendera ke-Acehan. Posisi Merah Putih harus selalu lebih tinggi, di sebelah kanan, dan menjadi bendera utama Negara. Bulan Bintang mendampingi, bukan menyaingi.

Jangan kibarkan di tempat yang tidak terhormat.
Jangan di tempat sampah, jangan di tanah berlumpur, jangan di belakang truk yang kotor, jangan sebagai alas duduk saat Maulid. Bendera ini adalah pusaka, ia punya marwah. Kibarkan di tempat yang bersih, tinggi, dan terhormat: di depan meunasah/masjid, di gapura gampong, di halaman rumah.

Jangan jadikan alat provokasi.
Jangan mengibarkan Bulan Bintang sambil meneriakkan ujaran kebencian kepada negara. Maulid adalah tentang akhlak Rasulullah. Kibarkan bendera itu sambil bershalawat, sambil berbagi sedekah, sambil menunjukkan bahwa orang Aceh itu beradab dan taat perdamaian.

Kibarkan sesuai waktu.
Kibarkan saat acara adat, budaya, dan keagamaan seperti Maulid, Khanduri Blang, dan HUT Aceh. Setelah acara selesai, simpan kembali dengan hormat, lipat dengan rapi, bukan dibiarkan sobek dan lusuh diterpa hujan berbulan-bulan.

Jika kita ingin bendera kita dihormati orang lain, maka kita sendiri yang harus menghormatinya lebih dulu.

Fobia aparat harus disembuhkan dengan dialog dan edukasi. Tapi kecintaan rakyat juga harus ditunjukkan dengan adab dan tata krama.

Mari kita kibarkan kedua bendera itu dengan bangga dan benar: Merah Putih sebagai kebanggaan Indonesia, Bulan Bintang sebagai marwah Aceh.

Dan satu hal yang paling prinsip dan tidak bisa ditawar-tawar:

Lambang Bangsa Jangan Ditempatkan Pada Sajian Makanan, Kendaraan dan Atau Tempat Yang Tidak Layak.

Baik itu Merah Putih sebagai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, maupun Bulan Bintang sebagai Lambang Pusaka Aceh, keduanya adalah simbol kehormatan yang memiliki marwah.

Sangat tidak elok, bahkan merupakan penghinaan, jika:

Dijadikan hiasan kue, nasi tumpeng, atau alas hidangan Maulid.
Bagaimana mungkin lambang yang kita hormati kita letakkan di tempat yang akan dipotong, diinjak remahnya, dan bercampur sisa makanan? Muliakanlah dengan tidak menjadikannya hiasan konsumsi.

Ditempel di bak truk sampah, bemper mobil yang berlumpur, knalpot, atau lantai kendaraan.
Kendaraan itu melaju di debu, lumpur, dan kotoran. Jangan biarkan Merah Putih dan Bulan Bintang berada di posisi yang hina dan kotor.

Diletakkan di tempat yang tidak layak:
Di bawah kaki, di dekat selokan, di tempat pembuangan, atau dibiarkan robek, pudar, dan terinjak-injak di jalan.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara dengan jelas melarang penggunaan lambang negara di tempat yang tidak layak. Etika yang sama juga berlaku untuk Bendera Aceh.

Jika kita marah ketika bendera kita dihina orang lain, maka kita harus lebih marah ketika kita sendiri yang menghinakannya dengan menempatkannya di tempat yang tidak layak.

Mari kita didik anak-anak kita di setiap perayaan Maulid: Hormati Merah Putih dengan mengibarkannya di tempat tertinggi dan paling bersih. Hormati Bulan Bintang dengan mengibarkannya dengan adab dan marwah. Bukan di piring makanan, bukan di bak truk, tapi di hati dan di tempat yang mulia.

Dan yang paling menyakiti marwah itu sendiri adalah: Apalagi untuk mengipas-ngipas orang berzikir dengan Bendera Bulan Bintang.

Kita sering melihat di beberapa perayaan Maulid, ketika jamaah kepanasan saat berzikir dan bershalawat, ada oknum yang mencabut Bendera Bulan Bintang dari tiangnya, lalu menjadikannya kipas untuk mengipas-ngipas orang yang sedang berzikir.

Selain itu, kita juga mengunakan media zikir maulid (Dikee) dengan membentang dan mengibarkan bendera seraya berzikir di jalan umum hingga menganggu akses lalulintas dan merugikan waktu para penguna jalan.

Ini adalah perbuatan yang sangat tidak elok dan merendahkan simbol Aceh sendiri.

Bendera Bukan Kipas. Bendera adalah lambang kehormatan, bukan alat untuk mengipas. Ketika Anda jadikan kipas, Anda sedang menurunkan marwah Bulan Bintang dari tiang kehormatan menjadi perkakas angin.

Menghina Majelis Zikir. Orang yang sedang berzikir itu sedang menyebut nama Allah SWT dan memuliakan Nabi Muhammad SAW. Masa kita mengipasinya dengan benda yang kita kibas-kibaskan sembarangan, yang ujungnya menyentuh tanah, keringat, dan debu? Itu tidak menghormati orang yang berzikir, dan tidak menghormati bendera itu sendiri.

Logika Terbalik. Jika kita cinta Bulan Bintang, kita jaga ia tetap berkibar gagah di atas. Bukan kita turunkan, kita lipat, lalu kita jadikan kipas untuk mengusir panas. Panas bisa diusir dengan kipas biasa, dengan kardus, dengan buku. Jangan korbankan marwah bendera pusaka untuk sekadar angin.

Himbauan tegas

Kepada panitia Maulid di seluruh Aceh, dari kota sampai gampong: Sediakan kipas yang layak. Kipas plastik, kipas kertas, kipas angin. Jangan pernah lagi izinkan siapapun, dengan alasan apapun, menggunakan Bendera Merah Putih maupun Bendera Bulan Bintang untuk mengipas-ngipas jamaah yang sedang berzikir.

Jika panas, itu adalah bagian dari perjuangan berzikir. Jika ingin mengipas, gunakan alat yang semestinya.

Muliakan Zikir Dengan Adab, Muliakan Bendera Dengan Tempatnya.

Bendera di tiang kehormatan. Kipas di tangan panitia. Jangan pernah tertukar.

Previous Post

Kapolres Pidie Perkuat Sinergi dengan Ulama, MPU Siap Dukung Pemeliharaan Kamtibmas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Fobia Bendera Bulan Bintang di Perayaan Maulid di Aceh

Fobia Bendera Bulan Bintang di Perayaan Maulid di Aceh

15/10/2026
Kapolres Pidie Perkuat Sinergi dengan Ulama, MPU Siap Dukung Pemeliharaan Kamtibmas

Kapolres Pidie Perkuat Sinergi dengan Ulama, MPU Siap Dukung Pemeliharaan Kamtibmas

15/10/2026
Ketua DPRK Abdya: Pengerukan Kolam Labuh Ujong Serangga Mendesak, Minta Prioritas di Tahun 2027

Ketua DPRK Abdya: Pengerukan Kolam Labuh Ujong Serangga Mendesak, Minta Prioritas di Tahun 2027

15/10/2026
DPRA Desak Aparat Keamanan Tak Agresif Tangani Pengibaran Bendera Bulan Bintang

DPRA Desak Aparat Keamanan Tak Agresif Tangani Pengibaran Bendera Bulan Bintang

15/10/2026
22 Nama Pengurus MPU Abdya Masa Khidmat 2026-2031 Diumumkan, Lulus Uji Kitab Kuning

22 Nama Pengurus MPU Abdya Masa Khidmat 2026-2031 Diumumkan, Lulus Uji Kitab Kuning

15/10/2026

Terpopuler

Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]

Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]

14/10/2026

Fobia Bendera Bulan Bintang di Perayaan Maulid di Aceh

Bendera, Antara Eksploitasi Warga dan Mainan Elite

Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 2]

Bupati Tembus Bappenas, SKPK Pidie Jaya Kembali Usulkan Revisi R3P

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com