Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Banjir Aceh Bukan Takdir! Forum Reformis Muda Bongkar Kegagalan Pemerintah Menjaga Hutan

redaksi by redaksi
03/11/2026
in Nanggroe
0
Banjir Aceh Bukan Takdir! Forum Reformis Muda Bongkar Kegagalan Pemerintah Menjaga Hutan

JAKARTA – Banjir yang kembali mengepung sejumlah wilayah di Aceh bukan lagi sekadar persoalan cuaca ekstrem. Bencana yang terus berulang setiap tahun itu dinilai menjadi alarm keras atas buruknya tata kelola lingkungan dan lemahnya keberanian pemerintah dalam menghentikan eksploitasi hutan.

Kritik keras tersebut disampaikan Perwakilan Forum Reformis Muda Aceh, Sulthan Aminy, Senin 2 November 2026.

Ia menilai pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota belum menunjukkan langkah serius dalam mengantisipasi bencana ekologis, termasuk menindak aktivitas yang berpotensi merusak kawasan hutan.

Menurut Sulthan, terlalu mudah bagi pemerintah menyebut banjir sebagai bencana alam tanpa membongkar persoalan mendasar di baliknya. Alih fungsi hutan, eksploitasi sumber daya alam, serta lemahnya pengawasan lingkungan harus menjadi bagian dari evaluasi serius.

“Di tengah klaim bahwa Indonesia adalah negara demokrasi dan rakyat memiliki kendali atas negara, justru hutan yang menjadi paru-paru kehidupan terus dikorbankan. Hutan Kalimantan, Papua hingga Aceh mengalami tekanan. Pertanyaannya, siapa yang menikmati keuntungan dari eksploitasi tersebut dan siapa yang harus menanggung bencananya?” tegas Sulthan.

Ia menegaskan, banjir yang berulang tidak boleh terus-menerus dipandang sebagai fenomena alam biasa. Ada persoalan ekologis dan kebijakan yang harus dibuka secara terang-terangan.

“Secara religi, memang benar Tuhan memberikan cobaan. Namun, kita juga harus berani melakukan introspeksi. Mengapa bencana terus berulang? Jangan sampai kerusakan alam akibat keserakahan dan kepentingan segelintir pihak justru dibungkus dengan narasi takdir,” ujarnya.

Sulthan menyebut, ketika hutan kehilangan fungsi ekologisnya, masyarakat menjadi pihak paling rentan. Warga kehilangan rumah, mata pencaharian, lahan pertanian, bahkan harus meninggalkan tempat tinggal untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, tanggung jawab atas kerusakan lingkungan kerap tidak jelas ujungnya.

Berdasarkan catatan Forum Reformis Muda Aceh, banjir yang terjadi saat ini melanda sejumlah wilayah, di antaranya Aceh Barat, Aceh Selatan, Pidie Jaya, Gayo Lues, Nagan Raya, serta daerah lainnya. Sebagian masyarakat masih menghadapi genangan dan terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Atas kondisi tersebut, Forum Reformis Muda Aceh mendesak pemerintah pusat dan daerah agar tidak menjadikan istilah bencana alam sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab.

Pemerintah diminta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh izin pengelolaan lingkungan, menindak tegas praktik eksploitasi hutan yang melanggar aturan, memperketat pengawasan kawasan hutan, serta memulihkan fungsi ekologis hutan Aceh.

“Jangan tunggu korban semakin banyak baru pemerintah sibuk turun ke lapangan. Penanganan banjir tidak cukup dengan bantuan darurat dan pembangunan tanggul. Akar persoalannya harus diselesaikan. Selama kerusakan lingkungan dibiarkan, masyarakat Aceh akan terus hidup dalam ancaman banjir yang sama setiap tahunnya,” tutup Sulthan.

Forum Reformis Muda Aceh menegaskan bahwa keselamatan rakyat harus ditempatkan di atas kepentingan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam. Sebab, ketika hutan terus dirusak dan pengawasan melemah, masyarakatlah yang akhirnya membayar mahal harga dari kegagalan tata kelola lingkungan.[Mul]

Previous Post

SMAN 1 Tapaktuan Kembali Gelar FEAST IV 2026, Pendaftaran Resmi Dibuka

Next Post

Bukan Sekadar Lomba Alquran, MTQ Pidie 2026 Ditargetkan Hidupkan Ekonomi Warga

Next Post
Bukan Sekadar Lomba Alquran, MTQ Pidie 2026 Ditargetkan Hidupkan Ekonomi Warga

Bukan Sekadar Lomba Alquran, MTQ Pidie 2026 Ditargetkan Hidupkan Ekonomi Warga

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mualem Minta Pusat Tuntaskan Tiga Hal untuk Aceh

Mualem Minta Pusat Tuntaskan Tiga Hal untuk Aceh

03/11/2026
Nyan, Inflasi Aceh di Oktober 2026 Capai 5,05 Persen

Nyan, Inflasi Aceh di Oktober 2026 Capai 5,05 Persen

03/11/2026
Ohku, Pria 59 Tahun di Banda Aceh Ditangkap Atas Dugaan Pencabulan Anak Dibawah Umur

Ohku, Pria 59 Tahun di Banda Aceh Ditangkap Atas Dugaan Pencabulan Anak Dibawah Umur

03/11/2026
Nezar Patria: Startup Aceh Harus Ubah Posisi Selat Malaka Jadi Peluang Pasar Global

Nezar Patria: Startup Aceh Harus Ubah Posisi Selat Malaka Jadi Peluang Pasar Global

03/11/2026
Menko Polkam: Perdamaian Aceh Adalah Aset Berharga yang Harus Dijaga

Menko Polkam: Perdamaian Aceh Adalah Aset Berharga yang Harus Dijaga

03/11/2026

Terpopuler

Saat Kenduri Maulid Jadi Panggung Perlawanan

Saat Kenduri Maulid Jadi Panggung Perlawanan

02/11/2026

Sukandi Salah Minum Obat : Abas Jadi Corong Ala, Farid Wajidi Bongkar Kejanggalan Pengurus Nya

Ohku, 81 Situs Cagar Budaya Pidie Jaya Terancam, Masjid Berusia 400 Tahun Diterjang Lumpur

Setahun Pascabanjir Besar, 18 Gampong Pidie Jaya Kembali Dikepung Air

Enam Desa di Aceh Barat Terendam Banjir Akibat Luapan Sungai

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com