Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

Setelah 10 Tahun Wali Hasan Pergi, Bagaimana Aceh kini?

Atjeh Watch by Atjeh Watch
03/06/2020
in Opini
0
Setelah 10 Tahun Wali Hasan Pergi, Bagaimana Aceh kini?

Muhammad Zaldi

Oleh: Muhammad Zaldi*

SUDAH 10 Tahun Wali Hasan pergi sejak 03 Juni 2010 silam. Banyak kenangan atas segala perjuangan yang telah ia perjuangkan bersama pasukan yang kini hanya menyisakan kenangan. Sejak mendeklarasikan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976 di puncak Gunung Halimon, Hasan Tiro sudah menunjukan jati diri sebagai seorang Aceh. Tentang bagaimanaa seorang Aceh bersikap ketika bangsanya dijajah oleh Jawa (penulisan kata Jawa dalam tulisan ini bukan berarti rasis, pemahaman jawa dalam tulisan ini lebih merujuk pada sistem perpolitikan yang di praktekan kepada kaum minoritas pada masa itu).

Sakit yang serius, adalah kematian yang mendadak tulis Nezar Patria dalam buku Hasan Tiro The Unfinished Story of Aceh. Wali Hasan tidak pernah mau terlihat sakit, tak seorangpun pengikutnya di Aceh tahu bagaimana kondisinya setelah terkena stroke. Beliau hidup tersembunyi di apartemen yang sunyi di Norsborg. Jauh sebelum memulai perjuangannya, Wali Hasan sempat berada pada situasi eksistensial. Suatu pilihan sulit, antara yang kini mapan dan yang tak pasti di masa depan. Dalam kegamangan itu, pada suatu hari Wali Hasan terpaku pada satu rak di toko buku di Fifth Avenue, New York. Matanya tak lepas mengeja karya filsuf eksistensialis Jerman, Friedrich Nietzsche. Ia terbenam dalam aporisme Thus Spoke Zarathustra. Jiwanya terpanggil, terus-menerus mencengkeram pikirannya. Seperti Aceh yang terus menerus memanggilnya.

Kini Wali Hasan sudah tiada, ia meninggalkan pemikiran dan hasil perjuangan seperti yang kita rasakan sekarang. Apa yang masyarakat Aceh rasakan hari ini adalah mutlak hasil dari perjuangan kelompok yang dipimpin oleh Wali Hasan. Terlepas dari berbagai pandangan bahwa  perdamaian hanya milik segelintir kelompok, tapi hal itu tidak menjadi dasar pembenaran. Jika masyarakat Aceh berpikir demikian, maka ini adalah wujud ada campur tangan pihak luar untuk memperkeruh suasana dan membuat perdebatan pada kita sesama Aceh.

15 Agustus 2005 bukanlah akhir dari perjuangan, itu hanya fase jeda dan transisi untuk merubah arah dari perang senjata ke perang politik. Sungguh jika itu hal yang menurut penulis pahami akan menjadi satu langkah yang konkrit jika memang mampu di realisasikan butir-butir MoU Helsinki seutuhnya. Pastinya langkah dalam mewujudkan terealisasinya butir-butir itu tidak akan berjalan mulus dan penuh hambatan, karena sejatinya setiap yang menghambat terealisasinya butir-butir MoU ini adalah orang-orang yang tidak senang atau dalam kata lain “Musuh” bagi kemaslahatan rakyat Aceh.

Bagaimana kondisi Aceh kini pasca 10 tahun Wali Hasan pergi? Aceh kini tidak lebih baik dari Aceh tempo dulu. Pada beberapa aspek seperti pembangunan cenderung berubah signifikan. Karena sejatinya kita manusia mudah melihat dan menilai pada yang tampak. Namun berbeda pada aspek-aspek lain seperti SDM, Ekonomi, Sosial dan Politik serta beberapa aspek lain yang hingga kini berjalan sangat lamban. Padahal MoU Helsinki sudah mengatur tentang beberapa aspek yang penulis sebutkan. Konon beberapa bulan lalu sudah terbentuk sebuah tim yang di ketuai oleh Moeldoko untuk menyelesaikan pelbagai butir MoU Helsinki. Namun prosesnya stagnan.

Sebenarnya, apakah rakyat Aceh bisa sejahtera? Atau tak boleh sejahtera? Tentu dua pertanyaan ini bukan hanya terlahir dalam pemikiran penulis, dan pastinya dalam pikiran para pembaca sudah lebih dulu berpikir demikian. Jika di tanyai bisa sejahtera atau tidak, maka penulis akan menjawab sangat bisa dan pasti bisa. Mengapa? Sebab sedari belum terbentuknya negara ini, Aceh sudah lebih dulu ada dengan statusnya sebagai sebuah bangsa terpandang yang di segani oleh dunia. Lantas, atas dasar apa Aceh tidak bisa sejahtera? Sedangkan di negeri ini, berharap bahagia datang dari pemerintah itu rasanya riskan. Tinggal bagaimana kepekaan dan action dari pemerintah saja.

Lalu, jika di tanya apakah rakyat Aceh tak boleh sejahtera? Dengan berat hati penulis menjawab iya, Aceh tak boleh sejahtera. Banyak kepentingan pihak lain yang tidak akan berjalan sebagaimana mestinya bila bangsa Aceh sejahtera. Padahal seccara letak geografis, daerah Aceh sangat strategis. Secara sumber daya alam (SDA) Aceh sudah tidak diragukan lagi, sumber daya manusia selalu saja di jadikan problem. Bagaimana ingin maju, jika SDM-nya tidak terlatih dengan diberikan pemahaman di bidang terkait. Mengapa setelah konflik berkepanjangan kita tidak fokus pada peningkatan sumber daya manusia, yang hasilnya akan bersifat jangka panjang. Hingga nanti pada bidang-bidang seperti teknologi, perminyakan, batu bara, sosial, politik, nantinya akan diisi oleh semua SDM lokal dengan memanfaarkan SDA yang ada.

Tapi lupakanlah, itu hanya ilusi dan harapan dari penulis. Hal ini di dasari pada kekaguman penulis dengan sosok Wali Hasan yang rela meninggalkan hal paling esensial pada manusia yakni harta dan keluarga. Perjuangan Wali Hasan hingga kini terus ada, ia telah membuka ribuan mata kaum muda bangsa Aceh. Generasi muda Aceh, kini lebih di Turi droe dan di Tusoe droe dan mengetahui standar manusia merdeka berkat pemikiran dan perjuangan Wali Hasan. Semoga apa yang beliau telah perjuangkan akan terus di perjuangkan oleh para pengikutnya tempo dulu dan generasi di masa depan. Hingga di masa kembali kejayaan Aceh nantinya akan di pimpin oleh pemimpin yang memahami bagaimana seharusnya menjadi seorang Aceh seperti Wali Hasan, yang kelak akan menjadi “New Hasan”. Akankah? Alfatihah.

*Penulis merupakan Founder Political Institute dan Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry.

Email : Muhammadzaldi1001@gmail.com

Tags: opiniwali nanggroe
Previous Post

Kampung Timang Gading Salurkan BLT Bulan Kedua

Next Post

Mualem: Partai Aceh Terbuka dan Siap Berkoalisi

Next Post

Mualem: Partai Aceh Terbuka dan Siap Berkoalisi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

DPRK Banda Aceh Tampung Aspirasi Penyandang Disabilitas

DPRK Banda Aceh Tampung Aspirasi Penyandang Disabilitas

25/05/2026
Tidak Didukung Pemerintah Aceh, Seniman Gadai Kendaraan dan Emas Demi Tampil di Luar

Tidak Didukung Pemerintah Aceh, Seniman Gadai Kendaraan dan Emas Demi Tampil di Luar

25/05/2026
Satgas Saber Abdya Cek Keamanan dan Mutu Pangan Jelang Idul Adha

Satgas Saber Abdya Cek Keamanan dan Mutu Pangan Jelang Idul Adha

25/05/2026
Pemko Banda Aceh kembali Gelar Pasar Murah Daging Meugang Rp150 Perkilogram

Pemko Banda Aceh kembali Gelar Pasar Murah Daging Meugang Rp150 Perkilogram

25/05/2026
Jelang Idul Adha, Pemkab Pidie Jaya Gelontorkan Pangan Murah Tekan Lonjakan Harga

Jelang Idul Adha, Pemkab Pidie Jaya Gelontorkan Pangan Murah Tekan Lonjakan Harga

25/05/2026

Terpopuler

Sabtu Malam, Listrik Kembali Padam di Pesisir Aceh Besar

Tuanku Muhammad Minta Sistem Kelistrikan Aceh Merdeka dari Sumbagut

24/05/2026

Pemko Banda Aceh Serahkan Bonus kepada Kafilah Berprestasi

Tidak Didukung Pemerintah Aceh, Seniman Gadai Kendaraan dan Emas Demi Tampil di Luar

Jelang Libur Iduladha, Pesantren Al Zahrah Lakukan Terobosan Baru Ini!

PLN Aceh Terapkan Pemadaman Bergilir

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com