Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Pariwisata

Melihat Memek Simeulue dari Filosofi

Admin1 by Admin1
26/09/2019
in Pariwisata
0

SIMEULUE – Beberapa waktu lalu kuliner memek khas Simeulue sempat ramai perihal namanya yang dianggap provokatif. Padahal, kuliner ini ternyata sarat filosofi.

Pada 29 Agustus hingga 5 September 2019 lalu Tim detikcom bersama Bank BRI datang ke Pulau Simeulue di Provinsi Aceh dan melihat berbagai ragam budaya di sana. Salah satu yang menarik adalah tentang kuliner memek khas Simeulue yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Secara kata, kuliner memek ini memang merap dikonotasikan dengan alat kelamin wanita atau sesuatu yang bermakna negatif. Padahal, makanan yang masuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2019 ini punya arti yang sangat berbeda.

Hal itu pun diluruskan oleh Kadispar Simeulue, Abdul Karim saat dijumpai detikcom di kediamannya. Dijelaskan olehnya, bahwa memek itu berasal dari bahasa Simeulue yang sama sekali tidak negatif.

“2019 ini makanan tradisional kami memek sudah dipatenkan. Itu artinya bahwa rekan-rekan di luar sana mendengar kata memek mohon jangan dikonotasi dengan kata lain, tapi memek itu adalah bahasa kami yang berarti mengunyah beras,” ujar Karim.

Diceritakan oleh Karim, dahulu masyarakat Simeulue kerap menghabiskan banyak waktu untuk berjalan kaki ke rumah kerabat atau sanak saudara. Begitu pun kalau ke masjid yang dulu masih belum sedemikian banyak. Mereka pun membawa beras ketan di jalan untuk bekal.

“Dulu kalau jalan ke masjid dari rumah itu jauh. Mau Jumatan jalannya bisa satu sampai dua hari lamanya. Mereka itu bawa beras untuk dikunyah atau dimakan di jalan. Buat isi perut saja,” ujar Karim.

Agar tahan lama, beras ketan yang tadinya basah pun disangrai sampai kering dan berwarna merah kekuningan. Setelah sampai pada proses itulah, beras ketan jadi lebih awet dan dapat dikonsumsi lebih lama.

“Mereka bawa beras lalu jalan ke hutan, nemu pisang. Wah, ini enak juga dimakan dengan beras,” lanjut Karim.

Dalam prosesnya, masyarakat Simeulue pun mencampurkan beras ketan yang telah disangrai dengan pisang untuk memperkaya rasanya. Tak cuma itu, mereka pun lalu mencampurkan air santan kelapa untuk memperkaya rasanya.

Dari proses panjang itulah, kemudian kuliner memek lahir. Untuk memakannya, traveler pun harus mengunyah beras ketan atau melakukan kegiatan memek dalam bahasa Simeulue sebelum dapat menelannya.

Mungkin sensasinya seperti makan sereal dengan susu, hanya saja lebih kaya rasa dan sarat karbohidrat serta protein dari pisang. Di Simeulue, kuliner ini pun dijual seharga Rp 5 ribu saja untuk satu gelas.

Selain di pusat Kota Sinabang, traveler bisa menjumpai kuliner memek di sejumlah tempat wisata seperti Pantai Lantik dan lainnya. Jadi, memek khas Simuelue bukan sesuatu yang negatif ya.

Sumber: detik.com

Tags: memek simeuluesimeulue
Previous Post

Operasional Perbankan di Wamena Masih Lumpuh

Next Post

Ribuan Demonstran Menyemut di DPR Aceh

Next Post

Ribuan Demonstran Menyemut di DPR Aceh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Ahmad Heryawan Dorong Penyelesaian Konflik Agraria Secara Adil Bagi Petani Aceh Timur

Ahmad Heryawan Dorong Penyelesaian Konflik Agraria Secara Adil Bagi Petani Aceh Timur

10/06/2026
Bupati Al-Farlaky Buka Pelatihan Petugas Sensus Ekonomi 2026 Aceh Timur

Bupati Al-Farlaky Buka Pelatihan Petugas Sensus Ekonomi 2026 Aceh Timur

10/06/2026
Ohku, 56 Izin Tambang Terbit dalam 5 Tahun, Aceh Menuju Darurat Ekologis?

Ohku, 56 Izin Tambang Terbit dalam 5 Tahun, Aceh Menuju Darurat Ekologis?

10/06/2026
Plt Sekda Lantik 50 Pejabat Fungsional Tenaga Kesehatan dan Guru

Plt Sekda Lantik 50 Pejabat Fungsional Tenaga Kesehatan dan Guru

10/06/2026
Dolar Turun Tipis, BBM Melambung Tinggi: Rakyat Kecil Lagi-Lagi Jadi Korban

Dolar Turun Tipis, BBM Melambung Tinggi: Rakyat Kecil Lagi-Lagi Jadi Korban

10/06/2026

Terpopuler

14 Gampong Belum Ajukan Dana Desa Tahap I, Karena Tuha Peut dan Syarat Pendamping Desa

14 Gampong Belum Ajukan Dana Desa Tahap I, Karena Tuha Peut dan Syarat Pendamping Desa

04/06/2026

Pesantren Jadi Lokomotif Pertanian Modern, IPB Kenalkan Varietas Padi Cerdas Iklim di Pidie Jaya

Cita-cita Anak Desa Jadi Bupati

HUT Pidie Jaya 2026: Antara Perayaan, Pemulihan Pascabencana dan Penguatan Syariat

Syeh Do: Rapai Uroh Miliki Harmoni Unik yang Tidak Dimiliki Kesenian Lain

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com