Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Soal Penanganan Covid di Aceh, Pengamat: Dana Banyak Tapi Kemampuan Kurang

Admin1 by Admin1
10/08/2020
in Nanggroe
0
Covid-19 Aceh: Puskesmas Harusnya Jadi Ujung Tombak Penanganan

Nasrul Zaman

BANDA ACEH – Pengamat Pemerintah Aceh, Nasrul Zaman, menilai kinerja tim gugus Covid-19 di Aceh masih sangat lemah. Padahal, kata dia, anggaran penanganan Covid-19 di Aceh termasuk paling besar di Indonesia.

‘Dana besar tapi kemampuan kurang,” ujar Nasrul Zaman.

Menurutnya, terdapat lima provinsi yang mengalokasikan dana yang besaruntuk penanganan Covid-19.

Lima provinsi itu masing-masing Jakarta (Rp 10.640.901.596.980), Jawa Barat (Rp 8.013.708.790.648), Jawa Timur (Rp 2.391.097.521.006), Jawa Tengah (Rp 2.126.915.747.000) dan Aceh (Rp 1.792.367.796.000).

“Alangkah lega rasanya jika kemampuan Refocusing itu juga menurun pada kemampuan membangun strategi penanganan dan pencegahan covid-19 di Aceh.”

“Kita berharap dana sebesar itu mampu membangun gerakan bersama yg hebat dalam penanganan dan pencegahan covid-19.”

“Namun apa yang kita temukan sekarang, Pemprov Aceh belum membangun kerjasama yang berkesinambungan dan saling menguatkan dengan dua laboratorium PCR yang ada yaitu Lab FK Unsyiah dan Lab Litbangkes. Buktinya lab Litbangkes saat ini sudah berhenti sedang lab Unsyiah sampai saat ini belum meningkat kapasitas kemampuan periksanya yaitu 200-500 sample/hari saja.”

“Bukankah untuk mempercepat kemampuan melokalisir covid-19 maka yang perlu dilakukan adalah melakukan swab massal pada seluruh yang terkait dengan cluster terbentuk. Untuk itu kita rasanya tidak perlu persoalkan ada penambahan unit laboratorium, tapi cukup dengan menambah kapasitas periksa kedua lab tersebut hingga 1000-2000 sample per hari. Bukan malah mendiamkan lab litbangkes tutup seperti sekarang ini,” ujarnya lagi.

Kata Nasrul, kalau melihat trend grafik jumlah angka positif pada gugus tugas covid Aceh yang terus menaik, maka sulit bagi semua pihak untuk memprediksikan kapan waktunya akan turun karena ketidak mampuan melakukan blocking-blocking sebaran paparan di komunitas warga terutama pada komunitas yang sudah dinyatakan positif dalam waktu yang cepat.

“Saya berharap Pemerintah Aceh tidak boleh lambat dan kaku dalam bersikap untuk percepatan penanggulangan dan [encegahan covid-19 ini semakin mewabah di masyarakat.”

“Ada dua hal besar yang harus dilakukan. Pertama, lakukan edukasi pada warga secara TSM (terstruktur, sistematis dan massif). Sedangkan yang kedua, bangun unit laboratorium lain di 3 wilayah Aceh (Tenggara, Selatan dan Timur Aceh) atau tingkatkan kapasitas kemampuan periksa dari kedua lab yang telah ada sehingga setidaknya Aceh mampu memeriksa 1000-2000 sample/hari.”

“Untuk kerja dua kegiatan besar tersebut Pemerintah Aceh pasti tidak mampu melakukannya sendiri, oleh karena itu mari libatkan seluruh stakeholder secara resmi dan terikat dengan target-target tertentu. Harus dibangun kerjasama dengan seluruh ulama Aceh, dayah di Aceh, PTN/PTS yang ada, Ormas, OKP, Organisasi profesi (IDI, PPNI, dll) yang bergerak untuk melakukan edukasi secara massif di seluruh lapisan masyarakat Aceh. Jangan sampai masih ada warga yang malah mengira covid-19 ini adalah hoax semata,” katanya.

Previous Post

PPBTPI Minta Pemerintah Aceh Berpihak Pada Perusahaan Kelapa Lokal

Next Post

Heboh Awan Tsunami di Langit Meulaboh

Next Post

Heboh Awan Tsunami di Langit Meulaboh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Lembaga Wali Nanggroe Identifikasi Hukum Materiil Peradilan Adat di Aceh Barat

Lembaga Wali Nanggroe Identifikasi Hukum Materiil Peradilan Adat di Aceh Barat

04/08/2026
PKB Pidie Jaya Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Dayah Istiqamatuddin

PKB Pidie Jaya Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Dayah Istiqamatuddin

04/08/2026
Kebakaran Hanguskan Kompleks Dayah di Bandar Dua

Kebakaran Hanguskan Kompleks Dayah di Bandar Dua

04/08/2026
Ancaman Narkotika, BNN Aceh Teken MoU dengan Pemerintah Abdya Bentuk BNNK

Ancaman Narkotika, BNN Aceh Teken MoU dengan Pemerintah Abdya Bentuk BNNK

04/08/2026
Fraksi Kebangkitan Pembangunan dan Demokrasi Desak Bupati Evaluasi SKPK Pijay

Fraksi Kebangkitan Pembangunan dan Demokrasi Desak Bupati Evaluasi SKPK Pijay

04/08/2026

Terpopuler

Kapolres Pidie Jaya Kritik Evaluasi SKPK: Jangan Bicara Tanpa Data, Rakyat Berhak Tahu Kinerja Pemerintah

Kapolres Pidie Jaya Kritik Evaluasi SKPK: Jangan Bicara Tanpa Data, Rakyat Berhak Tahu Kinerja Pemerintah

03/08/2026

Soal Penanganan Covid di Aceh, Pengamat: Dana Banyak Tapi Kemampuan Kurang

Dari Atu Singkih ke Lembah Tidar: Alumnus Al Zahrah Lulus Akmil Setelah 3 Kali Gagal

Di Tengah Tuntutan Dua Bulan Penjara, IKA Unigha Desak Restorative Justice untuk Dua Mahasiswa

Lima Tahun Bertahan Tanpa Orang Tua, Lima Bersaudara di Pidie Jaya Pernah Dua Hari Menahan Lapar

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com