BANDA ACEH – Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Direktorat Cipta Karya Kementrian PUPR di Aceh pada tahun 2020 meliputi 438 gampong yang tersebar di 15 kabupaten/kota. Dari jumlah itu, 26 gampong di antaranya memperoleh dana bantuan pemerintah untuk masyarakat (BPM) masing-masing Rp 1 miliar melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang ada di setiap Gampong.
Dana BPM tersebut merupakan dana stimulus yang akan dimanfaatkan untuk membangun berbagai prasarana permukiman dalam rangka penanganan dan pencegahan kawasan kumuh.
Saat ini, beragam kegiatan penanganan dan pencegahan kawasan kumuh sedang dilakukan masyarakat yang dikoordinir oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dan didukung oleh pemerintahan gampong.
Program itu antara lain pembangunan jalan lingkungan, drainase lingkungan, akses air minum, persampahan, sanitasi, dan bahkan termasuk membangun rumah agar layak huni dan sarana pemadam kebakaran. Kegiatan itu tak hanya dibiayai dengan dana BPM KOTAKU, tapi juga kolaborasi dari berbagai pihak terkait lainnya.
Dalam Masa pandemi Covid-19 saat ini, masyarakat tetap melaksanakan pembangunan dalam pola padat karya dengan tetap melengkapi alat pelindung diri sesuai dengan standar minimal protokol Kesehatan dengan menggunakan Masker dan pengukuran suhu tubuh setiap pagi dan sore hari, Pekerja terlihat cukup bersemangat dan antusias untuk ikut terlibat dalam kegiatan program KOTAKU. Bagi warga masyarakat yang terdampak langsung akibat pandemi, program KOTAKU menerapkan pola Padat Karya Tunai dalam melaksanakan kegiatan infrastruktur pemanfaatan dana BPM.
Bidang-bidang pekerjaan yang dapat menampung tenaga kerja yang banyak, diupayakan sedapat mungkin untuk tidak menggunakan peralatan mesin atau alat berat, sehingga warga yang mengalami kehilangan mata pencaharian akibat terdampak wabah Corona mendapat kesempatan bekerja dan memperoleh penghasilan.
Menurut data dari Sistem Informasi Manajemen (SIM) Program KOTAKU, selama ini proses pembangunan infrastruktur berjalan dengan baik Skala Lingkungan maupun Skala Kawasan sudah dapat menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 884 orang dan sudah menyerap biaya tenaga kerja sebesar Rp 6,6 miliar.[]










