Bener Meriah – Pandemi Corona yang berlangsung hampir setahun lamanya memberikan dampak signifikan bagi petani kopi di dataran tinggi Gayo.
Pemerintah kabupaten dan provinsi pun dinilai belum memberikan solusi konkret untuk menggenjot kembali perekonomian petani kopi di daerah tersebut dan bahkan harga kopi juga terus terpuruk.
Hal ini disampaikan Muhammad Kasim (75). Menurutnya, tahun ini ia merasa jika perekonomian petani kopi sangat memprihatinkan.
“Untuk membayar tenaga kerja saja sudah tidak mampu lagi. Padahal saat panen tiba para petani butuh tenaga kerja untuk memetik buah kopi yang sudah memerah,” ujarnya.
Kasim menambahkan, Warga Kampung Pancar Jerobok Kecamatan Pintu Rime Kabupaten Bener Meriah setidaknya mempunyai kebun kopi yang luasnya bekisar dua hektar. Sebelum corona harga kopi gelondongan dibandrol mencapai Rp.12000/bambu, namun sekarang benar-benar turun drastis hingga Rp.7000/perbambu.
Bapak dari 10 orang ini juga merasa miris jika sampai saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan dari harga kopi,pemerintah provinsi sepertinya tutup mata terhadap penderitaan petani kopi.
“Pemerintah kabupaten dan provinsi terkesan lepas tangan atas apa yang dialami oleh para petani. Seharusnya pemerintah hadir saat seperti ini,” cetusnya.
“Seharusnya Pemerintah kabupaten maupun provinsi bisa membeli kopi kepada petani dengan harga seperti biasa agar masyarakat bisa terbantu di saat wabah corona seperti ini,” timpal Kasim.
Ia menambahkan, sampai saat ini Pemerintah Aceh belum pernah memberikan bantuan apapun kepada para petani yang terkena imbas dari pandemi. (DA)









