Penulis adalah Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc., MA. Ketua STAI Al Washliyah Banda Aceh
Hampir setiap Senin malam kepada saya diamanahkan mengajar Tasawuf dan Sirah Nabi di Mesjid Sububulussalam Gampong Punge Blang Cut. Tanpa terasa hampir enam tahun berjalan. Alhamdulillah.
Kitab yang digunakan dalam pengajian terkadang Kitab “Mukhtashar Ihya” karya Imam Al Ghazali. Lain waktu, kitab “Risalah Mu’awanah” karya Imam al Haddad. Sekali-sekali menggunakan kitab “Al Hikam” karya Imam Ibnu Athaillah al Sakandary.
Ada catatan menarik di Senin (28/12/2020) yang lalu. Saya berjumpa dengan pegiat Literasi Aceh yang konsen dengan dunia membaca bagi berbagai generasi.
Dalam sejarah panjang Aceh, bahkan dalam berkecamuknya Perang Aceh dengan Penjajah Belanda sekitar tahun 1873-1894, ada seorang ulama besar yang konsisten dengan literasi manuskrip dan kitab-kitab, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa jawoe.
Beliau adalah Teungku Syekh Abdul Wahab Tanoh Abee atau yang lazim dikenal dengan Teungku Chik Tanoh Abee Qadhi Rabbul Jalil Kerajaan Aceh Darussalam. Disebutkan, beliau mengoleksi lebih dari 10.000 manuskrip ketika itu.
Pada era modern, Aceh juga memiliki banyak ulama dan ilmuwan yang komitmen melanjutkan estafet literasi dan mengoleksi kitab kitab dan buku dalam berbagai bahasa.
Salah satunya adalah Professor H. Ali Hasymi, yang pustakanya bisa diakses hari ini. Beliau merpakan salah satu tokoh Aceh yang pernah duduk dalam berbagai jabatan penting dan strategis untuk kemajuan masyarakat Aceh.
Disebutkan, pada pustaka pribadi beliau memiliki ribuan eksemplar judul buku yang sudah diteliti, baik dalam negeri maupun sampai manca negara seperti Malaysia dan Brunai.
Spirit berliterasi terus hadir pada masyarakat kita untuk merawat tegaknya peradaban membaca dan menulis. Salah satu pegiat Literasi Aceh yang komitmen bertahun tahun mensuplai bahan bacaan dengan berbagai variasi ialah RUMAN Aceh.
RUMAN Aceh didirikan oleh Ahmad Arif yang menetap di Banda Aceh sejak hari ke 3 pasca tsunami 16 tahun lalu. Selain bergiat dalam literasi, Ahmad Arif juga pekerja sosial yang tak kenal lelah membantu menyalurkan Bantuan dari Qatar Charity.
Sebagai pecinta dan pegiat keilmuan, saya menyambut baik dan mengapresiasi karya besar pendiri RUMAN Aceh tersebut. Mudah-mudahan RUMAN Aceh semakin berjaya dan semakin berkah dalam membangun budaya membaca, khususnya masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar.
Dan, Senin malam kemarin, setelah pengajian di Mesjid Besar Gampong Punge Blang Cut, saya menyerahkan karya kecil saya yang merupakan coretan-coretan ketika belajar di beberapa tempat. Semoga akan hadir karya-karya berikutnya. InsyaAllah.
Syukran Jazilan Ustadz Ahmad Arif yang telah menerima buku tersebut. Barakallahu fiik.











