BEBERAPA pria berlalu lalang di depan gedung berlantai tiga. Mereka berkemeja dan kain sarung. Ada peci di atas kepalanya.
Para pemuda ini terlihat membungkuk saat melewati beberapa pengunjung yang lebih tua.
Tak hanya sekali, pemandangan ini terlihat berulang kali dalam komplek yang sama.
“Assalamualaikum teungku.”
“Permisi teungku.”
Sapaan ini khas terdengar di sana.
Ini adalah adat dan etika yang diajarkan oleh agama. Namun bener-benar menjadi praktek nyata di sana.
Melewati gedung utama, ada beberapa rumah ukuran sedang yang diperuntukan dewan guru. Ada beberapa bangunan lainnya yang dijadikan lokasi belajar serta mushala.
Ada juga plamplet bertuliskan Dayah Bustanul Huda Paya Pasi.
Sementara di sudut kiri, beberapa roda empat terlihat parkir. Mereka adalah para pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Aceh.
Ada juga tamu dari luar Aceh.
Ada yang sekedar melepas nazar, berwisata reliji hingga sekedar bertemu dengan pimpinan dayah di sana untuk bertanya soal agama.
Maklum, pimpinan dayah Bustanul Huda adalah salah seorang ulama kharismatik di Aceh.
“Abu ada di rumah tapi banyak pengunjung yang sedang ingin ketemu,” kata seorang santri.
Ya, lokasi inilah yang dikunjungi tim atjehwatch.com pada akhir Juni 2021 lalu.
Lokasi ini merupakan dayah salafi ternama di Aceh Timur. Dan salah satu dayah salafi ternama di Aceh.
Dayah Bustanul Huda sendiri didirikan pada Rabu 26 Juni 1991 oleh tiga ulama Aceh kala itu. Mereka adalah Teungku H Abdul Muthallib, Teungku H Ibrahim, dan Abu Paya Pasi. Setelah itu Abu Paya Pasi memimpin dayah hingga sekarang.

Nama Lengkapnya adalah Teungku H Muhammad Ali bin Teungku H Abdul Muthalleb. Namun kerap disapa Abu Ali Paya Pasi. Abu Paya Pasi lahir pada 4 Agustus 1954 di Alue Dama, sebuah desa terpencil di Aceh Utara.
Dari berbagai sumber dijelaskan, beliau disapa Abu Ali Paya Pasi karena tinggal dan mendirikan Dayah Bustanul Huda di Desa Alue Cek Doi, Kecamatan Julok, Aceh Timur. Alue Cek Doi terletak di jalan menuju Desa Paya Pasi.
Abu Paya Pasi anak bungsu dari dua bersaudara. Abangnya, almarhum Teungku H Ibrahim.
Abu Ali belajar ilmu agama di berbagai dayah di Aceh. “Pertama menimba ilmu agama di Dayah Darul Munawwarah Krut Lintang dari 1970 hingga 1974. Setelah itu, Abu Paya Pasi pindah ke Dayah Darussa’adah Cabang Julok Cut.
“Di situ beliau bersama pimpinan dayah Teungku H Kamaruddin, belajar dan mengajar selama dua tahun,” ujar Teungku Zein, salah seorang guru di dayah Abu Paya Pasi.
Lalu,pada 1976, Abu Paya Pasi kembali menimba ilmu di Dayah Malikussaleh Panton Labu di bawah asuhan Teungku H Ibrahim Bardan atau Abu Panton. Setahun di Panton Labu, Abu Paya Pasi pindah ke Dayah Darul Huda Lueng Angen, yang dipimpin Teungku H Muhammad Daud Ahmad atau Abu Lung Angen.
“Beliau menetap di Darul Huda selama 12 tahun sejak 1978 sampai dengan 1990,” ujar Teungku Zein.
Abu Paya Pasi, kata dia, juga mengambil ilmu thariqat seperti khalutiayyah, syattariyyah dan haddad di Seulimum dan Kuta Krueng.
Menurut Teungku Muslem, guru lainnya di Bustanul Huda, Abu Paya pasti sering menegur para santri yang terlihat malas-malasan. Seperti subuh berjamaah.
Sementara dari informasi teungku dayah setempat lainnya, Dayah Bustanul Huda kini memiliki sekitar 3.500 santri yang tidak hanya berasal dari berbagai wilayah Aceh tetapi juga luar provinsi bahkan luar negri. Sedangkan jumlah tenaga pengajar (laki-laki dan perempuan) sekitar 400 orang.
Sejak berdirinya dayah salafi tersebut telah banyak melahirkan kader-kader penerus dan tidak sedikit dari mereka juga telah menjadi cendekiawan muslim dengan membangun cabang-cabang dayah Bustanul Huda lainnya di seantero Aceh.
Dayah ini mengajarkan tentang ilmu fiqih, tauhid, dan tafsir. Hal inilah yang menjadi program unggulan di sana.
Dayah ini mengalami perkembangan pesat. Tak hanya jumlah santri yang terus bertambah setiap tahunnya, tapi juga alumni yang pulang kampung dan kemudian mendirikan dayah di daerah masing-masing.
Alumni Dayah Bustanul Huda untuk saat ini sudah mendirikan dayah lebih kurang 50 cabang di berbagai daerah. [Advertorial]
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islami (dayah) di Aceh.












