Sekitar 200 meter dari arah barat Keude Jeunieb, di bibir jalan lintas nasional, berdiri sebuah gedung bertingkat sepanjang 52 meter dengan nuansa perpaduan arsitektur timur dan modern. Empat buah kubah berwarna kuning emas menjulang diatas gedung, seakan memberi pesan bahwa Islam akan selalu berjaya di atas tanah ini.
Ya, di tanah tempat gedung ini berdiri kokoh. Di tengah-tengah gedung terdapat sebuah gerbang besar yang diapit oleh tembok besar yang menjulang tinggi disisi kanan dan kiri. Pemandangan ini menghanyutkan jiwa seakan berada didepan tembok konstatinopel, Istambul, Turkey yang pernah ditaklukkan oleh Sultan Al-Fatih beberapa abad lalu.
Tepat di mulut gerbang yang megah itu, terpancang sebuah pamplet berwarna hijau dengan coretan tinta berwarna emas bertulis “Yayasan Pendidikan Islam, Dayah Babussalam Al-Aziziyah, Gampong Blang Me Barat, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen”. Tulisan ini mempertgas bahwa bahwa gedung tersebut adalah salah satu gedung milik Dayah Babussalam Al-Aziziyah dan gerbang yang ada di tengahnya adalah pintu memasuki komplek ‘kebun surga’ tersebut.
Hari sudah menjelang senja, kaki langit di ufuk barat mulai menguning, menandakan matahari akan segera terbenam. Beberapa orang tua santri terlihat hilir mudik digerbang; keluar masuk komplek dayah seraya menenteng kantong plastik di tangan, mereka datang untuk menjenguk anaknya yang mondok di dayah ini, sementara seorang petugas piket posko dengan seragam putih dan kain sarung, sigap di pintu gerbang melayani setiap tamu yang datang.
Dari arah gerbang, terlihat satu unit musalla dua lantai yang bendiri indah tepat ditengah komplek dayah. Bangunan yang kira seluas 19 x 10 meter ini menjadi pusat kegiatan ibadah keseharian santri dayah. Di pojok kanan belakang, terdapat tangga kayu yang menghubungkan lantai pertama dengan lantai kedua. Jika musalla lantai pertama dijadikan sebagai pusat ibadah santri, lantai dua musalla ini merupakan pusat pengembangan dakwah dan Informasi Teknologi (IT) Dayah Babussalam Al-Aziziyah. Sungguh mengharukan, Dayah Babussalam Al-Aziziyah selain focus menyelenggarakan pengkajian kitab kuning, juga serius menjalankan misi dakwah melalui berbagai media yang ada.
Pelataran lantai dua musalla dayah ini disekat dengan kaca hitam tembus pandang menjadi lima ruangan. Disudut timur, terdapat ruang aula dengan fasilitas AC, panggung utama lengkap dengan proyektor dan soundsystem. Selain sebagai ruang rapat dan pertemuan pengurus dayah, ruang ini juga dijadikan sebagai balai utama tempat para dewan guru belajar kitab dari mudir (pimpinan). Di sebelahnya juga terdapat ruang kaca yang dipintu masuknya tertulis “Dayah Multmedia Aceh”. Di dalamnya terdapat tiga unit computer di tiga meja berbeda. beberapa teungku terlihat khusyuk di depan computer seraya memencet-mencet keyboard computer.
Ya, mereka sedang menulis butiran-butiran ilmu untuk dibagikan ke dunia maya melalui situs www.dayahmultimedia.com, website dakwah yang dikelola dayah ini bermateri nilai-nilai ilmu pengetahuan dan kegiatan keagamaan. Dayah multimedia ini adalah bagian dari Dayah Babussalam Al-Aziziyah yang dibangun sebagai wadah melatih santri memanfaatkan IT untuk kemudian menjadikannya sebagai tranformasi ilmu melalui dunia maya. Upaya ini dilakukan untuk melahirkan santri dayah yang visioner dibidang dakwah dan memiliki kemampuan untuk menyebarkan ilmu agama tanpa terbatas ruang dan waktu. Ini adalah terobosan yang patut diapresiasi.
Di ruang sebelahnya, bersebelahan dengan ruang laboratorium computer, seorang teungku yang terlihat memakai handsheat besar melingkar di kepala khusyuk di dalam ruang kedap suara. Tanganya bergerak memainkan mesin elektronik yang ada di meja di depannya. Satu unik microphone yang dipasang di gagang hitam mengarah ke mulutnya, bibirnya bergerak melafazkan kata-kata. Di atas pintu masuk ke ruang tersebut tertulis, “Studio Radio Yadara FM, 92,8 MHz”. Ya, teungku tersebut sedang berbicara pada orang-orang yang mendengarnya melalui frekuensi Radio FM, 92,8 MHz. Dari ruangan tersebutlah semua semua matari yang tersaji di frekuensi 92,8 MHz disiarkan.
Sejak satu tahun terakhir, nama Dayah Babussalam Al-Aziziyah memang kerap terdengar di telinga masyarakat Kabupaten Bireuen, Pidie Jaya, Bener Meriah dan sebagian Wilaya Pidie, Takengon, Lhokseumawe dan Aceh Utara. Bukan tanpa alasan, Radio Yadara FM yang sedang manja di telinga pendengarnya kerapkali menyebut-nyebut nama dayah tersebut. Selain pada jingle radio yang diputar secara berkala, pengisi materi yang disiarkan melalui radio tersebut juga umum adalah teungku-teungku dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb tersebut.
Radio Yadara yang dikembangkan dayah ini tampil berbeda dengan media radio lain pada umumnya. Radio yang berslogan “Radio Syiar dan Informasi” ini menyajikan materi-materi yang sarat dengan nilai-nilai pengetahuan Islam. Pengajian kitab kuning, mau’izah, renungan dan materi-materi lain yang kental dengan syiar Islam. Media radio ini menjadi media bagi teungku-teungku dayah setempat untuk berbagi ilmunya dengan masyarakat luas. Dan kehadiran radio ini disambut baik oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Dengan terobosan-terobosannya, Dayah Babussalam Al-Aziziyah sudah melompat jauh ke depan dari usianya.
Langit semakin semakin gelap, jam menunjukkan pukul 19.30 wib. Santri baru saja selesai melaksanakan rangkaian shalat magrib dan wirid berjama’ah. Setelah melepas lelah sejenak, para santri yang berjumalah sekitar 300-an orang, bergegas keluar musalla menuju ruang belajar masing-masing. Para santri yang berasal dari berbagai kabupaten di Aceh ini seakan tidak ingin membuang-buang waktu. Bagi mereka waktu benar-benar ibarat pedang. Ya jika ia tidak mampu dikendalikan maka ia yang akan mengendalikan kita. Di dayah ini jadwal belajar mengajar terbilang padat, pengajian rutin 3 kali sehari semalam, malam, pagi dan malam dengan kurikulum standar yang umumya diberlakukan di dayah-dayah lain di Aceh.
Dayah Babussalam Al-Aziziyah ini merupakan salah satu dayah tua di Aceh. Dayah yang sebagian besar halaman depannya tertata indah dengan lantai keramik dan paplingbloc itu sudah dirintis sejak tahun 1964 oleh Tgk H. Abdul Wahab Hasballah atau biasa disapa Abu Wahab Jeunieb. Beliau merupakan salah satu ulama jebolan Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan yang berperan aktif menghidupkan syiar Islam di Kabupaten Bireuen bersama Abon Abdul Aziz Samalanga dan Abu Tumin Blang Bladeh yang juga jebolan dayah yang sama.

Pada tahun 2001, Abu Wahab Jeunieb kemudian mempercayakan tampuk kepemimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah ini kepada salah satu putra beliau, Tgk H Muhammad Yusuf H Abdul Wahab. Sosok yang biasa disapa Tu Sop Jeunieb ini merupakan alumnus Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya, Samalanga era 90-an. Di tangan sosok ulama muda Aceh inilah, Dayah Babussalam Al-Aziziyah menjadi salah satu dayah yang disegani di kabupaten Bireuen khususnya dan Aceh umumnya.
Dalam perjalanannya, dayah yang juga dikenal dengan sebutan “Bale Hameh” ini tampil berbeda dengan dayah lain di Aceh pada umumnya. Banyak teobosan-terobosan hasil prakarsa dayah ini yang tidak lazim didapatkan di dayah lain di Aceh. Misalnya program pengembangan Informasi Teknologi (IT), pengembangan media dakwah dan center majlis ta’lim Minhajul ‘Abidin. Akan tetapi hal ini tentu tidak menafikan prestasi dayah ini di bidang pendidikan. Di bidang pendidikan, santri dayah ini juga menoreh prestasi dalam beberapa even. Antara lain Juara 1 musabaqah tafsirul quran bahasa Indonesia pada MTQ ke XXX, Juara 2 lomba baca kitab I’anatut Thalibin antar dayah se-kabupaten Bireuen dan beberapa juara pada even lain, baik di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten. [Advertorial]
Data pendukung
Santri: 998 santri (putra)
Guru: 87 orang
Tingkatan belajar
– Salafiyah (Tafaqquh)
– SD Assalam Islamic School
– SMP Assalam Islamic School
– SMA Assalam Islamic School
Siswa SD (Non mondok) 270 orang
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata Islami (dayah) di Aceh.

Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb. Foto diambil sebelum pandemi berlangsung.











