BANDA ACEH – Tokoh Aceh, Rusli Bintang membuat klarifikasi mengenai pernyataan Jubir Kementrian ATR/BPN atas pertemuan masyarakat pemakai lahan kawasan HTI Blang Bintang dengan Mentri ATR di kawasan Blang Bintang, Minggu 10 Oktober 2021.
“Hal ini langsung saya sampaikan. Pertama, memang saya mengundang pak Sofyan Jalil ke kawasan perkebunan durian yang sedang saya garap bersama petani-petani sekitar kawasan itu. Saya mengundang untuk silaturahim karena kebetulan pak mentri sedang pulang kampung, jadi sekaligus ingin memperlihatkan kawasan yang tadinya tandus namun bisa ditanami durian dan sayuran,” kata Rusli Bintang.
“Untuk itu, saya sangat menghargai beliau memenuhi undangan kami dan saya bersama masyarakat ada kesempatan untuk bertatap muka layaknya adat ureung Aceh, “bre haba sira pajoh kuah beulangong.”
“Namun, saya perlu klarifikasi atas pernyataan saudara Taufiqulhadi yang menyampaikan bahwa kami menggarap kawasan ini dalam bentuk korporasi/perusahaan. Hal tersebut keliru namun semua kami menggarapnya layaknya masing-masing petani. “
Selanjutnya, sambung pak Rusli Bintang, luas lahan yang dirinya garap itu hanya 220 ha, bukan 2200 ha.
“Lahan tersebut sebagiannya sudah saya miliki sebelum PT ANI beroperasi. Juga, pada pertemuan kemarin, yang diserahkan saudara Juanda Djamal bukanlah proposal namun surat tembusan yang pada utamanya surat tersebut sebagai usulan program TORA yang diajukan oleh pemkab Aceh Besar ke Mentri Kehutanan dan Lingkungan Hidup. “
“Semestinya, saudara Taufiqulhadi dapat bertanya langsung pada kami saat pertemuan tersebut, sehingga datanya tidak salah, karena kalau salah penyampaian bisa salah yang dipahami publik.”
“Namun demikian, perlu saya beri penjelasan juga, inisiatif saya untuk menggarap kawasan ini sebenarnya termotivasi oleh usaha yang dilakukan petani setempat yang sudah mulai menggarap kawasan tersebut. Pada dasarnya sebelum penetapan HTI dan dikelola oleh PT Aceh Nusa Indrapuri, masyarakat sudah memiliki lahan dikawasan tersebut,” ujar Rusli Bintang.
“Kan sekarang kalau saya lihat, semua lahan kawasan HTI ini sudah mulai digarap oleh masyarakat petani kita, saya pun cemburu melihat kegigihan mereka, makanya saya ikut serta supaya saling memberi semangat, mungkin saya dapat membantu pula petani-petani tersebut,” katanya.
Menurutnya, memang niat menanam durian agar hasilnya bisa dimanfaatkan untuk menyantuni anak-anak yatim-piatu secara berkelanjutan.
“Ini niat suci saya, dan agar berkelanjutan saat saya sudah tiada, maka hasil dari perkebunan ini bisa terus menyantuni anak yatim-piatu.
Memang, sambung Rusli Bintang lagi,kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan HTI di bawah PT ANI.
“Saya tahu itu. Namun, menurut hemat kami, selama ini PT ANI sudah tidak ada lagi, buktinya kantor mereka tidak ada, mereka juga sudah tidak operasional di lapangan. Jadi, supaya lahan ini tidak terlantar, saya dan masyarakat disini mencoba untuk memproduktifkan kembali, lagian kakek-kakek kami dulu sudah menanam cengkeh, nangka, durian dan sebagainya.”
“Seharusnya, pemerintah Aceh harus segera mereforma lahan-lahan disini dan dikelola untuk kemajuan pertanian, apalagi kita perlu mengejar ketertinggalan ekonomi, menurunkan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja.”
“Negara-negara di timur tengah bisa menjadikan gurun pasir sebagai lahan pertanian, masa kita tidak bisa menjadikan gunung tandus seperti ini menjadi lahan pertanian pula, buktinya, saya tanami durian dan cabe, Alhamdulillah sudah tumbuh,” kata Rusli Bintang.










