PRIA bersahaja ini bernama lengkap Abu H. Irfan Wahyudi Lc. Gelar terakhir ia peroleh setelah mondok di Al-Azhar Kairo, Mesir, belasan tahun yang lalu.
Ia adalah adik kelas dari Senator DPD RI HM Fadhil Rahmi Lc MA.
Hal inilah yang membuat keduanya terlihat cukup akrab saat bertemu di Kabupaten Aceh Barat Daya, beberapa hari lalu.
Keduanya bertemu di dayah Abu Irfan di Abdya. Tawa dan canda mewarnai pertemuan kedua sosok panutan itu.
Bahasa Aceh-nya cukup lancar. Padahal ia juga dikenal dengan panggilan Abu Sulawesi. Ya, karena dari daerah itulah ia berasal. Tepatnya, Manado, Sulawesi Utara.
“Saya datang ke Aceh saat umur 13 tahun. Adik saya umur 11 tahun,” ujar Abu Irfan.
Perkenalannya dengan Aceh, kata dia, terbilang unik. Ia karena ada salah satu ulama lulusan Dayah Darussalam yang merantau ke Manado.
“Ayah saya sering mengikuti kajian beliau. Dari beliau-lah, ayah saya mengenal Dayah Darussalam di Aceh Selatan,” kata Abu Irfan.
Saat Abu berusia 13 tahun, ayahnya kemudian membawanya untuk mondok ke Dayah Darussalam. Namun sebelumnya, ia dan adiknya, terlebih dahulu dibawa ke Jakarta selama tiga bulan.
“Di sana, saya ditugaskan ayah memasak nasi setiap hari. Adik saya disuruh memasak air. Sedangkan ia bekerja. Kami dididik untuk mandiri,” kenang Abu Irfan.
Usai tiga bulan dan dinilai cukup mandiri, dengan menggunakan mobil ‘ALS’ mereka berangkat ke Aceh melalui jalur lintas Sumatera Utara-Subulussalam hingga ke Aceh Selatan.
“Itu sekitar tahun 94. Saya mondok di Dayah Darussalam sekitar 6 tahun. Karena kami masih kecil-kecil, jadi ayah ikut mondok hingga 6 bulan. Mungkin karena kami masih kecil-kecil saat itu, ayah seperti enggan melepaskan kami. Beliau turut tinggal hingga 6 bulan,” kata Abu Irfan lagi.
“Saya dititipkan sama Abuya Mawardi,” ujar dia lagi.
Sekitar tahun 2001, Abu Irfan kemudian bertekad berangkat ke Mesir untuk belajar di Al-Azhar. Perjalanan menuntut ilmu di dayah tertua di dunia itu pun dijalani dengan berbagai macam lintangan, seperti kekurangan finasial hingga lainnya.
“Saya pulang sekitar 2005 dan kemudian menikah dengan wanita Aceh disini. Kenal selama mondok di Dayah Darussalam,” kata Abu Irfan.
Usai menikah, Abu Irfan membawa istri ke Sulawesi. Namun hal ini hanya bertahan selama enam bulan.
“Mungkin karena rasa masakan yang berbeda. Lidah sudah terbiasa dengan asam sunti. Jadi istri minta pulang ke Aceh,” ujar dia.
Tak langsung pulang ke Aceh, Abu Irfan dan istri malah ke Jakarta untuk menjalani hari-hari baru di sana. Ia berjualan parfum di Jakarta.
“Sekitar 2008-2009, istri lolos pemutihan jadi PNS. Jadi ia pulang ke Abdya. Saya karena sering bolak-balik ke Aceh, akhirnya bangkrut. Terpaksa pulang juga ke Aceh. Awal-awalnya bertahan di Banda Aceh, dengan ngajar meski honor kurang,” kata dia.
Kini setelah bertahun-tahun berlalu, Abu Sulawesi, demikian ia dikenal, sukses mendirikan Dayah Darul Fiqih Al-Azhariy Al-Waliyah di Desa Gadang Kecamatan Susoh Kabupaten Abdya.
“Alhamdulillah meski baru tiga tahun, sekarang sudah seperti ini.”
“Kalau kita menanam rumput, padi pasti tak akan tumbuh. Tapi kalau kita tanam padi, rumput pasti tumbuh,” ujar Abu Irfan. Di Abdya, nama Abu Irfan cukup tenar di kalangan masyarakat.
Syech Fadhil sendiri cukup bangga dan salut dengan perjalanan hidup juniornya tersebut.
“Isya Allah pasti berhasil. Saya yakin. Saya kagum dengan tekad Abu Irfan sejak dari dulu. Di Mesir-pun, ia akrab dengan mahasiswa asal Aceh,” kenang Syech Fadhil.









