Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

Kisah Abu Sulawesi Berguru hingga ke Aceh

Admin1 by Admin1
02/01/2022
in Feature
0
Kisah Abu Sulawesi Berguru hingga ke Aceh

Teungku Irfan (pakaian putih-kiri)

PRIA bersahaja ini bernama lengkap Abu H. Irfan Wahyudi Lc. Gelar terakhir ia peroleh setelah mondok di Al-Azhar Kairo, Mesir, belasan tahun yang lalu.

Ia adalah adik kelas dari Senator DPD RI HM Fadhil Rahmi Lc MA.

Hal inilah yang membuat keduanya terlihat cukup akrab saat bertemu di Kabupaten Aceh Barat Daya, beberapa hari lalu.

Keduanya bertemu di dayah Abu Irfan di Abdya. Tawa dan canda mewarnai pertemuan kedua sosok panutan itu.

Bahasa Aceh-nya cukup lancar. Padahal ia juga dikenal dengan panggilan Abu Sulawesi. Ya, karena dari daerah itulah ia berasal. Tepatnya, Manado, Sulawesi Utara.

“Saya datang ke Aceh saat umur 13 tahun. Adik saya umur 11 tahun,” ujar Abu Irfan.

Perkenalannya dengan Aceh, kata dia, terbilang unik. Ia karena ada salah satu ulama lulusan Dayah Darussalam yang merantau ke Manado.

“Ayah saya sering mengikuti kajian beliau. Dari beliau-lah, ayah saya mengenal Dayah Darussalam di Aceh Selatan,” kata Abu Irfan.

Saat Abu berusia 13 tahun, ayahnya kemudian membawanya untuk mondok ke Dayah Darussalam. Namun sebelumnya, ia dan adiknya, terlebih dahulu dibawa ke Jakarta selama tiga bulan.

“Di sana, saya ditugaskan ayah memasak nasi setiap hari. Adik saya disuruh memasak air. Sedangkan ia bekerja. Kami dididik untuk mandiri,” kenang Abu Irfan.

Usai tiga bulan dan dinilai cukup mandiri, dengan menggunakan mobil ‘ALS’ mereka berangkat ke Aceh melalui jalur lintas Sumatera Utara-Subulussalam hingga ke Aceh Selatan.

“Itu sekitar tahun 94. Saya mondok di Dayah Darussalam sekitar 6 tahun. Karena kami masih kecil-kecil, jadi ayah ikut mondok hingga 6 bulan. Mungkin karena kami masih kecil-kecil saat itu, ayah seperti enggan melepaskan kami. Beliau turut tinggal hingga 6 bulan,” kata Abu Irfan lagi.

“Saya dititipkan sama Abuya Mawardi,” ujar dia lagi.

Sekitar tahun 2001, Abu Irfan kemudian bertekad berangkat ke Mesir untuk belajar di Al-Azhar. Perjalanan menuntut ilmu di dayah tertua di dunia itu pun dijalani dengan berbagai macam lintangan, seperti kekurangan finasial hingga lainnya.

“Saya pulang sekitar 2005 dan kemudian menikah dengan wanita Aceh disini. Kenal selama mondok di Dayah Darussalam,” kata Abu Irfan.

Usai menikah, Abu Irfan membawa istri ke Sulawesi. Namun hal ini hanya bertahan selama enam bulan.

“Mungkin karena rasa masakan yang berbeda. Lidah sudah terbiasa dengan asam sunti. Jadi istri minta pulang ke Aceh,” ujar dia.

Tak langsung pulang ke Aceh, Abu Irfan dan istri malah ke Jakarta untuk menjalani hari-hari baru di sana. Ia berjualan parfum di Jakarta.

“Sekitar 2008-2009, istri lolos pemutihan jadi PNS. Jadi ia pulang ke Abdya. Saya karena sering bolak-balik ke Aceh, akhirnya bangkrut. Terpaksa pulang juga ke Aceh. Awal-awalnya bertahan di Banda Aceh, dengan ngajar meski honor kurang,” kata dia.

Kini setelah bertahun-tahun berlalu, Abu Sulawesi, demikian ia dikenal, sukses mendirikan Dayah Darul Fiqih Al-Azhariy Al-Waliyah di Desa Gadang Kecamatan Susoh Kabupaten Abdya.

“Alhamdulillah meski baru tiga tahun, sekarang sudah seperti ini.”

“Kalau kita menanam rumput, padi pasti tak akan tumbuh. Tapi kalau kita tanam padi, rumput pasti tumbuh,” ujar Abu Irfan. Di Abdya, nama Abu Irfan cukup tenar di kalangan masyarakat.

Syech Fadhil sendiri cukup bangga dan salut dengan perjalanan hidup juniornya tersebut.

“Isya Allah pasti berhasil. Saya yakin. Saya kagum dengan tekad Abu Irfan sejak dari dulu. Di Mesir-pun, ia akrab dengan mahasiswa asal Aceh,” kenang Syech Fadhil.

Previous Post

Syech Fadhil Ajak Santri dan Teungku Dayah di Aceh ‘Melek’ Politik

Next Post

Keren,Komunitas Wisata Tuan Tapa Lakukan Kegiatan Rutin Peugleh Pante Pulau Dua

Next Post

Keren,Komunitas Wisata Tuan Tapa Lakukan Kegiatan Rutin Peugleh Pante Pulau Dua

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

PDAM Tirta Mountala Tindak Pelanggan Menunggak Iuran

PDAM Tirta Mountala Tindak Pelanggan Menunggak Iuran

04/04/2026
Pemkab Aceh Barat Dampingi Seleksi Pekerja PT Cipta Kridatama, Prioritaskan Putra Daerah

Pemkab Aceh Barat Dampingi Seleksi Pekerja PT Cipta Kridatama, Prioritaskan Putra Daerah

04/04/2026
Syech Muharram Dorong Kepala Sekolah Terus Berinovasi

Syech Muharram Dorong Kepala Sekolah Terus Berinovasi

04/04/2026
PGRI Aceh Besar Siap Bersinergi Dukung Kemajuan Mutu Pendidikan

PGRI Aceh Besar Siap Bersinergi Dukung Kemajuan Mutu Pendidikan

04/04/2026
Ketua TP-PKK Aceh Besar Tekankan Pentingnya Gizi Seimbang Sejak Dini

Ketua TP-PKK Aceh Besar Tekankan Pentingnya Gizi Seimbang Sejak Dini

04/04/2026

Terpopuler

Hapus JKA = Bunuh Hak Rakyat, Fadhlullah TM Daud: Pemerintah Aceh Jangan Main Api

Hapus JKA = Bunuh Hak Rakyat, Fadhlullah TM Daud: Pemerintah Aceh Jangan Main Api

02/04/2026

Papan Bunga Pelantikan Imum Syik Seret Nama Kapolda Aceh dan Pangdam IM

Kerap Bertindak Ala Premanisme, Sekjend PAN Pijay Minta Wabup Periksa Kesehatan Mental

Bupati Sibral Salurkan Jadup untuk 15.377 Jiwa Warga Pidie Jaya

140 Siswa Madrasah di Aceh Besar Lulus SNBP, MAS RIAB Paling Banyak

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com