MASYARAKAT di Aceh, terutama yang tinggal di pesisir dan daerah perkotaan di Aceh, memiliki kebiasaan unik jelang bulan suci Ramadan tiba setiap tahunnya. Salah satunya adalah tradisi Minggu Akhe atau Minggu terakhir.
Seperti namanya, warga di Aceh beramai-ramai berwisata ke pantai pada satu Minggu sebelum Ramadan tiba. Ada yang datang sendiri dan ada juga yang berkunjung bersama keluarga tercinta.
Kondisi ini, sudah berlangsung secara turun temurun di Aceh. Konon, di masa lalu, tradisi Minggu Akhe bahkan cenderung bersifat negative. Terutama pada fase 1980 hingga 2004.
“Ada istilahnya camping bersama di Minggu Akhe. Para anak muda dari tiap kampung pasti ke pantai dan bercamping. Istilahnya sekarang tak gaul kalau tidak ke pantai saat Minggu Akhir,” kata Teungku Fian, warga pesisir Aceh Besar.
Aktivitas camping atau bermalam di pantai ini, berlangsung dari Sabtu atau sehari sebelumnya.
Namun sisi negatifnya, kata dia, banyak anak muda yang menggunakan kesempatan momen ‘Minggu Akhe’ untuk bersenang-senang. Ada yang minum Miras hingga perbuatan lainnya yang dilarang dalam agama.
Konon, bergoni-goni botol Miras diangkut dari pantai usai Minggu Akhir berlalu.
“Namun kondisi ini terjadi saat WH belum ada. Belum ada pemberlakuan hukum syariat. Bahkan pada Minggu 26 Desember 2004, banyak juga warga Aceh yang sedang berada di pantai. Mereka jadi korban tsunami,” kata Teungku Fian lagi.
Teungku Mustafa, warga pesisir dan alumni pesantren Ulee Titi, menambahkan bahwa kebiasaan berwisata ke pantai jelang Ramadan masih berlangsung usai Tsunami di Aceh. Bahkan katanya, hingga Ramadan 2022.
“Namun mudhoratnya sudah berkurang. Kalau sekarang, warga hanya sekedar ingin ‘healing’ ke pantai. Namun kondisi pantai justru padat karena pada saat yang bersamaan, warga-warga lainnya memiliki niat yang sama,” kata dia sambil tersenyum.
“Semestinya, Ramadan disambut dengan hal-hal yang positif. Tidak ada yang salah ke pantai. Namun dalam kondisi ‘Minggu Akhe’ banyak mudhoratnya,” kata Teungku Mustafa lagi.










