BANDA ACEH – Muda Seudang Aceh melalui Ketua Harian Mulia Abdul Wahab, ST menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap aksi yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa, esok hari atau Senin 11 April 2022.
“Kami melihat semangat ini merupakan pelita baru bagi pergerakan mahasiswa, terutama di Aceh yang telah mengalami pasang surut dan dinamika beberapa tahun terakhir ini. Semangat mengawal kedaulatan rakyat dalam melawan ketimpangan, kesewenangan dan kezaliman ini juga harus diselaraskan dengan kepentingan Aceh sebagai daerah khusus dan istimewa. Sebagaimana kita ketahui bersama, Kita Masyarakat Aceh juga memiliki kekhususan dan Keistimewaan sebagai payung dan rujukan tersendiri bagi kita bersama,” kata Mulia.
Muda Seudang juga sangat mengapresiasi beberapa poin tuntutan yang menitikberatkan pada pengawalan dan implementasi MoU Helsinki, Kekhususan Aceh melalui UUPA, dan Aspirasi kedaulatan Aceh secara ekonomi maupun konstitusi.
“Kami Muda Seudang Aceh memahami ini sebagai estafet penting, ini kerja bersama dalam mewujudkan Damai Bermartabat, Aceh Berdaulat. Pada kesempatan ini, Kami ingin menegaskan bahwa Muda Seudang siap menjadi pionir bersama rekan, teman dan sejawat mahasiswa dan pemuda dalam mengawal kekhususan Aceh seperti yang termaktub dalam MoU Helsinki, UU Pemerintahan Aceh dan turunan PP/Qanun lainnya. Kami siap menjadi pembuka jalan dan perintis dalam hal tersebut,” katanya.
Kader Muda Seudang Aceh Aminul Mukminin Sekadang, SE juga menambahkan sebagai bentuk komitmen, Muda Seudang Aceh sangat membuka diri dalam berbagai bentuk diskusi, debat pro-kontra, aksi dan lainnya terkait hal-hal tersebut.
“Kita mahasiswa Aceh dilahirkan, ditakdirkan dan tumbuh berkembang tidak hanya untuk mengawal reformasi berjilid, tetapi juga ada titipan historis dalam berbangsa sebagai bangsa Aceh. Kita juga harus memperlakukan semangat MoU sebagai rujukan sama halnya dengan semangat reformasi sebagai acuan sampai sekarang. Jangan ada standar ganda dalam memperjuangkan dan rasa memiliki terhadap MoU, jika hal yang lain yang penuh dengan ketimpangan masih menjadi perhatian kita, sudah seharusnya MoU menjadi fokus utama bersama,” kata dia.
“Saat ini orang Aceh sebagaimana kita ketahui memang mereka pasrah, merasa putus asa, kecewa. Namun, walaupun demikian kita tidak bisa menyerah dengan demikian saja. Pasrah ataupun diam, itu sama seperti bersekutu dengan kezaliman itu sendiri.”
“Oleh karena itu kita mencari sebuah solusi baru, Kita bisa bersatu para mahasiswa bergerak seperti tahun 1998 dahulu dimana saat itu civil society di Aceh sangat kuat. Nah sekarang generasi telah bertukar, Oleh karena itu kita tetap membuat kerjasama dan terus berjuang memperjuangkan kekhususan dan keistimewaan Aceh,” ujarnya lagi.












