Ada yang menarik dengan isu perluasan Banda Aceh sebagai ibukota Pemerintah Aceh selama dua pekan terakhir.
Saat Mawardi Ali selaku bupati Aceh Besar menolak gagasan tersebut dan mengatakan bahwa wacana tadi sebagai syahwat penguasa Banda Aceh, tiba-tiba sejumlah warga dari daerah pesisir justru malah menyatakan siap bergabung dengan Banda Aceh.
Ini tentu tamparan keras ke wajah Mawardi Ali. Ia tak hanya dipermalukan selaku bupati Aceh Besar, tapi juga ‘ditalak’ sebagai bagian dari pesisir Aceh Besar. Mawardi dinilai lupa dengan daerah kelahirannya sendiri.
“Memang pesisir Aceh Besar lebih baik gabung dengan Banda Aceh saja. Walaupun daerah Darussalam dan Baitussalam itu merupakan daerah kelahiran Mawardi Ali, bupati Aceh Besar. Namun kurang terperhatikan. Mungkin lebih baik gabung dengan Banda Aceh,” kata Muhammad, tokoh muda di pesisir Aceh Besar, kepada atjehwatch.com, Jumat 13 Desember 2019.
Saat pilkada 2017 lalu, Mawardi menarik perhatian warga pesisir dengan sentiment kedaerahan. Dari panggung ke panggung, Mawardi mengaku sedih dengan keadaan pesisir Aceh Besar, terutama Mesjid Raya hingga Darussalam, yang dinilai luput dari perhatian bupati Aceh Besar sebelumnya.
Mawardi menjual sejumlah janji manis untuk warga pesisir jika dirinya terpilih. Bahasa Mawardi saat itu, “Sudah saatnya anak pesisir memimpin Aceh Besar.”
Namun usai terpilih, Mawardi justru dinilai lupa dengan janjinya tersebut. Tak ada terobosan berarti dari Mawardi Ali selama dua tahun lebih kepemimpinannya untuk daerah pesisir. Ia hanya menjadi bupati ‘Sihiton’ atau Sibreh hingga Jantho.
“Untuk adminitrasi juga begitu. Kantor pelayanan satu pintu di Lambaro Angan sangat lelet. Kinerja mereka buruk. Satu surat saja berhari-hari. Untuk ke Jantho, sangat jauh. Jadi kami sepakat jika bergabung ke Banda Aceh. Biar Mawardi urus Sibreh ke Jantho saja,” kata warga pesisir lagi.
Inilah bentuk ‘talak’ pesisir terhadap Mawardi Ali.
Sebagai warga kelahiran pesisir, Mawardi Ali harusnya peka terhadap kebutuhan masyarakat di daerah kelahirannya tersebut. Namun yang terjadi justu sebaliknya. Maka wajar jika unek-unek tadi muncul ke public.
Tak hanya pesisir, sentuhan Mawardi untuk Pulo Aceh sebenarnya juga dibutuhkan. Dalam beberapa kasus terakhir, warga yang sakit dan kecelakaan di Pulo Aceh justru harus dirujuk ke Banda Aceh dengan menaiki boat penumpang dalam keadaan yang memperihatinkan.
Mawardi harusnya dapat meningkatkan pelayanan kesehatan di Pulo Aceh sehingga setiap ada pasien dapat ditangani lebih baik di sana. Demikian juga jika ada yang sakit dan kecelakaan. Akan sangat berbahaya bagi pasien jika dirujuk ke Banda Aceh dengan kapal penumpang seperti selama ini.
Namun lagi-lagi, perhatian Mawardi masih untuk ‘Sihiton.’ Ia lupa dengan pesisir dan Pulo Aceh. Semoga tak terlambat bagi Mawardi untuk berubah. Pesisir tak berharap cinta penuh, tapi minimal pesisir juga merasakan memiliki seorang bupati, yang konon bertahun-tahun pernah buang hajat disana. []










