Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Tengah

Kopi ‘Warisan Belanda’ di Aceh

redaksi by redaksi
23/08/2019
in Lintas Tengah, Sejarah
0

“Jep kupi mangat bek pungo.” Artinya kira-kira, minum kopi supaya tidak gila.

Ungkapan ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari di Aceh. Terutama bagi generasi muda di Aceh saat ini. Tradisi ngopi sendiri, seakan begitu melekat dalam kehidupan masyarakat Aceh sehari-hari. Kebiasaan ‘ngopi’ di Aceh juga jauh di atas rata-rata nasional atau kebiasaan masyarakat di daerah lain.

“Kalau di daerah lain, ngopi itu paling lama 45 menit, kemudian bubar. Atau beli kopi, kemudian jalan. Tak ada (warung kopi) yang kursi dan mejanya banyak(seperti di Aceh-red). Tapi di Aceh, istilah ngopi itu berbeda. Ngopi itu bisa seharian. Apalagi jika ada pembahasan yang menarik,” ujar Boru Atta, seorang turis dari Kalimantan kepada penulis di salah salah satu Warkop di Kota Banda Aceh, sebulan lalu.

Kopi menjadi aktivitas pertama bagi masyarakat di Aceh dalam mengawali pagi.

“Leumoh that lagoo. Peu hana leuh kupi lom?”

“Sang hana keunong kupi beugoh lom. Makajih hana focus.”

Dua kalimat di atas ditunjukan kepada seseorang yang terlihat lesu atau tidak semangat bekerja di pagi hari.

Satu kalimat lainnya yang membuat kopi kian ngetrend di Aceh diucapkan oleh Teuku Umar.

“Beugoh singoh ta jep kupi di Meulaboh atawa lon ka syahid.”

Semua kalimat di atas menunjukan tradisi ngopi yang begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Padahal, sebelum abad ke 19, kalimat seperti ini, mungkin jarang atau tidak pernah sama sekali diungkapkan oleh buyut orang Aceh.

Sebelum abad 19, buyut orang Aceh, justru lebih mengenal istilah Ie Teubee atau air tebu. Setidaknya hal ini tercatat dalam beberapa referensi buku yang mengupas tentang kebiasaan masyarakat Aceh.

“Bagi kebanyakan orang biasa di Aceh, air putih adalah hampir satu-satunya minuman, dari waktu ke waktu (sesekali) ia akan minum air tebu,” tulis Snouck Hurgronye dalam buku Aceh di Mata Kolonialis jilid I.

Kebiasaan minum air tebu di kalangan masyarakat Aceh saat itu, memunculkan istilah,”Peng ngon bloe ie teubee.”

Tanaman kopi sendiri, berdasarkan catatan sejarah, di bawa ke Aceh oleh Belanda melalui Batavia sekitar tahun 1908. Belanda menemukan daratan tinggi yang luas dengan iklim sejuk yang dinilai cocok untuk pengembangan tanaman kopi di Aceh. Daratan tersebut adalah Gayo.

Sekitar tahun 1924, Belanda kembali mengumpul sejumlah orang kaya di Eropa untuk turut bekerjasama untuk membuka perkebunan yang lebih luas di daerah Gayo. Kondisi ini kemudian sedikit demi sedikit membuat warga Aceh mulai tertarik menanam kopi. Aktivitas tersebut kemudian mengubah paradigma masyarakat di Aceh, dari Ie Teubee ke kupi.

Kiban kaleuh meukupi uroe nyoe?

 

Tags: belandakopi aceh
Previous Post

Kecapi Leuser Juara I Festival Budaya Saman di Gayo Lues

Next Post

Atasi Persoalan Anak, Ini Solusi yang Ditawarkan Pemerintah Aceh

Next Post

Atasi Persoalan Anak, Ini Solusi yang Ditawarkan Pemerintah Aceh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Wali Nanggroe Serukan Pengusutan Transparan dan Dialog Bermartabat Pascainsiden Tiro

Wali Nanggroe Serukan Pengusutan Transparan dan Dialog Bermartabat Pascainsiden Tiro

06/11/2026
Tiga Fraksi DPRK Abdya Terima Rancangan APBK Jadi Qanun, Setelah Dengarkan Jawaban Bupati

Tiga Fraksi DPRK Abdya Terima Rancangan APBK Jadi Qanun, Setelah Dengarkan Jawaban Bupati

06/11/2026
Hukum Sebagai Bahasa Perdamaian: FH USK dan UiTM Merajut Jejaring Akademik

Hukum Sebagai Bahasa Perdamaian: FH USK dan UiTM Merajut Jejaring Akademik

06/11/2026
LPPM IAIN Takengon Kerja Sama dengan IA Scholar Foundation Yogyakarta, Dorong Publikasi Internasional Bereputasi

LPPM IAIN Takengon Kerja Sama dengan IA Scholar Foundation Yogyakarta, Dorong Publikasi Internasional Bereputasi

06/11/2026
24 Siswa SMA Unggul Cut Nyak Dien Langsa Studi Tour ke Malaysia

24 Siswa SMA Unggul Cut Nyak Dien Langsa Studi Tour ke Malaysia

06/11/2026

Terpopuler

Kopi ‘Warisan Belanda’ di Aceh

23/08/2019

Sarjani Minta Insiden Berdarah di Pulo Keunari Pidie Diusut Tuntas dan Transparan

Siswi MAN 3 Aceh Besar Raih Juara III AI Prompt Manifest 2026, Bersaing dengan Mahasiswa

Nyan, Pemkab Pidie Jaya Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Selama 14 Hari

Tiga Fraksi DPRK Abdya Terima Rancangan APBK Jadi Qanun, Setelah Dengarkan Jawaban Bupati

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com