BANDA ACEH – Meninggalnya sosok Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, presiden ke 3 Republik Indonesia, Rabu 11 September 2019, menjadi duka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali Aceh.
Kepergian BJ Habibie untuk selamanya, turut membuka kisah berupa kekaguman para aktivis, terkait sejumlah kebijakan sang mantan presiden itu yang dinilai pro rakyat, semasa Aceh masih berkonflik.
“Terimakasih sudah memberikan sumbangsih terbaik untuk Negara, memimpin Indonesia di masa transisi sehingga agenda reformasi berjalan bertahap-tahap,” tulis Kautsar di akun Facebook miliknya.
“Semoga Allah memberi pahala yang pantas atas semua dedikasi kemanusiaanya. Selamat jalan Pak Habibie.”
“Hal paling utama yang saya ingat dari Habibie adalah keberaniaannya mencabut DOM di Aceh, membebaskan Tapol/Napol, menjamin kebebasan pers, memberikan izin lahirnya multi partai politik, melaksanakan pemilu paling demokratis dalam sejarah Indonesia, mencabut kewenangan politik ABRI, meletakan dasar dasar otonomi daerah, serta setuju melaksanakan referendum di Timur Leste,” tulis Kautsar lagi, mantan aktivis Aceh yang kini menjadi anggota DPRA dari Partai Aceh.
Sementara itu, mantan aktivis Aceh lainnya, Iskandar Usman Al-Farlaky, yang kini menjabat sebagai Ketua Fraksi PA DPR Aceh, mengatakan sosok BJ Habibie merupakan satu satunya presiden yang meminta maaf atas apa yang terjadi di Aceh.
“Sikap negarawannya luar biasa. Beliau guru bangsa. Apa yang telah dilakukannya akan dikenang,” ujarnya. []








