USAI salat Dhuhur, Juanda mengajak atjehwatch.com untuk menghadiri kenduri warga di Siron Sibreh. Kami pun kemudian meluncur ke sana. Hanya hitungan menit, kami akhirnya tiba di lokasi. Juanda terlihat akrab dengan para tetua gampong serta pemuda yang berada di lokasi acara tersebut.
Ia menyalami satu persatu warga di sana. Baik yang bertugas di dekat hindangan hingga yang sedang bertugas mengambil piring kotor.
Saat kami tiba, lokasi kenduri sudah relative sepi. Hanya tuan rumah serta beberapa tetua gampong yang masih berada di lokasi guna memastikan acara selesai tanpa kendala apapun.
Melihat kedatangan Juanda, warga kemudian merapat di dekat kursi mantan calon wakil bupati Aceh Besar itu di pilkada 2017 lalu.
Pembicaraan diawali soal rutinitas warga di sawah yang belakangan ini dinilai sedikit mengecewakan.
Faktor distribusi air ke sawah-sawah menyebabkan panen padi milik warga acapkali gagal. Ini kemudian berimbas pada pendapatan dan ekonomi warga setempat.
“Distribusi air jadi kendala utama. Kalau ada mesin pompa ukuran besar, mungkin bisa mengatasi persoalan ini,” kata seorang warga. Juanda mengangguk.
Para petani, lapor warga ini, serba salah dalam menghadapi cuaca di Aceh Besar selama ini.
“Jika musim hujan tiba, sawah-sawah diredam air dan mengakibatkan gagal panen. Sementara saat kemarau, sawah justru kekeringan dan imbasnya juga gagal panen,” keluh warga di sela-sela kenduri tersebut.
Selama ini, keluh warga, petani hanya bisa turun ke sawah sebanyak dua kali dalam setahun. Itu pun hasilnya tak maksimal. Jika dipaksakan bisa berimbas pada gagal panen dan petani menderita kerugian.
Juanda sendiri terlihat focus menyimak laporan warga ini. Sesekali ia menjawab dengan beberapa solusi alternative guna mengatasi persoalan warga tanpa harus menunggu lama.
Suasana penuh keakraban kian terasa saat tuan rumah membawa beberapa gelas kopi serta hidangan buleukat kuah santan asoe kaya khas Aceh Besar.
“Nyoe untuk mengatasi hawa jelang molot.”
Sekitar pukul 13.41 WIB, kami kemudian minta izin pamit. Beberapa tetua gampong dan tuan rumah mengantar Juanda hingga ke lokasi mobil di parkir.
Menurut Juanda, aktivitas seperti ini dilakoninya hampir setiap hari. Ia mencoba untuk tetap hadir meskipun cuma sebentar.
“Sehari kadang ada 4 lokasi. Sedangkan hari ini baru satu. Ini di luar rutinitas dinas. Saya coba memenuhi undangan ini,” kata Juanda yang memiliki peran sentral selama rehab rekon berlangsung di Aceh usai tsunami. [Bersambung]











