Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

Saat Lancang Menghilang di Lamnga

redaksi by redaksi
27/10/2019
in Feature
0

PRIA itu memandang jauh ke depan. Di depannya ada hamparan tanah kosong yang berbatasan dengan tambak milik warga. Suasana sepi. Hujan deras baru saja mengguyur saat kami datang ke lokasi.

Pohon-pohon mangrove yang baru ditanam ulang pasca tsunami serta ribuan kepiting kecil yang menyemut di sana. Orang-orang di sini menyebutnya dengan istilah Bieng Sira atau kepiting kecil yang biasanya hidup di hamparan lancang sira.

“Dulu ada puluhan Lancang milik warga di sana. Kini sudah hilang. Tidak ada lagi yang menggarap lancang,” ujar pria tadi.

Ia adalah Rusli, seorang tetua di mukim Lamnga. Sedangkan lokasi yang kami datangi adalah bekas area lancang sira di Desa Lamnga, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Sira Lamnga memiliki nama besar di industri garam sejak abad 17. Sira Lamnga tenar hingga ke Sumatera Utara.

“Dulu, asal sudah mendengar nama Sira Lamnga, orang pasti membelinya. Ini karena Sira Lamnga memang memiliki kualitas yang terbaik,” ujarnya lagi.

Ilustrasi lancang Sira tradisional.

Konon, Sira Lamnga sendiri memiliki jalinan erat dengan keberadaan para Uleebalang dari Mukim 13 Sagi 26. Berlancang menjadi profesi yang paling banyak digeluti oleh warga di mukim Lamnga saat itu.

Bahkan Ibrahim Lamnga, suami pertama Cut Nyak Dhien, sering membawa oleh-oleh Sira Lamnga kepada mertuanya yang tinggal di Lampadang, di awal-awal meminang gadis cantik itu, pada tahun 1862 Masehi.

“Sira Lamnga tinggal kenangan. Lancangnya sudah hilang. Petani sira sendiri tidak ada lagi di Lamnga,” kata Rusli.

“Sira Lamnga itu beda dengan sira daerah lain. Sira daerah lain pret ujong. Sira Lamnga justru manis di lidah,” ujarnya lagi.

Mantan geuchik Lamnga, M. Ali Ibrahim, mengisahkan bahwa banyak lancang dan petani garam yang menjadi korban saat tsunami menerjang daerah itu pada akhir 2004 lalu.

“Ada beberapa petani garam yang bertahan usai tsunami. Mereka kembali menggarap lancangnya, tapi seusai mereka meninggal, tak ada lagi penerus. Akhirnya lancang terbengkalai dan tak terurus,” ujar M. Ali.

Merek Sira Lamnga yang kini beredar di pasaran adalah milik petani garam yang mengolah lancang di sekitar kemukiman Lamnga.

“Itupun sangat sedikit dan bisa dihitung dengan jari. Soalnya mereka kalah saing dengan industri garam yang mengolah secara modern,” ujarnya.

Kata M. Ali, banyak warga dari luar daerah datang ke Lamnga untuk membeli sira Lamnga, tapi kemudian terkejut saat mengetahui kondisi yang terjadi. Sira Lamnga kini tinggal kenangan. []

Tags: garamsira lamnga
Previous Post

Warga Rantau Panyang Bakar Gubuk Lokasi Isap Sabu

Next Post

KP3J Akan Segera Bawa Bayi Bocor Jantung ke Jakarta

Next Post

KP3J Akan Segera Bawa Bayi Bocor Jantung ke Jakarta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Wabup Pijay Mundur dari Satgas Bencana Alam, Ada Apa?

Wabup Pijay Mundur dari Satgas Bencana Alam, Ada Apa?

11/02/2026
AHY Minta Musda Demokrat Aceh Digelar Tanpa Gaduh, Utamakan Persatuan

AHY Minta Musda Demokrat Aceh Digelar Tanpa Gaduh, Utamakan Persatuan

10/02/2026
Kapolres Dampingi Brigjen Pol Noviar Tinjau Pengabdian Mahasiswa STIK Angkatan 83 di Pengungsian

Kapolres Dampingi Brigjen Pol Noviar Tinjau Pengabdian Mahasiswa STIK Angkatan 83 di Pengungsian

10/02/2026
Ibas Ajak Demokrat Aceh Solid, Tekankan Percepatan Rehabilitasi Pascabencana

Ibas Ajak Demokrat Aceh Solid, Tekankan Percepatan Rehabilitasi Pascabencana

10/02/2026
Buka Muscab ke-IV HIPMI Abdya, Zaman Akli: HIPMI Bukan Hanya Organisasi Sosial, Tetapi Motor Penggerak Ekonomi Lokal

Meski Sedikit Alot, Akmal Qarasie Terpilih Aklamasi sebagai Ketua Umum BPC HIPSI Abdya

10/02/2026

Terpopuler

Wabup Pijay Mundur dari Satgas Bencana Alam, Ada Apa?

Wabup Pijay Mundur dari Satgas Bencana Alam, Ada Apa?

11/02/2026

Meski Sedikit Alot, Akmal Qarasie Terpilih Aklamasi sebagai Ketua Umum BPC HIPSI Abdya

Pendemo Tuntut Transparansi Pemkab Pijay Soal Bantuan Bencana

Bawa Ribuan Ekstasi ke Bali, Dua Pria Asal Aceh Diciduk di Pelabuhan Gilimanuk

Buka Muscab ke-IV HIPMI Abdya, Zaman Akli: HIPMI Bukan Hanya Organisasi Sosial, Tetapi Motor Penggerak Ekonomi Lokal

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com