Penulis adalah Dr. Phil. Abdul Manan, M.Sc, MA. Email: mananaceh@yahoo.com. Dosen Antropologi pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry.
Di antara bulan penuh makna dalam penangalan Islam adalah bulan Muharram. Di Aceh, bulan Muharram disebut juga sebagai “bulan Hasan Husin” atau buleuen Asan Usén. Pada bulan ini, orang-orang Aceh melakukan adat yang disebut adat Asyura.
Ritual Asyura dipercayai berawal dari saat banjir mereda pada masa Nabi Nuh alaihissalam. Masyarakat saat itu kelaparan karena kekurangan makanan. Mereka hanya memiliki sedikit beras, jagung, gandum, kentang, ubi, labu dan lainnya. Lalu mereka membuat bubur dari bahan-bahan yang ada.
Tujuannya adalah walaupun bubur yang di masak sedikit, semua merasa kenyang setelah memakannya. Inilah yang dianggap sebagai asal usul bubur Asyura/kanji Asyura.
Disebutkan bahwa pada hari Asyura banyak peristiwa penting. Nabi Adam diciptakan dan diturunkan ke bumi; Allah menciptakan arasy dan lauh mahfudz; Allah memberikan rahmat-Nya kepada Adam dan Hawa saat mereka bertaubat; Nabi Ibrahim dilahirkan; Allah menerima taubatnya Nabi Ibrahim; syahidnya Sayidina Ali; Nabi Nuh dan para pengikutnya yang berada dalam bahtera selamat dari air bah; Nabi Idris diberkahi Allah dengan kedudukan mulia dan diangkat ke langit; Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api; Nabi Musa mendapatkan wahyu dari Allah di bukit Sinai.
Pada bulan itu juga Nabi Yusuf bebas dari penjara dan namanya dibersihkan dari tuduhan pemerkosaan istri raja Mesir; Nabi Yakub sembuh dari kebutaannya; Nabi Yunus keluar dengan selamat dari perut ikan raksasa; Nabi Ayyub sembuh dari penyakit koleranya; Nabi Yakub dan Yusuf bertemu setelah empat puluh tahun berpisah; hari lahir Nabi Isa dan diangkat ke surga; dosa-dosa Nabi Daud diampuni Allah; Nabi Sulaiman mendapat berkah dan kemuliaan dari Allah dan mendapat sebuah kerajaan; Dosa-dosa Nabi Muhammad diampuni; hari pertama Allah menciptakan langit dan bumi, lalu menurunkan hujan; Nabi Muhammad menikah dengan Siti Khadijah; hari diciptakannya surga, bumi, qalam; dipercayai pula bahwa hari pembalasan akan terjadi pada hari Asyura.
Ritual Asyura di Masyarakat Aceh Selatan
Pada hari kesembilan bulan Muharram, ketua dari perkumpulan ibu-ibu mendatangi setiap toko yang ada di Blangporoh dan rumah-rumah terdekat untuk meminta sumbangan dan kesediaan untuk memasak bubur kanji Asyura. Bubur Asyura terdiri dari beras ketan, santan kelapa, gula dan garam dan berbagai buah, seperti singkong, labu, ubi jalar dan lainnya.
Warga menyumbangkan uangnya untuk adat Asyura; warga yang tidak memiliki sesuatu untuk disumbangkan, menolong membuat bubur Asyura. Makanan itu biasanya di masak di dalam wadah yang besar yang biasa disebut kancah. Bubur dibagikan kepada warga sebagai menu untuk berbuka puasa Asyura Seorang wanita menjelaskan, “Bubur Asyura ini di masak dan diberikan kepada semua orang, bagi mereka yang berpuasa, orang miskin, anak yatim, ataupun yang kebetulan lewat di sini hari ini.”
Setiap orang yang saleh juga santri-santri dayah Syeikh Muda Waly bersiap-siap untuk berpuasa di hari kesembilan bulan Muharram yang disebut sebagai puasa tasua dan hari kesepuluh bulan Muharram yang disebut sebagai puasa Asyura. Berpuasa pada hari kesembilan bulan Muharram untuk membedakan antara orang Muslim dan Yahudi.
Rahop ulèe merupakan istilah bahasa Acèh yang bermakna mengusap kepala anak yatim secara perlahan-lahan. Seorang teungku mengatakan bahwa mengusap kepala anak yatim secara perlahan dengan tangan kanan pada hari Asyura dianjurkan dalam agama Islam. Anak yang ayahnya telah meninggal dunia disebut anak yatim dan anak yang ibunya telah meninggal dunia disebut anak piatu (Aceh: aneuk mentui). Mengusap kepala hingga wajah secara perlahan melambangkan bahwa anak yatim, tidak memiliki ayah, yang berarti tidak ada seorang pun yang berdiri di depan mereka untuk masa depan mereka.
Mengusap kepala hingga tengkuk leher secara perlahan menandakan bahwa anak piatu, tidak memiliki ibu, yang berarti tidak ada seorang pun yang berdiri di belakang mereka untuk mengasuh mereka.
4. Salat Asyura
Sejumlah siswa di dayah Blangporoh termasuk guru-guru melaksanakan salat sunat Asyura di masjid dayah. Mereka tiba di masjid larut malam, lalu melaksanakan salat sunat dua rakaat yang disebut seumayang sunek masajid untuk menghormati Mesjid, lalu duduk sambil membaca istigfar. Selanjutnya salat sunat empat rakaat didirikan, yang diikuti dengan doa terdiri atas lima bagian: pujian kepada Allah dan Salawat pada nabi, memohon ampunan Allah, dan doa khusus.
“Ya Allah ambo pa i kepado Angkau, ambo urang yang badosa dan Angkaulah yang mengampuni kasado urang badoso. Engkau Yang Maha Rancak dan ambolah urang panuah doso, maka dengan kelebihan malam Asyura ko, ampunilah segalo kejahatan yang ambo pabuek ngen kebaikan Angkau. Ya Allah agihlah kebaikan Angkau kapado ambo dan kayokan ambo dari kebaikan Angkau.”
Di sinilah letak perbedaan yang nyata antara Islam Normatif dan Islam Historis. Teungku mempraktekkan Islam Historis, karena ia tidak mengambil ide dari Al-Qur’an dan berdoa menggunakan bahasa Jamee. Bagian kelima berisi permohonan lindungan dan bagian akhir meminta penjauhan dari siksa api neraka.
Penafsiran Arti Nilai
Ritual pelaksanaan Asyura di Pantai Barat-Selatan tidak terindikasi adanya pengaruh Islam Syiah dalam pelaksanaannya. Sebagaimana yang dilaksanakan oleh Suku Aneuk Jamee khususnya, di Aceh Selatan pada masyarakat desa Blangporoh. Masyarakat tersebut sangat menghormati hari Asyura karena hari itu adalah hari besar dan memiliki nilai kebaikan yang tinggi. Penafsiran makna dari pembagian bubur Asyura dan pelaksanaan ritual Asyura memiliki dua aspek. Pertama ritual memiliki nilai sosial yang memperkuat pertalian dalam komunitas dengan memasak bubur Asyura dan membagikannya. Pada dasarnya kondisi ini menunjukkan nilai kedermawanan.
Masyarakat desa menawarkan bubur Asyura untuk dibagikan kepada tetangga dan keluarga. Mereka melakukannya untuk sesamanya, untuk komunitas sebagai bentuk amal dan karena Allah telah menyelamatkan Nabi Nuh dan kaumnya dan Nabi Musa dan kaumnya. Makna kedua adalah makna dan nilai agama, di mana seseorang mendapatkan pahala dari Allah ketika ia melaksanakan ritual Asyura dan nilai agama ini bernilai tinggi. Seorang teungku mengatakan, “Siapapun yang melaksanakan puasa di hari Asyura akan mendapatkan pahala dan pahalanya itu sama seperti pahala puasa Nabi Nuh dan pengikutnya dan Nabi Musa dan pengikutnya.”
Bubur Asyura itu sendiri memiliki beraneka warna dan makna di balik warnanya; warna putih melambangkan hari Asyura sebagai hari yang suci, sedangkan berbagai ramuan di dalam bubur Asyura melambangkan berbagai kejadian yang terjadi di hari Asyura. Pembagian bubur Asyura di hari Asyura mengumpamakan kebaikan Nabi Musa dan pengikutnya yang selamat dari kejaran Fir’aun, dan Nabi Nuh dan kaumnya yang selamat dari banjir besar. Khanduri bubur Asyura dikatakan menjadi simbol keselamatan Nabi Nuh dan pengikutnya dalam perahu dan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun.










