SIGLI – Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Relawan Muda Partai Aceh (RMPA) Kabupaten Pidie, kembali mengunjungi rumah warga yang terbakar di Gampong Sentosa, Kecamatan Grong-Grong, Kabupaten Pidie, Rabu 3 Maret 2021.
Kegiatan ini turut didampingi oleh Ketua DPRK Pidie Mahfuddin Ismail, S. Pd.I, M.A.P beserta Istrinya Hetti Zuliani, M.Pd dan Ketua KPA Pidie Bakhtiar Abdullah atau akrab disapa Pang Madon.
Kunjungan tersebut dalam rangka memantau langsung lokasi kebakaran juga menyerahkan bantuan masa panik kepada korban.
Sebagaimana diketahui, informasi yang beredar di berbagai akun media bahwa terjadi kebakaran 1 unit rumah Aceh berkontruksi kayu yang dihuni oleh 3 KK dan 15 Jiwa yang tinggal bersama di Desa Sentosa.
Relawan (RMPA-red) langsung melakukan koordinasi dengan relawan lainnya untuk rencana aksi hadir memberikan motivasi kepada keluarga korban. Ini karena program tersebut sudah berjalan secara kontinuen.
Menurut info geuchik setempat, pada saat terjadi kebakaran sempat membuat warga panik dan kesulitan, karena pada saat kejadian kebakaran berlangsung salah satu orang tua yang lagi sakit sempat terjebak di dalam kamar beserta cucu-cucunya yang masih kecil lagi bermain di perkarangan rumah sebelum api membesar.
“Memang tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun semua isi rumah habis dilalap si jago merah sampai rata dengan tanah sehingga membuat keluarga 3 KK tersebut tidur di rumah keluarganya sementara,” ujar pengurus RMPA, Suryadi.
“Sempat terjadi ketegangan dan adu mulut antara petugas pemadam dengan warga sempat, warga sandera mobil pemadam karena waktu pemadam kebakaran sampai di TKP, saat api membesar, namun mobil tersebut tidak ada air dalam tangki. Hal ini tentu disebabkan kelalaian petugas pemadaman. Wargapun sangat geram disaat kejadian berlangsung sehingga mengambil inisiatif memadam api dengan peralatan seadanya.”
Ketua DPRK Pidie Mahfuddin Ismail yang memantau langsung ke lokasi menyebutkan kelalaian petugas Damkar jangan sampai terulang lagi kedepan.
“Kita berharap manajemen BPBD sebagai penanggung jawab Damkar harus memperbaiki kinerja personil dan memonitoring peralatan operasional sebelum dikerahkan ke lapangan, sehinggal hal seperti ini tak terulang lagi,” kata dia.
“Kejadian ini sangat miris ketika kita dengar mobil Damkar datang ke lokasi kebakaran dengan kondisi tanki air kosong, yang kehadirannya seharusnya memadamkan api, eeeh…. ternyata kehadirannya malah membawa ‘api kemarahan’ masyarakat setempat. Tentu kejadian ini sangatlah fatal sekali, apakah kerja mereka tidak memakai SOP? Ini aneh sekali, jangan sampai kealpaan petugas membawa kemudaratan untuk masyarakat dan pribadinya sendiri,” kata pria yang akrab dengan semua kalangan ini.












