Kemajuan teknologi tak melulu berdampak positif. Salah satunya adalah handphone. Mudahnya akses informasi justru terkadang jadi pemutus silaturahmi.
Fase 1980 hingga 1990-an, saat akses informasi dan transfortasi masih sangat sulit, setiap individu sangat menghargai waktu dan silaturahmi. Padahal, janji untuk bertemu disampaikan melalui orang perorang atau surat.
Janji tadi dijaga dengan benar-benar hingga terealisasi pada hari yang dinantikan. Silaturahmi menjadi sangat berkualitas.
Demikian juga dengan kedai kopi. Dulu, kedai kopi bukan sekedar warung bagi masyarakat Aceh. Inilah yang membuat kedai kopi menjamur di Aceh. Tak seperti di provinsi lainnya. Hal ini pula yang membuat Aceh dikenal dengan sebutan ‘Negeri Seribu Warung Kopi.’
Kedai kopi, bagi warga Aceh, adalah lokasi silaturahmi antar sesama. Kedai kopi adalah tempat diskusi. Kedai kopi adalah pusat informasi.
Namun, kalau mau jujur, kesan ini terasa berbeda dengan keadaan sekarang. Saat komunikasi dan transfortasi menjadi mudah, tapi kualitas pertemuan justru lebih rendah.
Sebuah perbedaan zaman yang semakin hari semakin meinggalkan budaya bersilaturahmi pada saat berada di warung kopi.
Handphone mungkin bisa menjadi salah satu faktor hilangnya silaturahmi, dimana setiap warung kopi sekarang sudah dipenuhi dengan kalangan remaja yang datang ke warung kopi khusus untuk bermain game online.
Di saat kalangan tersebut sudah berkumpul sekarang sudah tidak ada lagi yang diawali dengan pembahasan paling hanya sekedar basa-basi saja, setelah itu langsung mencari tempat duduk yang nyaman dan cok sambung buat menambah daya batrai saat bermain game.
Di saat semuanya sudah ada mereka langsung mengeluarkan handphone dan menggunakan handset, dari situlah awal hilangnya silaturahmi.
Setelah mereka sibuk dengan dunia gamenya sendiri maka mereka lupa bahwa di sekitar mereka ada orang, tanpa mereka sadari disaat mereka sibuk bermain game.
Di situlah rasa kekeluargaan sudah tidak ada lagi, kekompakan dan kebersamaan hanya sekedar di meja warung kopi. Tidak ada lagi canda atau tawa yang biasa kita dengar di warung kopi, mendengan cerita, membuat rapat kampong atau bahkan berbagi keluh kesah, dimana masa-masa itu sudah tidak dapat di rasakan lagi.

Di situlah hilangnya salah satu budaya atau tradisi saat berada di warung kopi.
Untuk saat ini sangatlah sulit bagi kita untuk mencari teman yang di ajak ke warung kopi tidak sibuk dengan hp dan tidak bermain game. Kalaupun ada paling bisa dihitung karna semuanya sudah sibuk dengan dunia masing-masing dan sudah menjadi kebiasaan bagi mereka di saat datang ke warung kopi langsung memegang handphone.
Biasanya warung kopi bisa jadi salah satu tempat persinggahan bagi para keluarga untuk menghilangkan lelah pada saat berjalan jauh, tapi untuk sekarang tidak lagi, dimana di saat sampai di tempat persinggahan merekan bukanlah duduk dan bercerita bersama keluarga tapi mengeluarkan handphone dan membuat story atau status dimana itu sudah menjadi kebiasaan, bukan hanya di kalangan anak muda saja bahkan di kalangan orangtua juga seperti itu.
Maka dari itu rasa warung kopi sekarang sudahlah tidak meriah seperti dulu lagi, dimana warung kopi adalah tempat berkumpulkan suatu komunitas dari kalangan muda sampai orangtua, dimana warung kupi dulunya tempat berbagi cerita , dan sekarang tempat berbagi story atau status di dunia maya.
Sejauh itulah perbedaan warung kopi di jaman dulu dan sekarang, di mana rasa warung kopi dulu yang penuh canda dan tawa sekarang berubah seperti rasa kuburan.[]
Penulis adalah Zikrur Rahmat M.Pd, Ketua Prodi Penjas BBG Banda Aceh dan penikmat kopi Aceh.










