Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Dayah

Berwisata Rohani ke Dayah Ulee Titi

Admin1 by Admin1
28/06/2021
in Dayah
0

SEBUAH gerbang besar terpampang di tepi jalan Blang Bintang, kabupaten Aceh Besar. Di sana tertulis Dayah Ulee Titi.

Sejumlah pria muda terlihat lalu lalang. Mereka adalah para santri di dayah setempat. Jumlahnya mencapai ratusan.

Ada yang sedang mengulang di balai-balai kecil. Ada juga yang memegang sajadah hingga sikat gigi dengan tujuan ke kamar mandi.

Memasuki komplek putra Dayah Ulee Titi, suasana reliji benar-benar terasa. Para santri tampak menunduk ketika melihat ke arah kami.

Beberapa meter di sisi kiri gerbang, ada masjid yang sedang dalam pembangunan. Di sanalah, seorang pria muda yang memakai peci hitam dan kain sarung.

Ia tersenyum tatkala melihat kami.

“Kuburan abu di komplek ureung inong,” ujarnya.

Ia adalah Teungku Irfan Siddiq, salah seorang ustadz atau sebutan teungku dalam bahasa Aceh, yang mengajar di sana.

Ia kemudian mengajak rombongan kami memasuki komplek santriwati. Jalan menuju ke lokasi ini sedikit berliku.

Banyak mobil dan sepeda motor yang terparkir di sana. Maklum, pimpinan dayah ini, Waled Ibrahim Usman, baru saja meninggal dunia usai ditabrak pengendara motor. Hal ini pula yang membuat suasana dayah ramai dikunjungi para pelayat dari berbagai daerah.

Ada juga dari luar negeri hingga provinsi lainnya di nusantara.

Dayah Ulee Titi termasuk salah satu dayah tertua di Aceh. Dayah ini banyak melahirkan ulama-ulama besar.

Hal ini pula yang membuat pimpinan dayah Ulee Titi begitu dicintai oleh masyarakat Aceh dengan berbondong-bondong ziarah ke sana tanpa henti.

+++

Dayah Ulee Titi didirikan oleh Abu Ishaq Ulee Titi.

Beliau adalah ulama kharismatik yang berasal dari Siron Aceh Besar. Pada usia mudanya Abu Ishaq Ulee Titi belajar kepada banyak ulama kharismatik Aceh seperti Abu Hasan Kruengkalee dan Abu Hasballah Meunasah Kumbang.

Pada tahun 1987 beliau mendirikan sebuah dayah yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Dayah Ulee Titi yang berada di Desa Siron kawasan Aceh. Dayah Ulee Titi disebutkan sebagai kelanjutan dari lembaga pendidikan yang pernah digagas oleh seorang ulama yang dikenal dengan Teungku Syekh Muhammad Saman Siron yaitu salah satu ulama yang tergabung dalam organisasi ulama yang dibentuk oleh Tuwanku Raja Keumala.

 

Dimana beberapa ulama yang tergabung dalam lembaga bentukan Tuwanku Raja Keumala adalah Abu Hasan Kruengkalee, Abu Hasballah Indrapuri, Abu Syech Mud Blangpidie, Syekh Saman Siron dan banyak ulama lainnya.

Abu Ishaq Ulee Titi

Abu Ishaq Ulee Titi yang dikenal dengan sebutan Abu Chik Ulee Titi lahir di tahun 1903 dan wafat pada tahun 1997 dalam usia sepuh. Sejak kecil beliau telah dibekali dengan dasar-dasar keilmuan oleh orang tuanya. Memasuki usia remaja, Abu Ishaq Ulee Titi mendalami kajian keilmuannya kepada seorang ulama berpengaruh Aceh pada masanya yaitu Abu Haji Hasan Kruengkale.

Abu Kruengkalee adalah ulama lulusan Mekkah yang pernah belajar dibeberapa dayah sebelum berangkat ke Mekkah seperti Dayah Teungku Chik Keubok, Dayah Meunasah Baro, dan juga beliau lama belajar kepada ulama besar Yan Kedah Malaysia yaitu Teungku Chik Muhammad Arsyad Diyan yang merupakan ulama yang hijrah ke Yan bersama Teungku Chik Umar Diyan untuk membentuk jaringan para ulama baru.

Abu Kruengkalee juga sebagai salah satu Syekhul Masyayikh Ulama Aceh selain Abu Syech Mud Blangpidie dan Abuya Syekh Muda Waly al-Khalidy.

Kepada Abu Kruengkalee yang dikenal ahli dalam bidang Fiqih dan Tasauf, Abu Ishaq Ulee Titi belajar dengan segenap kesungguhan sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang ulama yang mumpuni dalam bidang keilmuannya.

Setelah menjadi alim, Abu Ishaq merasa masih dangkal ilmunya, sehingga mengantarkan beliau untuk belajar dan mematangkan keilmuannya kepada ulama besar Aceh lainnya yaitu Abu Hasballah Meunasah Kumbang yang dikenal dengan Teungku Chik Meunasah Kumbang seorang ulama dan pimpinan dayah.

Abu Hasballah Meunasah Kumbang merupakan murid dari ulama pejuang lulusan Mekkah yaitu Teungku Chik Pantee Geulima. Pada masanya perang Aceh, eranya Teungku Chik Di Tiro, Abu Meunasah Kumbang mendirikan dayah untuk mengawal agama, dan dayah beliau diresmikan oleh gurunya Teungku Chik Pantee Geulima. Abu Meunasah Kumbang juga mertua dari Abu Syafi’i Aron pendiri Dayah Hadiqatul Ma’arif ayahnya Teungku Ilyas Aron. Dan dari jalur Abu Meunasah Kumbang, lahir seorang cucunya pelanjut keilmuan dan keberanian Teungku Chik Meunasah Kumbang yaitu al Haqir Wal Faqir Teungku Ahmad Dewi seorang ulama Mujahid.

Tidak diketahui berapa tahun Abu Ishaq Ulee Titi belajar kepada Abu Hasballah Meunasah Kumbang, namun yang pasti telah mengantarkan Abu Ishaq Ulee Titi menjadi ulama yang rasikh ilmunya.

Setelah belajar lama kepada ulama tersebut, Abu Ishaq pulang ke kampung halamannya di Siron Aceh Besar. Ketika tiba di kampungnya, Abu Ishaq Ulee Titi belum dikenal sebagai ulama yang mendalam ilmunya. Beliau hidup dengan sederhana, jauh dari kemasyuhuran dan lebih memilih ‘khumul’ menutup jati dirinya. Barulah pada sebuah kesempatan seorang ulama yang telah masyhur Abu Seulimum datang kepada beliau untuk muzakarah beberapa persoalan keilmuan tingkat tinggi.

Setelah itu barulah masyarakat mengetahui betapa dalamnya keilmuan Abu Ishaq Ulee Titi. Dan di antara ulama yang sering berkunjung kepada Abu Ishaq Ulee Titi apabila ada keperluan ke Banda Aceh adalah Abu Abdul Aziz Samalanga atau Abon Samalanga, biasanya beliau ditemani oleh muridnya Abu Daud Lhoknibong.

Abu Ishaq Ulee Titi dikenal sebagai ulama yang identik dengan Tasauf, hidup beliau sederhana dan cenderung ‘uzlah’. Namun demikian pada tahun 1987 atas inisiatif masyarakat, Abu Ishaq Ulee Titi diminta untuk memimpin sebuah lembaga pendidikan yang ketika itu sudah meredup dan hampir mati.

Berkat tangan dinginnya, Abu Ishaq Ulee Titi perlahan namun pasti kembali membangun lembaga pendidikan tersebut yang kemudian dikenal dengan Dayah Ulee Titi.

Beliau melanjutkan estafet kepemimpinan setelah sebelumnya dipimpin oleh Teungku Syekh Saman Siron. Tidak diketahui mengenai rekam jejak Syekh Muhammad Saman ini, namun dalam beberapa catatan disebutkan di antara teman seperguruan Abu Kruengkale dan Abu Indrapuri ketika belajar di Yan Kedah Malaysia dan Mekkah adalah Teungku Syekh Muhammad Saman.

Sedangkan Prof Ali Hasjmi menyebutkan bahwa Syekh Muhammad Saman Siron adalah ulama yang tergabung dalam organisasi ulama yang dibentuk oleh Ulama bangsawan Tuwanku Raja Keumala.

Pada tahun 1987 Dayah Ulee Titi mulai berdiri kembali hingga 1997 Dayah Ulee Titi dipimpin oleh Abu Chik Ulee Titi Abu Ishaq al-Amiry.

Setelah beliau wafat di tahun 1997, dayah ini dilanjutkan oleh anaknya yang juga seorang ulama kharismatik Aceh yaitu Abu H Athaillah Ishaq Al-Amiry Ulee Titi.

Abu Athaillah adalah ulama lulusan Dayah Budi Lamno di bawah Pimpinan Abu Ibrahim Budi Lamno dan Abu Athaillah Ulee Titi juga lama belajar kepada Abu Abdullah Tanoh Mirah Pendiri Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah murid Abuya Syekh Muda Waly.

Seperti Abu Ishaq, Abu Athaillah Ulee Titi melanjutkan estafet keilmuan sang ayah. Bahkan di tangan Abu Ataillah Ulee Titi Dayah Ulee Titi telah menjadi sebuah dayah besar yang diperhitungkan dalam kancah keilmuan Islam Aceh.

Selain memiliki ayah yang ulama, Abu Athaillah Ishaq juga menantu dari ulama kharismatik Aceh Abu Daud Zamzami Ateuk Anggok murid Abuya Muda Waly dan Abu Kruengkalee. Abu Daud Zamzami pernah beberapa tahun mengajar dan belajar di Dayah Ulee Titi sepulang menuntut ilmu di Darussalam Labuhan Haji.

Selain Abu Daud Zamzami, murid Abu Ishaq Ulee Titi yang pernah belajar beberapa tahun kepadanya adalah Abu Muhammad Zamzami Lam Ateuk pimpinan Dayah Darul Muarrif Istiqamatuddin yang merupakan guru dari Abu Mahmuddin Pimpinan Dayah Serambi Aceh, ulama berpengaruh di kawasan Aceh Barat.

Setelah beberapa generasi, puncak pimpinan dayah beralih ke tangan Waled Ibrahim Usman, hingga beliau meninggal dunia akibat kecelakaan.

Namun, beberapa bulan usai pemakaman, para penziarah masih ramai berkunjung ke sana.

“Semoga almarhum Abu diberi tempat yang layak di sana,” ujar Teungku Irfan.

+++

Dayah Ulee Titi sendiri terdapat dua komplek. Komplek untuk santri lelaki dan komplek santriwati.

“Jumlah santriwati saja mencapai ratusan orang,” ujar Teungku Irfan.

Dayah ini menjadi pusat rujukan ilmu agama di Aceh. Banyak orang tua yang ingin memasukan anaknya untuk menjadi santri di dayah ini.

Ini karena para lulusan Dayah Ulee Titi dikenal memiliki keilmuan yang tinggi di tengah-tengah masyarakat Aceh.

Dayah ini juga jadi tempat warga dari berbagai penjuru untuk belajar agama serta mendalami ibadah. Terutama kala bulan Ramadhan tiba.

Ada juga yang hanya sekedar berkunjung untuk wisata rohani. [Advertorial]

Tulisan ini merupakan hasil kerjasama atjehwatch.com dengan Dinas Kebudayaan dan  Pariwisata Aceh dalam rangka Promosi Wisata Islami (Dayah) di Aceh.

Previous Post

Polres Lhokseumawe Sosialisasi Protkes dan Tegur Pedagang yang Tidak Pakai Masker

Next Post

Warga Kembali Keracunan Gas, Anggota DPRA Nilai Medco Tidak Komitmen

Next Post

Warga Kembali Keracunan Gas, Anggota DPRA Nilai Medco Tidak Komitmen

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

KNPI dan IMM Abdya Soroti Pemanggilan Wartawan oleh Polda Aceh

KNPI dan IMM Abdya Soroti Pemanggilan Wartawan oleh Polda Aceh

01/04/2026
Kepala Daerah Diminta Aktifkan Posko untuk Percepatan Data Huntap

Kepala Daerah Diminta Aktifkan Posko untuk Percepatan Data Huntap

01/04/2026
Nyan, 4 Santri Al Zahrah Lulus SNBP 2026, Satu di Fakultas Teknik Pertanian USK

Nyan, 4 Santri Al Zahrah Lulus SNBP 2026, Satu di Fakultas Teknik Pertanian USK

01/04/2026
Krak, 7 Murid SMAN 1 Blangjerango Gayo Lues Lulus SNBP 2026 di Unimed dan USK

Krak, 7 Murid SMAN 1 Blangjerango Gayo Lues Lulus SNBP 2026 di Unimed dan USK

01/04/2026
Wali Nanggroe: Semua Pihak Harus Dukung Langkah BNN Berantas Narkoba

Wali Nanggroe: Semua Pihak Harus Dukung Langkah BNN Berantas Narkoba

01/04/2026

Terpopuler

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

Rotasi Jabatan: AKP Dedy Miswar Putra Terbaik Pidie, Pindah ke Polres Bireuen

27/03/2026

KPA Pase Mulai ‘Gerah’ dengan Kepemimpinan Abang Samalanga di DPR Aceh

67 Murid SMAN 1 Peureulak Lulus SNBP 2026, 5 Diantaranya di Fakultas Kedokteran

Kapolda Aceh Diminta Tinjau Ulang Pemanggilan Jurnalis Bithe.co, FJA Abdya Ingatkan MoU Polri dengan Dewan Pers

STAI Tgk. Chik Pante Kulu Banda Aceh Jalin Sinergi Strategis dengan IKADIN dan YARA

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com