SIGLI – Dua puluh tiga tahun setelah wafatnya, nama Abu Muhammad Ali Alfalaki Teupin Raya masih hidup dalam ingatan dan penghormatan masyarakat Aceh. Hal itu terlihat dari membludaknya jamaah yang menghadiri Haul ke-23 Abu Muhammad Ali Alfalaki di Masjid Baitul Istiqamah Teupin Raya, Kabupaten Pidie, Rabu 3 Juni 2026.
Ribuan jamaah dari berbagai kabupaten/kota di Aceh memadati kompleks masjid sejak sore hari, Para jamaah datang bukan sekadar mengikuti agenda tahunan, melainkan untuk mengenang sosok ulama yang dikenal luas karena keilmuan dan kontribusinya dalam bidang ilmu falak (astronomi Islam) yang mengharumkan nama Aceh hingga tingkat internasional.
Suasana khidmat menyelimuti rangkaian acara yang diawali dengan shalat Isya berjamaah, dilanjutkan doa dan zikir bersama yang dipimpin Gurei Mahyeddi Tampui Trienggadeng, Pidie Jaya, alumni Dayah Darussa’adah Pusat Teupin Raya.
Ketua Panitia Pelaksana, Tgk Muhammad Usman, yang juga Imum Mukim Kemukiman Teupin Raya, mengatakan haul tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa besar Abu Muhammad Ali Alfalaki dalam pengembangan keilmuan Islam, khususnya ilmu falak yang menjadi salah satu disiplin penting dalam penentuan waktu ibadah dan kalender Islam.
“Haul ini bukan hanya mengenang hari wafat beliau, tetapi juga menjadi momentum menghidupkan kembali warisan pemikiran, keilmuan, dan perjuangan yang telah beliau tinggalkan kepada umat,” ujar Tgk Muhammad Usman.
Menurutnya, Abu Muhammad Ali Alfalaki merupakan salah satu ulama Aceh yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan ilmu falak.
Keahlian dan dedikasinya membuat namanya dikenal tidak hanya di Aceh, tetapi juga di berbagai daerah bahkan di luar negeri.
Tingginya antusiasme masyarakat yang hadir menunjukkan bahwa warisan keilmuan Abu Muhammad Ali Alfalaki masih terus dirasakan hingga kini.
Banyak jamaah yang rela menempuh perjalanan jauh demi mengikuti doa bersama dan mengenang sosok ulama yang dikenal sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.
Lebih dari sekadar acara seremonial, haul tersebut menjadi ruang pertemuan para ulama, santri, alumni Dayah Darussa’adah, serta masyarakat dari berbagai latar belakang.
Di tengah arus perubahan zaman, kegiatan itu menjadi simbol kuat bahwa tradisi menghormati ulama dan menjaga sanad keilmuan tetap hidup di Aceh.
Panitia berharap generasi muda dapat meneladani semangat belajar, ketekunan, dan pengabdian Abu Muhammad Ali Alfalaki dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Sebab, menurut tokoh ulama, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi memastikan warisan keilmuan para ulama terus diteruskan oleh generasi berikutnya.
Diketahui, Masjid Baitul Istiqamah yang juga berada satu komplek dengan Dayah Darusa’adah Pusat Teupin Raya, yang juga telah melahirkan banyak Ulama2 di Aceh dan melahirkan 100 lebih cabang Dayah Darusa’adah di seluruh Aceh dan Luar negeri.
Beliau juga telah melahirkan 40 karangan Kitap dgn kualifikasi ilmu Falak, fikih, tasauf, nahu, saraf, tauhid, tarikh dan ubudiayah lainnya
Haul ke-23 tersebut turut dihadiri sejumlah ulama kharismatik Aceh, di antaranya Abu Tanjong Bungong, Abiya Jeunieb, serta para teungku dan alumni Dayah Darussa’adah dari seluruh Aceh. Kehadiran mereka semakin menegaskan posisi Abu Muhammad Ali Alfalaki sebagai salah satu tokoh ulama penting yang meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah pendidikan dan keilmuan Islam di Aceh. [Mul]










