GERBANG utama terukir rapi. Ada beberapa pria muda yang menyapa di pintu masuk. Mereka adalah petugas piket. Sedikit lebih senior di antara santri lainnya.
Setiap warga yang masuk diwajibkan cuci tangan dengan air serta sabu.
Hal ini merupakan salah satu protocol kesehatan yang diterapkan di sana selama masa pandemi.
“Teungku masuk saja ke sana. Parkirnya sebelah sana,” ujar seorang santri di pintu masuk.
Ia menunjuk ke arah kiri. Di sana ada beberapa roda empat yang terparkir rapi.
Suasana dayah sedikit longgar dari biasanya. Maklum para santri sedang libur Idul Fitri. Keadaan lain juga dipengaruhi karena factor pandemi.
“Usai Idul Adha nanti baru ramai kembali. Saat tahun ajaran baru dimulai nanti,” ujar santri tadi lagi.
Ya, dayah yang kami kunjungi adalah salah satu dayah tertua dan terbesar di Aceh.
Dayah tersebut adalah Lembaga Pendidikan Islam Ma‘hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (LPI MUDI Mesra) yang berlokasi di Desa Mideun Jok, Kemukiman Mesjid Raya, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.
Mungkin hampir tak ada orang Aceh yang tak mengenal dayah ini. Ini karena Dayah MUDI merupakan rujukan bagi warga di Aceh dalam pemahaman agama Islam.
Dari situs mudimesra.com diketahui, Dayah MUDI Mesjid Raya ini telah didirikan seiring dengan pembangunan Mesjid Raya Poe Teumeureuhom yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Pimpinan dayah ini yang pertama dikenal dengan nama Faqeh Abdul Ghani. Namun sayang khazanah ini tidak tercatat, berapa lama beliau memimpin lembaga ini, dan siapa penggantinya kemudian.
Barulah pada 1927, dijumpai secara jelas catatan tentang kepemimpinan dayah ini. Mulai dari tahun tersebut Dayah MUDI dipimpin oleh Al-Mukarram Tgk. H. Syihabuddin bin Idris dengan para santri masa itu berjumlah 100 orang putra dan 50 orang putri. Mareka diasuh oleh lima orang tenaga pengajar lelaki dan dua orang guru putri. Sesuai dengan kondisi zaman pada masa itu, bangunan asrama hunian para santri merupakan barak-barak darurat yang dibangun dari bambu dan rumbia.
Setelah Tgk. H. Syihabuddin bin Idris wafat pada tahun 1935 Dayah MUDI dipimpin oleh adik ipar beliau Al-Mukarram Tgk. H. Hanafiah bin Abbas atau lebih dikenal dangan gelar Tgk. Abi. Jumlah pelajar pada masa kepemimpinan beliau sedikit meningkat menjadi 150 orang putra dan 50 orang putri. Kondisi fisik bangunan asrama dan balai pengajian tidak berbeda dengan yang ada pada masa kepemimpinan Almarhum Tgk. H. Syihabuddin bin Idris, masih berbentuk barak-barak darurat. Dalam masa kepemimpinan beliau, tugas memimpin dayah sempat diperbantukan kepada Tgk. M. Shaleh selama dua tahun, yaitu ketika beliau berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji dan memperdalam keilmuan beliau.

Setelah Almarhum Tgk. H. Hanafiah wafat (1964 M) pesantren tersebut dipimpin oleh salah seorang menantu beliau, yaitu Tgk. H. Abdul Aziz bin M. Shaleh. Almukarram yang kerap disapa dengan panggilan Abon ini digelar “Al-Mantiqi” karena spesialisasi beliau dalam bidang logika. Beliau adalah murid dari Abuya Muda Wali pimpinan Dayah Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Labuhan Haji Aceh Barat.
Semenjak kepemimpinan beliau, pesantren tersebut terus bertambah muridnya terutama dari Aceh dan Sumatera. Dari segi sarana dan prasarana pun sudah mengalami perkembangan. Pembangunan tempat penginapan mulai diadakan perubahan dari barak-barak darurat kepada asrama semi permanen berlantai dua dan asrama permanen berlantai tiga. Untuk pelajar putri dibangun asrama berlantai dua yang dapat menampung 150 orang sandri di lantai dua, sedangkan lantai dasar digunakan untuk mushalla.
Setelah Tgk. H. Abdul ’Aziz bin M. Shaleh wafat pada tahun 1989, pergantian kepemimpinan dayah ini ditetapkan melalui kesepakatan para alumni dan masyarakat. Setelah melalui permusyawaratan, para alumni mempercayakan kepemimpinan dayah kepada salah seorang menantu Abon, yaitu Tgk. H. Hasanoel Bashry bin H. Gadeng. Beliau adalah murid senior lulusan dayah itu sendiri yang sudah berpengalaman mengelola kepemimpinan dayah semenjak Abon mulai sakit-sakitan.
Di masa kepemimpinan Abu MUDI, dayah tersebut mengalami kemajuan yang pesat. Jumlah pelajar yang menuntut ilmu pada dayah tesebut semakin bertambah. Para pelajar ini datang dari berbagai daerah baik dari dalam maupun dari luar Provinsi Aceh.
Adapun jenjang pendidikan di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga terdiri dari Mu’adalah Aliyah (3 tahun), Salafiyah (3 tahun), atau Ma’had ‘Aly (4 tahun).
Santri yang baru masuk ke Dayah MUDI akan belajar di jenjang Mu’adalah Aliyah I atau disebut juga kelas 1 dengan mata pelajaran yang terlampir di bawah. Setelah menyelesaikan program Mu’adalah Aliyah, santri yang berprestasi mendapatkan opsi untuk belajar di Ma’had Aly yang berijazah setara sarjana S1 dan telah diakui oleh pemerintah. Bagi yang tidak, akan melanjutkan pendidikan di jenjang Salafiyah (kelas 4) dan berhak mendapatkan ijazah dayah setelah tiga tahun.
Di setiap jenjang juga terdapat pelajaran pendukung/ekstrakurikuler dalam bentuk pembelajaran Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Tahfiz Al-Qur’an, Metode Dakwah, seni suara, seni lukis, kursus menulis, kursus menjahit, budidaya tanaman, praktik Ekonomi Mikro, dan praktik lapangan (mengajar di dayah cabang dan TPQ).
+++
Setiap tahun, jumlah santri dan santriwati yang mendaftar di MUDI Mesra Samalanga mencapai ribuan orang.
Namun hanya sedikit dari mereka yang lolos ke dayah terbesar di Aceh itu diberbagai jenjang.
“Persaingan sedikit ketat. Ini karena dayah tampung yang terbatas. Sedangkan peminat sangat banyak,” kata Tgk Muhammad Yasir Lamno, salah seorang guru setempat.
Selain pendidikan umum, calon santri di Dayah MUDI Mesra juga dites membaca Alquran. Kemudian juga dites berupa kitab Matan Taqrib, Kitab Jurumiyah, Kitab Awamel, Kitab Zammon dan Matan Bina.
“Tentu tesnya berbeda untuk tingkatan dan jenjang,” kata dia.
Calon santri di MUDI juga bukan hanya berasal dari Aceh tapi nasional dan mancanegara. Demikian juga para alumni dayah tersebut.
“Alhamdulillah setiap tahun selaku berkumpul. Tahun ini karena pandemi saja,” katanya.
Aktivitas di dayah MUDI terbilang padat setiap harinya. Selain aktivitas belajar mengajar, para pengunjung di sana juga tak pernah berhenti. Baik local maupun nasional.
Mereka yang datang mulai dari masyarakat bisa, tokoh Aceh dan nasional untuk sekedar silaturahmi dan memperoleh nassehat rohani, hingga sejumlah ulama dari timur tengah.
Beberapa tahun lalu, tiga ulama besar dari Suriah Syekh Adnan Al-Alfyuni beserta rombongan yaitu Syekh Mahmud dan Syekh Umar Dib juga melakukan kunjungan silaturrahmi ke Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.
Presiden Jokowi dan rombongan juga berkunjung ke MUDI saat singgah ke Aceh beberapa tahun lalu.
“Semua kita sambut dengan tangan terbuka. Apalagi jika ingin melihat sesuatu yang positif di sini,” kata dia. [Advertorial]
Pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya dari masa ke masa
- Tgk. Faqeh Abdul Ghani
- Tgk. H. Syihabuddin bin Idris (1927-1935)
- Tgk. H. Hanafiah bin Abbas (1935-1964)
- Tgk. H. Abdul `Aziz bin M. Shaleh (1964-1989)
- Tgk. H. Hasanoel Bashry bin H. Gadeng (1989-sekarang)
Tulisan ini adalah hasil kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata islami (dayah) di Aceh.











