Oleh : Naura Azkia*
Memasuki perayaan maulid Nabi, tentunya menjadi momentum yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat muslim, khususnya masyarakat bagi Aceh. Perayaan maulid Nabi disebut dengan Khanduri molod. Banyak sekali nilai positif yang didapat dari perayaan maulid Nabi, salah satunya sebagai ajang silaturrahmi.
Selain itu, maulid juga sering disebut-sebut sebagai ajang perbaikan gizi. Bagaimana tidak, berbagai menu masakan lauk pauk tersedia untuk di santap dan dinikmati bersama-sama. Makanan yang dihidangkan pun bermacam ragam, mulai dari daging, ikan, telur, sayur-sayuran, mie, buah–buahan, dan lain sebagainya,. Tidak ketinggalan, nasi yang dibungkus dengan daun pisang (bu kulah) sebagai menu utama menambah kenikmatan saat menyantap hidangan nasi maulid (bu molod)
Berbicara tentang sajian makanan pada perayaan maulid, bukan hanya sekedar cita rasa makanan yang nikmat semata. Akan tetapi ada hal yang perlu di perhatikan agar makanan yang disantap menjadi berkah dan terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Misalnya penyakit akibat makanan yang dikonsumsi, atau bahkan keracunan massal. Seperti yang terjadi di Gampong Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Selasa (19/10/2021). Puluhan warga mengalami keracunan massal akibat menyantap bu molod pada acara maulid. Gejala yang dialami korban berupa pusing,muntah-muntah, sakit perut, hingga sesak nafas.
Lantas, agar hal tersebut dapat diwaspadai dan tidak terulang kembali, ada beberapa tips yang dapat dilakukan oleh pengolah makanan, agar makanan terhindar dari penyebab penyakit. Berikut Tipsnya :
Keadaan bahan makanan
Pastikan semua jenis bahan makanan terjamin kesegarannya. Terutama bahan-bahan makanan yang mudah membusuk atau rusak seperti daging, ikan, susu, telor, makanan dalam kaleng, buah, dsb. Salah satu upaya mendapatkan bahan makanan yang baik dapat dilihat melalui ciri-ciri fisik dan mutunya dalam hal bentuk, warna, kesegaran, bau dan lainnya. Bahan makanan yang baik terbebas dari kerusakan dan pencemaran baik cemarn fisik, kimia termasuk pestisida, biologis dan radioaktif.
Cara penyimpanan bahan makanan
Kesalahan dalam cara penyimpanan bahan dapat menurunkan mutu dan keamanan makanan.
Cara penyimpanan yang memenuhi syarat higiene sanitasi makanan adalah sebagai berikut: Penyimpanan harus dilakukan di tempat khusus (gudang) yang bersih dan memenuhi syarat. Begitupun dengan barang-barang perlu disusun dengan baik dan mudah diambil, hal yang penting adalah terhindar dari lalat, tikus, serangga, dan hewan lainnya. untuk produk yang mudah busuk atau rusak dapat disimpan pada suhu yang dingin.
Proses pengolahan
Pada proses / cara pengolahan makanan ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu: Tempat pengolahan makanan: Dapur menjadi tempat dalam pengolahan makanan, karena itu kebersihan dapur dan lingkungan sekitarnya harus selalu terjaga dan diperhatikan.
Kemudian tenaga pengolah makanan / penjamah makanan. Menurut Depkes RI (2006) penjamah makanan adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan pengangkutan sampai penyajian. Dalam proses pengolahan makanan, peran dari penjamah makanan sangatlah besar peranannya.
Penjamah makanan ini mempunyai peluang untuk menularkan penyakit. Banyak infeksi yang ditularkan melalui penjamah makanan, antara lain Staphylococcus aureus ditularkan melalui hidung dan tenggorokan, kuman Clostridium perfringens, Streptococcus, Salmonella dapat ditularkan melalui kulit. Oleh sebab itu penjamah makanan harus selalu dalam keadan sehat dan terampil. Kebersihan penjamah makanan merupakan kunci dalam pengelohan makanan yang aman dan sehat.
Jika salah dalam proses pengolahan makanan, bisa-bisa makanan yang kita kira sudah sehat dan menyehatkan, malah menjadi sumber penyakit yang dapat merugikan kesehatan. Agar pengolahan makanan mendapatkan hasil yang sempurna dan menjadi asupan yang berguna untuk kesehatan tubuh, diperlukan pengetahuan mendasar tentang baik buruknya ragam metode pengolahan pada makanan.
Jika ingin memilih sayuran, pilihlah sayuran dan buah yang ditanam secara organik (tanpa pestisida). Buah dan sayuran semacam ini sudah bisa didapatkan secara mudah di beberapa pasar swalayan.
Untuk pemilihan daging, pilihlah daging yang paling segar. Hindari daging yang sudah berwarna kebiru-biruan, apalagi yang sudah mengeluarkan aroma sedikit busuk. Untuk pemilihan ikan, pilihlah ikan yang paling segar, begitu juga dengan daging ayam. Walau tidak menjadi jaminan, daging yang lebih segar bebas dari bakteri dan kuman, dengan pengolahan yang tepat, volume bakteri dan kuman pada daging bisa dikurangi. Setidak-tidaknya belum ada proses pembusukkan yang mengandung kuman serta bakteri yang jauh lebih berbahaya bagi kesehatan.
Selain pemilihan bahan makanan, pemilihan alat masak juga perlu diperhatikan. Jangan asal memilih dan menggunakan peralatan masak. Pastikan peralatan masak yang digunakan tidak terlapisi bahan kimia.
Cara pengangkutan makanan yang telah masak
Sudah menjadi tradisi saat maulid, makanan yang sudah diolah di rumah akan diantarkan ke masjid atau meunasah untuk di bagikan kepada masyarakat. Dalam pengangkutan/pengantaran makanan dari rumah ke masjid atau meunasah perlu diperhatian agar tidak terjadi kontaminasi baik dari serangga, bakteri, terutama debu. Wadah yang dipergunakan harus utuh, kuat dan tidak berkarat atau bocor.
Cara penyimpanan makanan masak
Penyimpanan makanan masak dapat digolongkan menjadi dua, yaitu tempat penyimpanan makanan pada suhu biasa dan tempat penyimpanan pada suhu dingin. Makanan yang mudah membusuk sebaiknya disimpan pada suhu dingin yaitu < 40C. Untuk makanan yang disajikan lebih dari 6 jam, disimpan dalam suhu -5 s/d -10C.
Cara penyajian makanan masak
Pada acara maulid, makanan akan dibagikan oleh petugas atau panitia perayaan maulid, Saat proses pembagian makanan yang perlu diperhatikan adalah agar makanan tersebut terhindar dari pencemaran, petugas dipastikan sudah mencuci tangan dan tidak lupa memakai masker (mengingat pandemic masih melanda negeri ini), peralatan yang digunakan dalam kondisi baik dan bersih, petugas yang menyajikan harus sopan serta senantiasa menjaga kesehatan dan kebersihan pakaiannya.
Terkadang kita sering melupakan indikator kesehatan dalam pengolahan makanan dan lebih berfokus pada tampilan (estetika) agar makanan yang disajikan menarik. Padahal makanan yang indah dan nikmat belum tentu baik.
Oleh sebab itu melalui tips yang telah di sebutkan, penulis mempunyai harapan besar agar menumbuhkan kesadaran bagi kita semua, agar lebih memperhatikan hygienitas sanitasi makanan sesuai dengan standar kesehatan. Hal ini kita lakukan untuk terciptanya lingkungan yang bersih ditempat pengolahan makanan, agar kita terbebas dari penyakit yang diakibatkan oleh situasi lingkungan yang tidak sehat.
*Penulis adalah Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala








