Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Sejarah

Mengingat 126 Tahun Kematian Tragis Meninggal Teuku Nyak Makam

Admin1 by Admin1
23/07/2022
in Sejarah
0
Mengingat 126 Tahun Kematian Tragis Meninggal Teuku Nyak Makam

Jakarta – Saat itu, sebagian besar wilayah Aceh ingin dikuasai oleh Belanda yang sedang menanti kesempatan dan mewujudkan niat jahatnya itu. Namun, niat jahat Belanda ini dengan cepat diketahui oleh Sultan Ibrahim Mansyursyah (1838-1870), Sultan Aceh terbesar di abad ke-19. Akibatnya, Sultan pun meminta bantuan kepada seluruh warga Aceh, mulai dari orang biasa sampai para petinggi. Salah satunya adalah Panglima Teuku Nyak Makam.

Setelah Sultan melihat prestasi yang berhasil dicapai dalam berpolitik, cerdik memikirkan strategi militer, dan memiliki kepemimpinan yang bagus, barulah Teuku Nyak Makam diangkat menjadi Mudabbiru syarqiah, yaitu penegak kedaulatan Aceh di bagian timur dan sebagai Panglima Mandala Kerajaan Aceh di Sumatera Timur dan Aceh Timur dengan wakilnya Teuku Nyak Muhammad (Nyak Mamad) dari Peureulak.

Dengan pengangkatan dan kemampuan cerdiknya dalam berperang, membuat Belanda memiliki rasa ketakutan yang hebat terhadap Teuku Nyak Makam. Belanda menilai bahwa setiap orang Aceh sama dengan 100 orang tentara Belanda. Namun untuk Teuku Nyak Makam, Belanda menilai 10 kali lipat lagi dari setiap orang Aceh dan ini bernilai sama dengan 1.000 orang Belanda. Penilaian ini sesuai dengan fakta sejarah seperti yang dikutip dari buku Panglima Teuku Nyak Makam. Dengan kekuatan sedemikian, membuat Belanda selalu mencari cara untuk bisa mengalahkan Teuku Nyak Makam.

Kematian Tragis Teuku Nyak Makam

Akhirnya pada 21 Juli 1896, tentara Belanda mendapatkan kabar bahwa Teuku Nyak Makam sedang berada dalam keadaan lemah. Beliau sedang mengalami sakit berat di Lamnga dan jika Belanda menyerangnya, pasti dapat dihancurkan dengan cepat. Setelah mendengar kabar tersebut, Belanda yang dipimpin oleh Letnan Kolonel G.F. Soeters segera menuju Lamnga, tepat pada 21 Juli menjelang 22 Juli 1896.

Pasukan Belanda datang dengan strategi mengepuk dan berkombinasi bersama satu detasemen dari batalion yang ditempatkan di Kuala Gigieng. Pasukan ini berjumlah kurang lebih 2.000 orang tentara. Dengan kekuatan dan jumlah pasukan yang banyak ini, Belanda baru sanggup menghadapi seorang Panglima Aceh, Teuku Nyak Makam yang sedang sakit parah.

Mengutip dari jurnal yang berjudul Teuku Panglima Polem’s Purse, serangan Belanda yang secara tiba-tiba ini membuat desa Lamnga tidak mempersiapkan strategi perang karena tidak ada yang memberitakan sebelumnya. Saat itu, rata-rata penduduk desa Lamnga adalah perempuan, kakek-kakek yang sudah rentan, dan anak-anak kecil. Keadaan ini juga tidak dapat membendung ribuan tentara Belanda secara tiba-tiba untuk menyerang Teuku Nyak Makam yang berbaring lemah tak berdaya di atas tempat peristirahatannya.

Dengan kebengisannya, Belanda menangkap Panglima Teuku Nyak Makam kemudian diangkat dan dibawa dengan tandu. Kemudian, istri dan penghuni lainnya yang berada di kediaman Nyak Makam juga digiring oleh para tentara dengan pisau tajam ke arah badan mereka. Teuku Nyak Makam dan sang istri dibawa menuju kampung Gigieng, tempat Letnan Kolonel Soeters sedang menunggunya.

Meskipun wajah pucat pasi, badan kurus hanya tinggal kulit pembalut tulang, tetapi itu semua tidak menghentikan Kolonel Soeters untuk menyerang Teuku Nyak Makam. Soeters memancung kepala Teuku Nyak Makam dalam keadaan yang terikat dan terbaring di atas tandunya. Setelah itu, tubuh Nyak Makam dicincang sampai hancur secara bergantian oleh para 2.000 tentara Belanda lainnya dengan penuh semangat. Kematian Teuku Nyak Makam disaksikan secara langsung oleh istri dan anaknya. Selain itu, penduduk Lamnga pun digiring oleh pasukan Belanda untuk menyaksikan kematian Teuku Nyak Makam di Kuala Gigieng, Aceh.

Sumber: Tempo.co

Previous Post

Oknum Karyawan BAS di Singkil Diduga Gelapkan Uang Pajak Daerah Rp1,4 Miliar

Next Post

Pertamina Salurkan 4.800 Tabung Elpiji Baru untuk Aceh

Next Post

Pertamina Salurkan 4.800 Tabung Elpiji Baru untuk Aceh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Lagi, Senator Azhari Cage Pulangkan Jenazah Warga Aceh Tamiang dari Jakarta

Lagi, Senator Azhari Cage Pulangkan Jenazah Warga Aceh Tamiang dari Jakarta

05/04/2026
Tarif Resmi Ditegaskan, Dishub Aceh Barat Tindak Parkir Tak Sesuai Aturan

Tarif Resmi Ditegaskan, Dishub Aceh Barat Tindak Parkir Tak Sesuai Aturan

05/04/2026
Satgas PRR Aceh Terus Lakukan Pemutakhiran Data Korban Bencana

Satgas PRR Aceh Terus Lakukan Pemutakhiran Data Korban Bencana

05/04/2026
Tito Pastikan Percepatan Penanganan Pengungsi di Aceh

Tito Pastikan Percepatan Penanganan Pengungsi di Aceh

05/04/2026
Iran Buka Diplomasi Bilateral dengan Negara Tetangga, Ini Syaratnya

Iran Buka Diplomasi Bilateral dengan Negara Tetangga, Ini Syaratnya

05/04/2026

Terpopuler

Bupati Sibral Salurkan Jadup untuk 15.377 Jiwa Warga Pidie Jaya

Bupati Sibral Salurkan Jadup untuk 15.377 Jiwa Warga Pidie Jaya

03/04/2026

Saat Hasan Tiro ‘Menampar’ Abang Samalanga dan Mualem

Mengingat 126 Tahun Kematian Tragis Meninggal Teuku Nyak Makam

Hapus JKA = Bunuh Hak Rakyat, Fadhlullah TM Daud: Pemerintah Aceh Jangan Main Api

Sumsel United Akui Persiraja Banda Aceh Jago Kandang

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com