Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

Filosofi Seni Seudati dan Keberlangsungan Seni Budaya Aceh

Admin1 by Admin1
26/07/2022
in Feature
1

Oleh Ari J Palawi – Seudati dan Keberlangsungan Seni Budaya Aceh

Pada suatu malam di akhir April lalu, awak redaksi dapat kesempatan berbincang dengan Ari J Palawi, ahli Etnomusikologi bergelar doktor yang kini tengah mengembangkan gampong wisata internasional di Sibreh, Aceh Besar. Tema perbincangan waktu itu adalah Seudati dan seni budaya Aceh. 

Seudati merupakan seni yang di dalamnya mengadopsi beberapa jenis seni, di antaranya seni tari (dance) dan seni suara (melalui syair yang dituturkan). Seudati sudah lama menjadi bagian dari seni budaya Aceh.

Ari mengatakan seni budaya Aceh sudah lama itu dilirik dunia, mulai dari saman, rapa’i, apalagi seudati dan sebagainya. Orang-orang luar itu sangat penasaran dengan seni ini. 

“Salah satu dari banyaknya orang luar yang tertarik pada seni budaya Aceh adalah Margaret Joy Kartomi. Beliau adalah Profesor Emeritus dari Monash University di Melbourne, Australia, yang ahli dalam bidang etnomusikologi,” Ari J Palawi, dalam obrolan di Zakir Kupi, Darussalam, Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Ari Pahlawi

Margaret Joy Kartomi merupakan perempuan berkebangsaan Australia. Ia sangat tertarik meneliti sejumlah musik yang ada, terutama di Asia. Dengan ketertarikannya itu, tersebutlah Aceh dan seudati di dalam bukunya. Kartomi menjelaskan hal itu di dalam buku-bukunya berjudul Musical Journeys in Sumatra, yang terbit tahun 2012. Buku setebal 513 halaman ini mengupas perjalanan musik di tanah Sumatera.

Persoalan Aceh dan seudati terdapat di chapter 12, bagian 4; Aceh, halaman 293. Di tulisannya itu memang tidak banyak membahas tentang seudati, khususnya, kerana fokusnya pada “Changes in the Lament Dances in Aceh, Pho’ as a Symbol of Female Identity”. Ia hanya menjelaskan secara singkat tentang seudati, yang telah memantik perhatiannya, sebab terdapat tari (dance) di dalam seni warisan Aceh ini.

Berbicara tentang filosofi seudati, Ari menilai seni ini memiliki interpretasi beragam. Kadang, apakah filosofi itu sekedar kata-kata bijak ataupun filosofi itu semacam harapan, doa, cita-cita, dan sebagainya. Perlu ditentukan dulu, filosofi itu dalam bagian mana.

“Saya sendiri belum punya pengalaman yang mendalam, belum betul-betul yakin apa sebenarnya filosofi seudati. Kalau kita ingin mendapatkan yang istimewa dari setiap seni yang ada, kita harus terlebih dahulu mampu mengeneralisasikannya,” ucap Ari, yang juga pengajar di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Berdasarkan pengalamannya dalam dunia filsafat, Ari mengatakan filosofi itu adalah pencapaian yang belum berhenti, akan terus berkembang dan makna dari filosofi itu sendiri juga bisa dikaji terus-menerus. Mungkin, bisa diperbaharui juga. Dalam filsafat pendidikan, filosofi itu menganalisis, yakni semacam proses yang harus menghasilkan sesuatu yang nyata. Kalau diurai, hal tersebut akan menjelaskan tentang banyak hal. Dari satu sisi kita melihat filosofi itu adalah capaian dari sesuatu. Filosofi adalah jalan yang terbentang, luas tidak ada batas tertentu jika tidak ditentukan batasnya itu.

“Nah, apakah seudati adalah tradisi, ini perlu dicermati baik-baik karena sampai hari ini penulisan tentang sejarah seni-seni kita ini belum selesai. Terakhir yang saya tahu bahwa seudati ini ada kaitannya dengan delapan ulama di daerah Bireuen. Bahkan, pernyataan tersebut pun masih meragukan. Belum ada ada satu kepastian yang mutlak di antara ini semua,” kata Ari. 

Ia menjelaskan, ada pula yang melihat seudati dari segi etimologi. Seudati adalah syahadati, artinya, kalau syahadati kita jadikan ukuran, itu adalah awal adanya Islam. Mungkin itu bisa menjadi suatu pegangan bahwa kesenian-kesenian islami tersebut sudah ada semenjak Islam ada di Aceh. Ketika kita lihat ia menonjol di Sigli ataupun di Bireuen, maka berarti di situlah Islam kuat pada masa tersebut.

“Kita kembali ke tujuan adanya seudati, dari apa yang banyak dipahami orang tentang seudati saat ini. Sebenarnya keberadaan seni itu untuk memelihara narasi yang ada di balik seudati itu sendiri. Yang banyak menulis tentang syair seudati adalah delapan ulama itu,” kata Ari bersemangat.

Menurutnya, jika mau berbicara tentang seni budaya seudati, masih sangat banyak yang harus dikaji. Kita hanya berbicara di permukaannya saja, belum mendalam. Di Aceh, hanya ada satu dua dari seni budaya yang dikupas secara mendalam. 

“Yang kita khawatirkan, seperti tari Ranup Lam Puan. Ada yang mengatakan itu tradisi. Nah, ini rancu. Tarian tersebut lahir pada tahun 1970-an dan ada satu penciptanya. Sementara kesenian tradisi itu, dikatakan tradisi, etnik, sifatnya komunal, dimiliki orang banyak,” kata peraih gelar master di University of Hawaii ini.

Ari mencontohkan lagi tentang penyebutan status sebuah karya seni. Misalnya, apakah tari Ranup Lam Puan itu sudah menjadi tradisi kita sekarang? Dulu bukan, tetapi sekarang itu menjadi tradisi, karena ia sudah melalui proses pembauran panjang. Ada banyak hal terkandung di dalam proses memajukan tari Ranup Lam Puan, termasuk aspek politis di dalamnya.

Sebagaimana diketahui, tari Ranup Lam Puan ditampilkan di berbagai acara, baik itu acara pemerintahan maupun acara masyarakat, untuk menyambut tamu luar negeri ataupun dalam negeri. Pada acara yang penting, tentunya tari tersebut terasa harus ditampilkan.

“Begitu juga seudati. Jika memang kita ingin terus dapat melihat, menikmati, mendengar tuturan-tuturan syair yang dituturkan dalam seudati, maka haruslah semua kita berpikir bagaimana caranya seudati itu bisa terawat sampai kapanpun,” kata Ari.

Untuk keberlangsungan seudati dan sekalian seni budaya di Aceh, dibutuhkan kiprah semua elemen masyarakat, bukan hanya pelaku seni itu saja. Bahkan dilema kita sampai sekarang ini, seni itu masih terpelihara dan dijaga oleh kalangan seniman itu sendiri.

“Perumpamaannya begini. “Mengapa saya masih peduli tentang seudati? Ya, mungkin karena orang tua atau kakek saya dulu adalah pemain seudati. Hanya lingkaran kecil. Belum adanya kesadaran yang mutlak dari masyarakat Aceh. Kita masih belum sadar dan tidak mahu-tahu tentang apa itu seni yang sebenarnya, semua seni,” ujar Ari. 

Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M, Kepala Bidang Bahasa Dan Seni Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh, mengatakan, Pemerintah Aceh selalu mengupayakan pelestarian seni dan budaya. “Upaya-upaya dukungan pada dunia seni akan terus kita berikan. Siaran berita ini juga merupakan semua bentuk dukungan supaya pemikiran dari kalangan seniman dapat sampai kepada masyarakat,” kata Nurlaila.

Nurlaila Hamjah S.Sos MM

Catatan: berita ini disiarkan atas kerja sama antara Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh, Bidang Bahasa Dan Seni dengan atjehwatch.com.

Previous Post

Syech Fadhil Silaturahmi dengan Guru dan Wali Siswa di SLBN Calang

Next Post

Dihadiri Bupati Akmal Ibrahim, Wabup Muslizar Buka Kegiatan TMMD Reguler Abdya ke-114

Next Post

Dihadiri Bupati Akmal Ibrahim, Wabup Muslizar Buka Kegiatan TMMD Reguler Abdya ke-114

Comments 1

  1. midun says:
    1 tahun ago

    Dalam percakapan ini, beberapa hal yang bernilai, baik dalam konteks budaya maupun filsafat, bisa diidentifikasi:

    Pentingnya Studi Mendalam tentang Seudati: Ari J. Palawi menekankan bahwa meskipun seudati telah menjadi bagian penting dari seni budaya Aceh, kajian tentangnya masih terbatas pada permukaan. Ia menyoroti bahwa perlu ada pemahaman lebih dalam mengenai sejarah dan filosofi di balik seudati, yang tidak hanya terkait dengan aspek tari, tetapi juga syair dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ini menunjukkan pentingnya memperdalam pemahaman terhadap tradisi budaya untuk melestarikan makna dan tujuan aslinya.

    Filosofi dalam Seni: Ari menekankan bahwa filosofi dalam seni, termasuk seudati, bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sebuah pencapaian yang terus berkembang. Filosofi tersebut harus dikaji dan dipahami lebih lanjut, bahkan bisa diperbaharui, agar seni dapat tetap relevan dan menjadi sarana untuk merenung dan menganalisis kehidupan.

    Pengakuan terhadap Proses Sejarah dan Pembauran Budaya: Dalam perbincangan tentang tari Ranup Lam Puan dan seudati, Ari juga menyentuh isu mengenai status tradisi dalam seni. Ia menyadari bahwa beberapa seni yang disebut tradisi mungkin memiliki asal-usul yang lebih baru atau lebih spesifik, tetapi seiring waktu dan melalui pembauran dengan masyarakat, mereka akhirnya diakui sebagai tradisi. Hal ini menyoroti bagaimana seni berkembang dan disesuaikan dengan konteks sosial dan politik.

    Pentingnya Peran Masyarakat dalam Pelestarian Seni: Ari mengungkapkan keprihatinannya tentang minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan seni budaya, seperti seudati. Ia menekankan bahwa pelestarian seni tidak hanya tanggung jawab para seniman, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Dalam konteks ini, ia mengajak semua elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga dan memelihara seni budaya Aceh agar tetap relevan bagi generasi mendatang.

    Peran Pemerintah dalam Pelestarian Seni: Dalam percakapan tersebut juga muncul dukungan dari pemerintah, seperti yang disampaikan oleh Nurlaila Hamjah, Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Dukungan ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian seni tidak hanya dilakukan oleh kalangan seniman, tetapi juga oleh pemerintah yang berperan penting dalam memberikan fasilitas dan dukungan untuk menjaga keberlanjutan seni budaya.

    Secara keseluruhan, percakapan ini mencerminkan pentingnya pemahaman mendalam tentang sejarah, filosofi, dan perkembangan seni budaya, serta perlunya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kelestariannya.

    Balas

Tinggalkan Balasan ke midun Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Ohku, Wabup Pijay Didesak Nonaktif Sementara Demi Prinsip Equality Before The Law

Ohku, Wabup Pijay Didesak Nonaktif Sementara Demi Prinsip Equality Before The Law

10/04/2026
Hemat BBM, Pemkab Aceh Barat Terapkan Aturan Bersepeda ke Kantor

Hemat BBM, Pemkab Aceh Barat Terapkan Aturan Bersepeda ke Kantor

10/04/2026
Irmawan Dorong Percepatan Pemulihan Infrastruktur Pascabencana Aceh

Irmawan Dorong Percepatan Pemulihan Infrastruktur Pascabencana Aceh

10/04/2026
BPBD Simeulue Kerahkan Bantu Warga Terdampak Banjir

Warga Pidie Jaya Aceh Kembali Mengungsi Akibat Banjir

10/04/2026
Illiza Terbitkan Surat Edaran WFO–WFH untuk ASN

Illiza Terbitkan Surat Edaran WFO–WFH untuk ASN

10/04/2026

Terpopuler

Mualem Kantongi Dua Nama Calon Pengganti Abang Samalanga

Mualem Kantongi Dua Nama Calon Pengganti Abang Samalanga

09/04/2026

Dua Terpidana TPPU Masuk DPO Kejari Banda Aceh

JKA; Diluncurkan Masa Irwandi, Ditiru Nasional, Serta ‘Dipangkas’ Era Mualem

20 Santri Al Zahrah Beunyot Dinyatakan Lulus SPAN PTKIN 2026

Bupati Sibral Salurkan Jadup untuk 15.377 Jiwa Warga Pidie Jaya

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com