KOMPLEK itu berada di depan jalan raya. Ada plamplet bertuliskan ‘Pemakaman Gunung Puyuh.’ Kawasan ini seperti bukit kecil di tengah kota.
Sejumlah pelayat memarkir mobil di sisi kiri jalan. Parkiran ini memanjang hingga dua ratusan meter. Ada mobil pribadi hingga bus antar kota di sana.
Memasuki komplek, kuburan umum bertabur. Sejumlah peminta derma mengapit kami di sisi kanan dan kiri sepanjang tangga hingga sampai ke puncak.
“Pat kuburan Cut Nyak, Syech?” tanya penulis pada Senator DPD RI asal Aceh, HM Fadhil Rahmi Lc MA atau akrab disapa Syech Fadhil, yang berdiri di depan dalam bahasa Aceh. Sosok ini jadi penuntun jalan kami ke lokasi. Ini karena yang bersangkutan sudah dua kali berkunjung ke lokasi ini. Sedangkan penulis baru pertama kali ke lokasi ini.
Beberapa peminta derma terlihat berbisik-bisik. Mungkin karena bahasa kami yang tidak dimengerti.
“Dari Aceh pak kiai?” tanya seorang wanita paruh baya di sana tiba-tiba. Kami tersenyum dan mengangguk.
“Di belakang komplek ini,” ujar Syech Fadhil singkat dalam bahasa Aceh. Penulis mengikuti Syech Fadhil dari belakang. Dalam rombongan kami juga ada dua anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh lainnya, Asnawi dan Mirzan, yang turut berkunjung. Kami berempat saat itu. Di antara kami, hanya Syech Fadhil yang paham betul dengan lokasi yang dituju.
Turun dari komplek TPU Gunung Puyuh, sebuah gerbang besar terpampang dengan jelas. “Makam Pahlawan Nasional Tjut Nya’ Dhien.”
Gerbang itu terlihat kokoh. Pernak perniknya menghiasi hampir tiap sudut. Bak seorang ratu, makam Cut Nyak Dhien berada di tengah. Untuk menuju lokasi, ada jalan setapak yang terbuat dari batu alam yang dingin.
Di sekeliling juga ada kuburan lainnya yang cukup terawat. Sedangkan di posisi pojok, ada bangunan berpondasi panggung yang terbuat dari kayu. Di sana tertulis ‘Meunasah Aceh.’
Tiga orang pelayat sedang membaca surat Yasin di samping makam Cut Nyak Dhien saat kami tiba. Mereka berasal dari Kalimantan Selatan.

Ya, ke sanalah kami berkunjung pada awal September 2022 lalu. Dari Aceh, kami terbang jauh ke ibukota Jakarta dan meneruskan perjalanan darat menuju Sumedang, Jawa Barat. Dua hari sebelumnya, kami juga singgah ke Makam Pocut Meurah Intan di Blora, Jawa Tengah.
+++
CUT Nyak Dhien adalah pahlawan besar asal Aceh. Kisahnya berawal dari perkenalannya dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Nama terakhir adalah seorang pejuang Aceh.
Kisah cinta Ibrahim Lamnga-lah yang membuat Cut Nyak Dhien berubah dari wanita biasa menjadi pejuang tangguh.
Alkisah, Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau.
Datuk Makhudum Sati merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta yang merupakan perwakilan Kesultanan Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman. Datuk Makhudum Sati mungkin datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Sedangkan ibunya merupakan putri uleebalang Lampageu.

Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah anak yang cantik. Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya).
Banyak laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Namun Ibrahim Lamnga-lah yang beruntung.
Waktu perang Aceh meletus pada tahun 1873, Cut Nyak Din telah menikah dengan Ibrahim Lamnga. Pernikahan itu bahkan sudah dilaksanakan secara kawin gantung pada 1862 sewaktu Cut Nyak Din masih berumur 12 tahun. Suami isteri baru berkumpul kemudian setelah sang isteri cukup umurnya. Waktu perang meletus, mereka sudah dikaruniai seorang anak.
Kesultanan Aceh dapat memenangkan perang pertama. Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali dengan sorak kemenangan. Sementara Köhler tewas tertembak pada April 1873. J.B. van Heutsz sedang memperhatikan pasukannya dalam penyerangan di Perang Aceh.

Pada tahun 1874-1880, di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada 1874. Cut Nyak Dhien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada 24 Desember 1875. Suaminya, Ibrahim Lamnga, selanjutnya bertempur untuk merebut kembali daerah VI Mukim.
Ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada 29 Juni 1878. Sejak itu Cut Nyak Din menjadi janda dengan seorang anak. Namun Ia tetap ikut berperang melawan Belanda. Baginya tidak ada damai dengan musuh. Musuh itu kaphe (kafir) mereka telah menyebabkan suaminya tewas.
“…Mengungsilah! Semoga Tuhan melindungimu! Tujuh puluh pengawal bersenjata aku tinggalkan untuk mengawanimu. Sekalian mereka itu adalah kawan-kawan terpilih yang setia. Sekiranya kita tidak bertemu, kawan yang tujuh puluh orang itulah yang akan bersamamu berjuang di jalan Allah…”
Itulah pesan akhir Ibrahim Lamnga pada isteri tercintanya, Cut Nyak Dien. Dan perjuangan Ibrahim mempertahankan tanah airnya, makin menambah rasa cinta isterinya Cut Nyak Dien. Serpihan sejarah kisah cinta dua pejuang sejati itu dikisahkan dalam buku M.H. Szekely-Lulofs, seorang puteri Lulofs, yang pernah bertugas di Sumatra Utara. Kisah cinta heroiik itu dapat dibaca dalam buku Tjoet Nya Din: Riwajat Hidup Seorang Puteri Atjeh yang kemudian diterjemahkan A. Muis, setelah beberapa tahun Indonesia merdeka.
Kematian Ibrahim membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda. Ia mewarisi tekad Ibrahim. Ibrahim adalah guru dan cinta pertamanya. Pada Ibrahim ia belajar komitmen dan seni pedang. Ia bertekad hanya akan menikah lagi dengan lelaki yang bisa membalas kematian suaminya, Ibrahim Lamnga.
Komitmen ini terdengar hingga ke telinga Teuku Umar, sepupunya yang tinggal di Meulaboh. Umar pun datang untuk melamar Cut Nyak Dhien, tapi ditolak mentah-mentah. Bisa jadi karena saat itu, Umar telah beristri dua. Mereka adalah Nyak Malighai dan Nyak Sofiah.
Namun bukan Umar namanya jika mudah menyerah. Ia akhirnya berpura-pura terluka akibat serangan Belanda untuk merebut simpati dari Cut Nyak Dhien.
Alkisah di suatu hari, Teuku Umar ditandu hingga ke depan rumah Cut Nyak Dhien. Teuku Umar terlihat berdarah-darah.
“Pakon nyan?” tanya Cut Nyak Dhien penasaran.
“Lon keuneuk jak woe,” jawab Umar.
“Bek. Ta peu ubat dilee. Harus ta peu ubat. Bek putoh asa,” kata Cut Nyak Dhien.
“Bah mate mantong. Cut Nyak tulak (menolak lamaran-red) lon,” ujar Teungku Umar lagi.
Mendengar hal ini, Cut Nyak Dhien tereyuh. “Bek. Tapeu ubat nyoe dilee. Ban leuh nyan baroe ta peu ubat luka nyan (hati-red),” kata Cut Nyak Dhien.
“Hana peu. Cut Nyak jok ubat mantong bak lon,” ujar Teuku Umar lagi.
Siasat Teuku Umar berhasil. Pernikahan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pun kemudian berlangsung pada 1880 atau 2 tahun setelah Ibrahim meninggal. Suatu ketika, saat Teuku Umar mandi, Cut Nyak Dhien melihat badan Teuku Umar tak ada lagi bekas luka seperti saat ditandu beberapa waktu lalu.
“Teuku, pat luka,” tanya Cut Nyak Dhien. Teuku Umar tahu maksud Cut Nyak Dhien. Dia pun mengaku kalau luka itu hanyalah akal-akalannya agar Cut Nyak Dhien mau menikah dengan dirinya.
Keromantisan Teuku Umar dengan Cut Nyak Dhien tak berlangsung lama. Harapan Cut Nyak Dhien agar Umar menjadi sosok pengganti Ibrahim hilang pada 1883 atau tiga tahun usai mereka menikah. Hati Cut Nyak Dhien semakin hancur, saat Umar membelot ke Belanda. Ia terlibat perang dengan para pejuang Aceh, menyerang Kuta Tungkop dan tempat pertahanan daerah XXVI Mukim, yang kemudian akan menyerang daerah pertahanan Teungku Fakinah yang terletak di Ulee Tanoh, salah satu unit pejuang Aceh yang terdiri dari pasukan perempuan.
Teungku Fakinah kemudian menemui Cut Nyak Dhien.
“Yu Jak beureujang Teuku Meulaboh, jak prang inong-inong balee mangat jikalon ceubeuh lee gob, bah agam lawan inong balee.”
Perkataan ini menusuk sanubari Cut Nyak Dhien, melalui Pang Karim, sosok yang dikenal dengan Teuku Meulaboh, panggilan Teuku Umar, Dhien menitip pesan ke suaminya itu yang berada di markas Belanda itu.
“Apalagi Pang Karim, sampaikan kepada Teuku Umar bahwa Teungku Fakinah telah siap sedia menanti kedatangan Teuku Umar di Lamdiran (Markas Sukey Fakinah). Sekarang, barulah dinilai perjuanganmu cukup tinggi, pria melawan wanita yang belum pernah terjadi pada masa nenek moyang kita. Kafir sendiri segan memerangi wanita. Karena itu, Teuku didesak berbuat demikian. Sudah dahulu kuperingatkan: jangan- lah menyusu pada badak,” kata Cut Nyak Dhien dalam bahasa Aceh.
Pesan ini sampai ke telinga Teuku Umar dengan cepat. Teuku Umar gundah. Ia tidak ingin cintanya kembali tersakiti. Sekitar tahun 1884, Umar kembali membelot ke pejuang Aceh.
Namun September 1893, Teuku Umar kembali menyerahkan diri kepada Gubernur Deykerhooff di Kutaradja bersama 13 orang panglima bawahannya, setelah mendapat jaminan keselamatan dan pengampunan. Teuku Umar dihadiahi gelar Teuku Johan Pahlawan Panglima Besar Nederland. Istrinya, Cut Nyak Dien sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Umar suka menghindar apabila terjadi percekcokan.
Kemudian pada 30 Maret 1896, Teuku Umar kembali keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Berita larinya Teuku Umar menggemparkan Pemerintah Kolonial Belanda. Gubernur Deykerhooff dipecat dan digantikan oleh Jenderal Vetter.
Teuku Umar sendiri meninggal pada 1899, tertembak dalam gempuran pasukan Van Heutsz. Cut Nyak Dhien meneruskan perjuangan hingga dibuang ke Sumedang.
+++
SAAT penziarah dari Kalimantan berlalu. Kami menyempatkan diri untuk berdoa di makam Cut Nyak Dhien.
Suasana terasa hening. Ada emosional tersendiri bisa berkunjung ke tempat Cut Nyak Dhien di Sumedang.
Syech Fadhil sendiri terdiam beberapa lama di depan makam. Padahal dia sudah dua kali berkunjung ke lokasi ini.
Usai berdoa, penulis menyapa seorang pria paruh baya yang duduk di sisi kanan makam. Ia memperkenalkan diri dengan nama Asep, orang yang bertanggungjawab atas komplek makam tersebut. Pak Asep, adalah keturunan dari KH Sanusi, seorang imam besar di Sumedang pada masanya. Konon, komplek makam Cut Nyak Dhien merupakan milik dari keluarga KH Sanusi. Makamnya di sisi kanan makam Cut Nyak Dhien.
“Saya keturunan dari Siti Khadijah, anak perempuan KH Sanusi,” kata Asep.
“Kalau mau difoto, foto juga makam KH Sanusi. Karena posisi (Cut Nyak Dhien-red) dan KH Sanusi setara,” ujar Asep lagi.

Menurut Asep, saat di bawa ke Sumedang, Cut Nyak Dhien awalnya ditempatkan di rumah pejabat Sumedang. Namun Cut Nyak Dhien tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Jawa.
“Cut Nyak Dhien bisanya bahasa Aceh dan bahasa Arab. Kemudian dicarilah orang yang bisa bahasa Arab. Nah, saat itu KH Sanusi merupakan Imam Besar di Masjid Sumedang. Keduanya berkomunikasi dalam bahasa Arab. Cut Nyak Dhien kemudian pindah ke rumah KH Sanusi,” ujar Asep.
Kepada KH Sanusi, Cut Nyak Dhien kemudian menceritakan kisah hidupnya semasa di Aceh. Hal inilah yang membuat keluarga KH Sanusi kagum atas kegigihan Cut Nyak Dhien. Sosok ini juga diberikan jadwal untuk mengajar ilmu agama kepada warga Sumedang.
Sosok Cut Nyak Dhien menjadi ulama besar di Sumedang pada saat itu. Seusai KH Sanusi meninggal, Cut Nyak Dhien dirawat oleh anaknya bernama Siti Khadijah hingga Cut Nyak menghembuskan nafas terakhir pada 6 November 1908 dan dimakamkan di komplek keluarga KH Sanusi.
“Komplek pemakaman ini dipugar pada tahun 1959 ketika Gubernur Aceh pada waktu itu, Ali Hasan. Ini semua alat alat dibawa dari Aceh. Termasuk nisan. Gubernur Zaini menambah prasasti sejarah Cut Nyak Dhien di gerbang pada 2013. Namun ada sedikit kekeliruan disana tentang sejarahnya. Saya berharap bisa diperbaiki,” ujar Asep lagi.
Menurut Asep, Mensos Risma telah berkunjung ke Makam Cut Nyak Dhien beberapa waktu lalu.
“Jadi Mensos ingin jalan menuju ke Makam Cut Nyak Dhien tak lagi melalui TPU Gunung Puyuh. Area sawah itu nantinya dibebaskan untuk dibuat jalan. Di sisi kanan ini juga bisa dibebaskan, karena memang masih milik keluarga,” ujarnya.
Sekitar 1 jam di lokasi, kami minta izin untuk pamit. Dari buku tamu, tercatat hampir ribuan orang berkunjung ke makam Cut Nyak Dhien setiap harinya. Beberapa di antaranya, adalah warga asal Aceh.
Syech Fadhil sendiri mengaku terharu atas perhatian Asep yang begitu besar dalam merawat makam Cut Nyak Dhien.
“Hanya Allah yang mampu membalasnya,” ujar senator yang dekat dengan ulama di Aceh ini sebelum pamit. []









