Oleh Sinta Hartina. Penulis adalah Mahasiswi Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan UIN AR-RANIRY Banda Aceh
Masyarakat Aceh Singkil memiliki tradisi unik dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi yang dimaksud yaitu tradisi mandi pangir atau yang juga dikenal dengan sebutan balimau. Tradisi ini biasanya dilakukan di hari yang sama dengan hari ‘meugang’, sehari sebelum memasuki bulan suci Ramadhan,
Pada dasarnya, tradisi mandi pangir juga dilakukan oleh masyarakat lain di beberapa daerah di Indonesia, seperti masyarakat Sumatera Utara, Jawa, dan Sumatera Barat.
Di Sumatra Utara, tradisi ini disebut “marpangir” (tradisi mandi rempah). Sedangkan di Jawa, tradisi serupa disebut “padusan” (tradisi untuk membersihkan jiwa dan raga). Sementara, di Sumatra Barat, terdapat tradisi serupa dengan istilah balimau (mandi dengan jeruk nipis) yang menjadi kebiasaan masyarakat Minangkabau.
Meskipun masing-masing daerah memiliki nama yang berbeda, namun tradisi mandi pangir ini memiliki kesamaan dalam tujuan dan makna yang terkandung di dalamnya. Selain untuk membersihkan tubuh, mandi pangir juga dianggap sebagai sarana untuk membersihkan jiwa, merilekskan tubuh, dan mempererat hubungan sosial antara sesama warga masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, mandi pangir dilakukan secara bersama-sama oleh perempuan Aceh Singkil di tempat yang telah ditentukan, seperti di sungai atau sumber air yang terdapat di desa atau kampung. Air yang digunakan untuk mandi biasanya diambil dari sungai atau sumber air tersebut.
Mandi pangir dilakukan dengan cara membasahi seluruh tubuh dengan air yang telah dicampur dengan bunga rampai atau air bunga. Masyarakat Aceh Singkil percaya bahwa mandi pangir mampu membersihkan diri secara fisik dan spiritual sekaligus. Setelah melakukannya, masyarakat Aceh Singkil merasa lebih siap untuk memasuki bulan suci Ramadhan.
Dalam menjalankan tradisi tersebut, terdapat juga beberapa tata cara yang harus diikuti, seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar, menutup aurat, serta mengutamakan sopan santun dan rasa saling menghargai.
Oleh karena itu, tradisi ini juga menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai kearifan lokal dan mengajarkan nilai-nilai sosial yang baik kepada generasi muda. Mandi pangir merupakan adat atau tradisi yang sudah dilakukan sejak zaman dulu dan masih dijalankan hingga saat ini.
Meski terdapat perbedaan dalam pelaksanaannya seiring dengan berkembangnya zaman. Pada zaman dulu, tradisi ini dilakukan oleh perempuan dengan berbondong-bondong menuju sungai atau pemandian terdekat. Dan, sekarang, masyarakat lebih sering melakukan tradisi ini di rumah masing-masing.
Ternyata, tradisi mandi pangir ini berasal dari umat Hindu, terutama Hindu Kuno. Mereka mempercayai bahwa tradisi ini mampu menghapus dosa. Seiring dengan masuknya ajaran Islam, tradisi ini lebih diidentifikasi sebagai antusiasme masyarakat Muslim dalam menyambut bulan suci Ramadan. Meskipun sudah menjadi tradisi yang turun-temurun dilakukan, tetap saja tidak ada anjuran dalam syariat Islam untuk melakukannya.
Namun, karena telah menjadi kebiasaan dan tradisi leluhur, masyarakat masih menjalankan tradisi ini hingga saat ini. Mandi pangir menjadi tradisi yang sangat penting bagi masyarakat Aceh Singkil, karena selain dianggap sebagai bentuk persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Mandi pangir adalah contoh dari sikap masyarakat Aceh Singkil dalam menghargai adat dan tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Meskipun tidak ada anjuran dalam Islam itu sendiri dalam melaksanakan tradisi ini, masyarakat masih menganggapnya sebagai bagian dari identitas dan budaya. Dalam hal ini, mandi pangir menjadi simbol penting dalam kehidupan masyarakat Aceh Singkil dalam menyambut bulan suci Ramadhan. []










