Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Pariwisata

Meugang; Tradisi Unik Warga Aceh Sambut Ramadan

Atjeh Watch by Atjeh Watch
27/03/2023
in Pariwisata
0
Mangat That,  Sie Reuboh Daging Rebus Khas Aceh

KEHADIRAN bulan suci Ramadan merupakan dambaan bagi seluruh umat muslim di dunia. Ini karena Ramadan merupakan bulan yang memiliki sejumlah keutamaan dibanding dengan bulan lainnya dalam kalender Hijriah.

Di Aceh, Ramadan disambut dengan suka cita. Ini karena mayoritas warga di Aceh beragama Islam. Sebagaimana layaknya kultur masyarakat di Asia pada umumnya, penyambutan momen krusial keagamaan, biasanya disambut dengan tradisi khusus.

Sebelum memasuki puasa, muslim di Aceh biasanya, menyambut tradisi meugang. Momen ini juga merupakan salah satu hal yang krusial bagi warga di Aceh.

Meugang adalah tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh, Indonesia.

Bagi warga di Aceh, meugang memiliki arti sangat penting. Seorang lelaki akan bekerja keras sepanjang tahun agar pada Meugang mampu membeli daging untuk dimakan bersama keluarga tercinta.

Demikian juga bagi pengantin yang baru berumah tangga. Membawa pulang seonggok ke rumah mertua daging menjadi marwah tersendiri. Sebaliknya, apabila ada menantu yang tidak mampu membawa pulang daging meugang sebelum Ramadan, maka akan menjadi aib tersendiri bagi keluarga tersebut.

Ini tentu menjadi sisi lain dari sebuah tradisi yang sudah berjalan secara turun temurun di Aceh.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki harta yang berlimpah, maka meugang menjadi ladang amal bagi mereka untuk berkurban dan membagi-bagikan daging kepada fakir miskin dan anak yatim piatu di Aceh. Hal ini pula yang membuat tradisi meugang di Aceh menjadi sangat kental dan disambut dengan suka cita.

Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih kurban berupa kambing atau sapi dan dilaksanakan setahun tiga kali, yakni Ramadhan, Idul Adha, dan Idul Fitri. Sapi dan kambing yang disembelih berjumlah ratusan.

Selain kambing dan sapi, masyarakat Aceh juga menyembelih ayam dan bebek. Tradisi Meugang di desa biasanya berlangsung satu hari sebelum bulan Ramadhan atau hari raya, sedangkan di kota berlangsung dua hari sebelum Ramdhan atau hari raya.

Biasanya masyarakat memasak daging di rumah, setelah itu membawanya ke mesjid untuk makan bersama tetangga dan warga yang lain.

Konon, sebenarnya Tradisi Meugang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun yang lalu di Aceh. Meugang dimulai sejak masa Kerajaan Aceh.

Kala itu, sekitar tahun 1607-1636 Masehi, Sultan Iskandar Muda, diriwayatkan suka memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagikan secara gratis kepada seluruh rakyatnya. Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur atas kemakmuran rakyatnya dan rasa terima kasih kepada rakyatnya.

Setelah Kerajaan Aceh ditaklukan oleh Belanda pada tahun 1873, tradisi ini tidak lagi dilaksanakan oleh raja. Namun, karena hal ini telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh, maka Meugang tetap dilaksanakan hingga saat ini dalam kondisi apapun.

Tradisi Meugang juga dimanfaatkan oleh pahalawan Aceh dalam bergerilya, yakni daging sapi dan kambing diawetkan untuk perbekalan.

Esensi dari setiap perayaan Meugang, seluruh keluarga atau rumah tangga memasak daging dan disantap oleh seisi rumah.

Pantang jika keluarga tidak memasak daging pada hari Meugang. Meugang memiliki nilai religius karena dilakukan pada hari-hari suci umat Islam.

Masyarakat Aceh percaya bahwa nafkah yang dicari selama 11 bulan wajib disyukuri dalam bentuk tradisi Meugang.

Penjual daging di pasar Almahirah, Lamdingin, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Medcom.id/ Fajri Fatmawati

Harga daging jadi mahal

Imbas dari perayaan meugang, harga daging biasanya menjadi mahal di Aceh, terutama jelang Ramadan.

Pada meugang Ramadan 2023 ini misalnya, harga daging sapi secara rata-rata di Aceh mencapai Rp180 ribu perkilogram.

Jelang masuknya bulan Ramadan, masyarakat mulai mendatangi pasar daging dadakan di sejumlah kawasan kota Banda Aceh. Warga membeli sejumlah daging untuk keperluan meugang, yang merupakan tradisi menyambut Ramadan.

Harga daging sapi saat meugang tiba di patok seharga Rp 170ribu hingga Rp 180ribu per Kilogramnya.

Fajri, salah seorang pedagang mengaku meski naik dibandingkan hari biasa, namun di hari meugang harga tersebut adalah harga wajar. Melonjaknya harga daging saat meugang juga dirasakan oleh Hade. Baginya, baiknya harga daging saat meugang adalah hal yang biasa.

Bagi masyarakat Aceh, meugang merupakan tradisi berkumpul bersama keluarga sambil menyantap daging menjelang Ramadhan. Mereka menganggap tidak lengkap rasa menyambut Ramadhan tanpa menyantap daging bersama keluarga.

Sementara di harga daging Meugang di Kabupaten Aceh Barat Daya, mencapai Rp200 ribu per kilogram. Meski harga daging sapi maupun kerbau tinggi, namun antuasias pembelian untuk merayakan Hari Meugang tetap tinggi.

jumlah pedagang daging Meugang sempat sepi pembeli selama beberapa jam akibat diguyur hujan deras, namun setelah hujan reda ribuan warga mulai memadati area penjualan daging Meugang yang dijual oleh pedagang dadakan di pinggir jalan, Desa Kedai Siblah, Kecamatan Blang Pidie, Kabupaten Aceh Barat Daya.

Meskipun harga daging Meugang sapi maupun kerbau pada Ramadan tahun ini mencapai Rp200 ribu per kilogram dan tak ada kenaikan dari tahun lalu, namun harga daging di Aceh Barat Daya terbilang masih harga tertinggi dari harga daging pada umumnya di Aceh.

Pada hari biasanya, harga daging sapi maupun kerbau di Aceh Barat Daya di jual dengan harga Rp170-Rp180 Ribu Per kiloram.

Salah satu pedagang daging Meugang, Zakaria Abi mengatakan, tingginya harga daging Meugang 2023 diakibatkan dari harga beli ternak yang mahal, sehingga harus menyesuaikan harga jual agar tidak merugi.

Sisi Positif Meugang

Sebagaimana halnya sebuah tradisi, meugang sebenarnya bukan sebuah keharusan bagi warga di Aceh. Tradisi ini hanyalah kebiasaan masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Tradisi meugang di Aceh memiliki sisi positif yang aman terasa. Sisi positif ini adalah tradisi berbagi sesama saudara muslim dan antar umat beragama di Aceh.

Mereka yang memiliki kemudahan dan kelebihan harta, akan berkurban jelang meugang dan dagingnya dibagi-bagikan kepada para fakir miskin dan anak yatim piatu di Aceh. Tradisi berbagi ini menjadi penguat silaturahmi antar sesama di Aceh.

Selain membantu fakir miskin juga menguatkan tali silaturahmi antar sesama keluarga.

Hal ini menjadi nilai plus dalam tradisi budaya Aceh. Secara garis besar Meugang itu dapat dikatakan sebagai tanda atau bentuk syukur untuk menyambut bulan Ramadhan.

Konon, zaman dahulu belum ada alat komunikasi untuk menyampaikan dan menandakan kapan datangnya Ramadhan. Sekarang sudah ada pemberitahuan dari pemerintah dan para ulama bahkan ada lembaganya sendiri yang mengatur ketentuan datangnya Ramadhan setelah melihat bulan.

Sedangkan makna lain adalah bahwa ada beberapa elemen lain yang terkandung dalam perayaan Meugang, menjelang masuknya bulan penuh Rahmat ini, yaitu dilaksanakan secara kekeluargaan.

Contohnya, jika ada anak atau menantu yang jauh, dia akan pulang sehari sebelum Meugang. Konsepnya lebih kepada silahturrahmi. Jadi, tidak ada dosa lagi, sudah dihapus semuanya dengan saling meminta maaf.

Trend Penarik Minat Wisata

Keberadaan tradisi meugang di Aceh sebenarnya menjadi penarik wisata untuk berkunjung ke Aceh. Ini karena masyarakat di luar Aceh mengaku tersentuh dengan ragam budaya Aceh yang dinilai memiliki kultur islami dan perekat persaudaraan.

Pengakuan ini datang dari sejumlah turis lokal yang khusus berkunjung ke Aceh untuk melihat tradisi meugang dan Ramadan di Aceh.

“Kebersamaan yang dilahirkan dari tradisi meugang itu luar biasa. Kami berkunjung ke Aceh untuk merasakan Meugang dan Ramadan. Berbeda dan luar biasa,” kata Nurul Istiqamah, 21 tahun, gadis asal Sulawesi, di Banda Aceh, awal Ramadan lalu.

“Sulit untuk diungkap dengan kata-kata. Meugang di Aceh itu special. Persaudaraannya kuat. Keluarga di sini mau menerima kami dengan tangan terbuka. Padahal kami bukan siapa-siapa, tapi karena kami sedang berada di Aceh selama Meugang, jadi diajak makan bersama,” kata Nurul lagi.

Dirimya berharap tahun depan, bisa berkunjung lagi ke Aceh untuk merasakan Ramadan dan meugang di sini.

“Doakan kami bisa kembali ke Aceh untuk meugang dan Ramadan di sini. Ini bisa jadi destinasi wisata islami di Indonesia,” katanya. []

Tulisan ini adalah hasil Kerjasama antara Disbudpar Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka publikasi wisata islami.

Tags: Disbudpar Acehpariwisata aceh
Previous Post

Kampung Aceh Masih Diawasi Polisi

Next Post

Netanyahu Pecat Menhan, Puluhan Ribu Warga Israel Demo Gila-gilaan

Next Post
Netanyahu Pecat Menhan, Puluhan Ribu Warga Israel Demo Gila-gilaan

Netanyahu Pecat Menhan, Puluhan Ribu Warga Israel Demo Gila-gilaan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Akses ke Desa Terisolir di Aceh Tengah Bisa Dilalui dengan Kendaraan Roda Dua

Akses ke Desa Terisolir di Aceh Tengah Bisa Dilalui dengan Kendaraan Roda Dua

04/04/2026
PN Banda Aceh Vonis Eks Kepala Desa 3,5 Tahun Penjara di Kasus Dana Desa

PN Banda Aceh Vonis Eks Kepala Desa 3,5 Tahun Penjara di Kasus Dana Desa

04/04/2026
BPBD Simeulue Kerahkan Bantu Warga Terdampak Banjir

BPBD Simeulue Kerahkan Bantu Warga Terdampak Banjir

04/04/2026
Nyan, Teungku Habibi dan Zahara Dapat Beasiswa dari Pemkab Aceh Barat

Nyan, Teungku Habibi dan Zahara Dapat Beasiswa dari Pemkab Aceh Barat

04/04/2026
Tu Bulqaini: Meski Gabung ke PKB, H. Sibral Malasyi Tetap sebagai Ketua PAS Aceh Pidie Jaya

Tu Bulqaini: Meski Gabung ke PKB, H. Sibral Malasyi Tetap sebagai Ketua PAS Aceh Pidie Jaya

04/04/2026

Terpopuler

Hapus JKA = Bunuh Hak Rakyat, Fadhlullah TM Daud: Pemerintah Aceh Jangan Main Api

Hapus JKA = Bunuh Hak Rakyat, Fadhlullah TM Daud: Pemerintah Aceh Jangan Main Api

02/04/2026

Papan Bunga Pelantikan Imum Syik Seret Nama Kapolda Aceh dan Pangdam IM

Kerap Bertindak Ala Premanisme, Sekjend PAN Pijay Minta Wabup Periksa Kesehatan Mental

140 Siswa Madrasah di Aceh Besar Lulus SNBP, MAS RIAB Paling Banyak

YARA Pertanyakan Peran Polres Lhokseumawe dalam Pembongkaran Keramba Waduk Pusong: Dugaan Intimidasi Menguat

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com