Oleh Radja Fadlul Arabi. Penulis adalah mahasiswa UIN Ar Raniry
Budaya adalah sebuah ciri khas yang dijadikan sebagai kebiasaan, musibah adalah sebuah peristiwa yang terjadi baik secara alami maupun secara buatan, baru-baru telah terjadi bencana gempa bumi yang berkisar atau berkekuatan sebesar 5.7 di wilayah Aceh tepatnya di kota Banda Aceh.
Beruntung tidak berpotensi Tsunami, namun penulis ingin memberikan sebuah kabar kepada para pembaca bahwa ada hal unik yang terjadi di saat Aceh mengalami sebuah musibah .
Hal unik tersebut adalah bangsa Aceh selalu mengatakan untung yang dimana kata tersebut merupakan sebuah kata tunggal dari kata beruntung yang digunakan oleh bangsa Aceh di saat mengalami musibah baik kecil maupun besar, dan juga bangsa Aceh adalah bangsa yang menginginkan agar syariat Islam dijadikan sebagai landasan negara, sehingga dengan adanya syariat Islam terkadang musibah ini disalahpahami oleh bangsa Aceh sehingga terkadang musibah yang terjadi di Aceh adalah berkat tidak mengikuti konsep Syariat Islam di Aceh seperti contoh Tsunami yang terjadi di tahun 2004 di Aceh dan di saat itu penulis mendengarkan bahwa bangsa Aceh ini mengatakan bahwa Tsunami terjadi diakibatkan masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan syariat Islam, namun di sini penulis ingin memberitahukan kepada para pembaca bahwa hal tersebut sudah bisa diubah, terkadang bangsa Aceh ini melakukan suatu budaya yang menurut penulis tidak seharusnya dijadikan budaya.
Budaya yang dimaksudkan penulis adalah budaya menyalahkan sesuatu yang belum tentu yang dituduh itulah pelakunya seperti contoh kasus banjir yang terjadi rutin di wilayah Aceh pada akhir tahun namun mengingat bangsa Aceh ini adalah bangsa yang fanatik, maka bangsa Aceh akan mengeluarkan sebuah pendapat bahwa banjir ini atau musibah ini diakibatkan oleh sebuah kegiatan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.
Padahal apabila kita mencari tahu atau menyelidiki lebih mendetail tentang bencana banjir maka kita harus mencari, menyelidiki, menangkap, dan menghukum para Ilegal Logging yang berkeliaran di sekitar hutan Aceh sehingga Musibah ini bisa dihilangkan dengan menuruti konsep budaya pinjaman bank yang dibayarkan secara berangsur maka bagi bangsa Aceh agar bisa sedikit demi sedikit peduli terhadap kerusakan hutan.
Penulis juga ingin membuat masyarakat Aceh agar bisa menghilangkan budaya seperti itu dengan berpendapat bahwa penulis bahwa musibah itu sudah pasti terjadi dan ada beberapa musibah yang diakibatkan berkat campur tangan manusia namun marilah kita mencari kesalahan yang dilakukan oleh manusia yang sifatnya yaitu tetap berusaha melakukan penganiayaan terhadap alam sehingga diprediksikan akan menjadi sebuah bencana, bukan menjadi Aceh yang hobinya sudah menjadi budaya yaitu membenarkan yang biasa.[]











