Oleh: Abdul Mugni
(Dosen IAIN Lhokseumawe)
Dalam syair Peurateb aneuk selalu di dendangkan syair-syair lokal yang mengandung pesan mendalam bagi si anak yang sedang diayun oleh ibu. Ada banyak pesan dalam syair Peu ayoeun yang disampaikan oleh seorang ibu kepada anak baik itu pesan tentang pendidikan, sopan santun, jihad bela agama sampai kepada menjadi pemimpin yang bijaksana selalu di perdengarkan lewat syair syair ketika seorang ibu meng-ayun anak dalam ayunan. Tujuannya minimal dua, pertama menitipkan pesan kepada si anak, kedua supaya si anak cepat tertidur.
Dalam opini ini penulis fokus kepada pesan pendidikan yang ditanamkan kepada si anak: “Ayah nejak jong long bak sikula supaya jeut tuleh baca, Poma neu intat lon bak tempat beut mangat jeut aleh ba ta”.
Pesan ini sering didendangkan oleh ibu ketika menidurkan anak dalam ayun. Harapannya supaya anak mau sekolah dan mengaji supaya terjadi keseimbangan dalam kehidupan, sekolah dan mengaji sama sama penting.
Dalam rangka memperingati hari santri tahun ini, kita fokus kepada Jak Beut atau belajar mengaji. Pengalaman penulis belajar mengaji dimulai dari rumah, sehabis shalat magrib kita diajarkan baca quran mulai dengan mengenalkan huruf aleh ba ta dan seterusnya (semasa kecil penulis belum ada metode iqra).
Masih segar dalam ingatan penulis diajarkan tiap malam oleh ibu, huruf demi huruf sampai penulis bisa membaca anakum banakum tanakum sampai penulis bisa membaca surat alfatihah. Ketika sudah sampai surat alfatihah penulis diajarkan oleh Abusyik (alm Nek Ali) yang rumahnya bersebelahan. Mulai saat itu penulis diajarkan membaca surat-surat pendek sambil sesekali diselingi dengan mengajarkan rukun iman, rukun islam.
Ketika Penulis sudah khatam Juz Amma penulis dikirim ke Balai pengajian yang ada di desa dengan tujuan penulis bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebaya dan tentu saja untuk lebih memahami hukum hukum fiqih dasar yang diajarkan di balai pengajian. Pengalaman penulis ketika belajar mengaji di balai pengajian itu sering “dirotan” dipukul dengan awe, karena membuat keributan yang sangat berisik sampai kedengaran ke meunasah. Jarak balai pengajian dengan meunasah sekitar 400 meter, namun hukuman yang kita terima dipukul dengan rotan tidak pernah mengadu ke orang tua sesampai di rumah khawatir tambah “dirotan” lagi.
Balai pengajian memiliki peran yang cukup vital berdasarkan pengalaman penulis, karena di balai pengajian itu kita bukan hanya diajarkan baca quran namun juga diajarkan tauhid seperti sifat dua puluh, itiked limeng ploh, fiqih, membaca kita jawi dan muhadzarah. Pelajaran atau materi yang didapat di balai pengajian itu sangat berbekas karena belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu kata pepatah.
Peran Balai pengajian saat ini jika kita perhatikan bersama juga cukup signifikan karena balai pengajian ini bisa dikatakan sebagai pertahanan terakhir dalam menjaga moral anak-anak saat ini di tengah kepungan tantangan yang tak tertandingi.
Salah satu contoh anak-anak saat ini semua candu dengan HP, sehingga banyak orang tua stres dan pusing mengatasi anaknya tidak kecanduan dengan ponsel. Tantangan masa penulis dengan anak-anak saat ini berbeda, dulu saat penulis kecil banyak orang tua stres dengan anaknya main di luar rumah gak pulang pulang sementara anak-anak sekarang asyik dalam rumah gak keluar-keluar rumah karena keasyikan dengan gandjet.
Masalah ini ternyata banyak orang tua yang mengeluh, baik curhat sesama teman sebaya atau juga minta solusi kepada yang dituakan. Salah satu cara untuk menjauhkan anak dengan gandjet adalah mengantar anak ke pengajian. Pengajian bisa mengalihkan pikiran si anak untuk bersama HP. Apalagi belajar habis magrib, selesai pengajian sekitar jam 20.30 WIB dengan harapan pulang mengaji anak langsung tertidur jadi tidak sempat main HP, karena anak sudah kelelahan di sekolah pada siang hari.
Pengajar di balai Pengajian tak pernah berharap imbalan apapun dari orang tua santri. Mereka mengajarkan anak-anak sebagai tanggung jawab moral untuk meneruskan perjuangan agama Allah dan membentengi moral anak-anak.
Guru-guru pengajian di balai pengajian bukan lah orang yang kaya raya dari sisi materi namun mereka merupakan pejuang-pejuang yang dalam hatinya memiliki “kekayaan” untuk menjaga generasi generasi bangsa dari kerusakan moral. Patutlah bersyukur Aceh masih memiliki “Pagar-Pagar“ yang kokoh dalam menjaga “aqidah“ yang lurus senagaimana ajaran agama.
Bagi orang tua santri, kita harusnya sadar diri mengkaji dan memahami kondisi hari ini, kita harus mengukur diri karena tanggung jawab mengajarkan anak bukanlah tugas orang tetapi tugas kita sebagai kapasitas orang tua, jika kita tidak mampu maka kita kirim kepada balai balai pengajian, TPA, TPQ dan lain sebagainya dengan tidak melupakan hak kita kepada gure gure yang mengajarkan anak kita dengan tulus, di hari santri ini kita mengucapkan selamat hari santri semoga “lampu-lampu” agama tetap menyala di bumi pertiwi ini.
“Ayah nejak jong long bak sikula supaya jeut tuleh baca, Poma neu intat lon bak tempat beut mangat jeut aleh ba ta”. semoga.











keren
Mantap pesan dalam budaya lokal
Pesan luar biasa pertama tidak mengadu di rotan takut tambah di rotan, kedua main di luar tidak pulang pulang sekarang tidak keluar keluar karena main