Namanya Mohan Dinata, SE, MM. Pria kelahiran 1996 ini merupakan lulusan Magister Manajemen Universitas Syiah Kuala dan tergolong lahir dari Keluarga yang sederhana dengan dirawat oleh ibundanya sendiri.
Anak paling bungsu dari 7 bersaudara ini telah menjadi Yatim saat umurnya baru menginjak 3 bulan, ayahnya Meninggal saat dalam perjalanan melakukan pekerjaan di wilayah Aceh Selatan.
Saat kecil, dia dibesarkan oleh ibundanya sendiri dengan seadanya. Ibunya berhasil mengantarkannya sampai dia lulus S2 di Universitas Syiah Kuala.
Dari kecil dia tergolong orang yang mandiri, selalu membantu ibunya berdagang sembari sekolah dan mengaji.
Mohan Dinata menamatkan SD nya di SDN 1 Beureunuen, terus melanjutkan sekolah di MTsN Beureunuen dan diakhiri dengan tamat di SMKN 2 Sigli.
Setelah lulus, pada tahun 2014 Mohan langsung melanjutkan Studi S1 nya di Universitas Jabal Ghafur Fakultas Ekonomi. Sejak masuk kuliah dia tergolong aktif, sehingga langsung di ajak masuk ke pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen ( HMJ ), dan pada saat 2015 dia di ajak bergabung untuk bantu-bantu di Pemerintah Mahasiswa ( Pema ) Unigha.
Mohan Dinata Setelah berkontemplasi dengan matang untuk ikut berkecimpung Organisasi HMIlah yang menjadi rumah baginya, Mohan dan teman-temannya masuk HMI saat itu, Setelah aktif di HMI dari 2016, ternyata di HMI tidak cukup hanya LKI, maka saat itu pada tahun 2017 saya memberanikan diri untuk mngembil LK2.
Singkat cerita pada tahun 2017 dia mengikuti jenjang training intermediate training atau LK2 yang dilaksanakan oleh Koorkom Universitas Bung Karno Cabang Jakarta Pusat – Utara yang beralamat di Cilosari 17 Cikini.
“Kenapa saat itu terkesan seperti buru-buru mengambil jenjang training karena ada sesuatu yang terjadi di internal HMI dan paham betul dengan keadaan konflik bisa membuat perkaderan dan SDM kader HMI menurun,” kata Mohan.
Saat di gedung insan cita yang berada di depok, Mohan menemukan sebuah nama yang ditempel di dinding, terbaca tidak asing dan dia sama sekali tidak tahu itu siapa. Ketika dicari tahu ternyata itu orang Aceh yang sudah lama menjadi tokoh di nasional.
“Sebagai orang Aceh, semua juga senang ketika melihat tulisan papan nama yang diabadikan disitu yaitu “ Ismail Hasan Metareum.” Beliau salah satu cendekiawan asal HMI dan juga pencetus training formal HMI yaitu LK-I, II dan III. Bagaimana tidak bangga, beliau berasal dari metareum salah satu desa yang ada di Kabupaten Pidie,” kata Mohan lagi.
Setelah lulus dari Training tersebut yg kebetulan dari Aceh dia hanya satu-satunya yang mengikuti training tersebut, tiba-tiba orang tuanya telfon dari kampung, beliau mengatakan kalau almarhum bapaknya Mohan juga HMI.
“Saya langsung syok, seakan tidak percaya dan tidak mungkin pula secara ketidaksengajaan.”
Setalah berbicara panjang lebar dan dikirimkanlah biodatanya, yang Mohan lihat bahwa almarhum bapaknya pernah menjadi ketua HMI cabang Jakarta pada tahun 78-79 yang saat itu HMI jakarta masih nyatu dan sekretariatnya berada di Cilosari 17 tempat Mohan mengambil LK-II saat itu.
Karena merasa sudah berikrar kalau jalan organisasi ini adalah jalannya, pada 2018 dia mendapatkan hal yang sama yaitu meningkatkan kapasitasnya sebagai kader HMI. Mohan pun mengambil jenjang Senior Course yaitu jenjang keguruan di HMI, karena dia meyakini salah satu jalan memperbaiki organisasi adalah jadikan dirimu sebagai pendidik agar kau bisa mendidik generasi selanjutnya dengan baik.
Saat itu Mohan mengambil SC di HMI Cabang Ciputat, cabangnya Cak Nur sang pelopor NDP. Disitu dia punya sahabat LK2 bernama Gifar, dan saat itu dia menjadi salah satu tim master yang mengelola training tersebut.
“Wallahi dia salah satu saksi hidup saya ketika berjuang mengambil jenjang SC disana dengan segala dinamika yang terjadi dari tidak mendapatkan rekomendasi hingga harus turun tangan senior jauh untuk menyelamatkan agar tetap bisa mengikuti jenjang training tersebut,” kata Mohan saat itu.
“Saya merasa ilmunya itu tidak ada apa-apanya. Kepala ini hanya berisi tong kosong ketimbang teman temannya dari daerah lain yang makanan sehari-harinya buku. Sedangkan budaya kita di Aceh bukan membaca buku ya lebih tepatnya secara personal,” ujarnya.
Singkat cerita dia dipres habis-habisan sehingga rasanya pengen menyerah dan pertama kali dia menangis saat menuntut ilmu di cabang itu.
Pulang dari SC 2018, Mohan satu-satunya instruktur muda di Sigli yang dengan harapan kecil yaitu agar roda perkaderan bisa terus berputar.
Pada tahun 2019, dia kembali melanjutkan jenjang training terakhir dalam hmi yaitu Advance Training atau LK3 ke Badan Koordinasi Sumatra Bagian Selatan ( Badko Sumbagsel ) kebetulan punya teman yang bernama Dede Irawan.
Dede Irawan merupakan salah satu anak desa terpencil yang rantau ke Bengkulu untuk kuliah. Mohan dan Dewan mengikuti jenjang training dari LK2, SC dan LK3 bareng. Sekarang dia menjadi Ketua Umum Badko Sumbagsel dan Mohan menjadi ketua umum HMI Sigli. Mereka masih saling bersahabat dan saling memberi support satu sama lain.
Saat mengambil jenjang LK3 Mohan memberanikan diri datang terlebih dahulu, bukan bermaksud melobby tapi karena effortnya harus lulus.
“Saya datang duluan membantu segala keperluan tim kepanitian disana sehingga tidak ada alasan untuk mereka tidak meloloskan saya sebagai salah satu peserta disana.”
Singkat cerita pada tahun 2021, Mohan diamanahkan menjadi ketua umum HMI Cabang Sigli dengan mengusung tagline kolaboratif dan melanjutkan kerja-kerja yang diamanahkan ke saya oleh mantan ketua umum HMI cabang Sigli pada saat itu yaitu Ketum Mahzal.
Setelah demisioner dari Ketua Umum HMI cabang Sigli, Mohan Dinata berniat untuk terus mengabdi di HMI dengan mencoba bertarung sebagai salah satu kandidat Ketua Badan Koordinasi (Badko) HMI Aceh pada Musda ke 15 tahun 2024 ini.
“Mengusung Tagline HMI Inklusif adalah tagline hasil musyawarah Mohan Dinata dan team. Secara bahasa, Inklusi berasal dari Bahasa inggris ‘include’ yang artinya mengikutsertakan. Dari arti tersebut dapat dimaknai bahwa inklusif sejatinya menyeluruh melibatkan semua orang dari berbagai kelompok tanpa meninggalkan salah satunya.”
Dengan mengusung tagline “HMI Inklusif, disertai niat tulus ikhlas, Mohan Dinata ingin melakukan pengabdian bagi organisasi ini, untuk menjawab tantangan, serta bentuk keresahan dan kegundahan dalam tubuh organisasi se-wilayah kerja Badko HMI Aceh. Ada beberapa variabel inklusif yang dibawa Mohan Dinata diantaranya; Inklusif ke-ilmuan, Inklusif ke-Islaman, dan Inklusif ke- Bangsaan.
“HMI harus menjadi Organisasi yang dapat diterima oleh semua kalangan, baik masyarakat kalangan bawah maupun atas. Karena hampir rata-rata kader HMI itu berasal dari keluarga Sederhana dan mereka berjuang untuk menjadi diri mereka yang lebih baik lagi. HMI jangan pula terpaku dengan para Elite, tapi juga harus menjadi garda terdepan dalam melindungi masyarakat dari segala kezaliman yang terjadi,” ujar Mohan.










