Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Pesona Tari Tradisional; Memahami Keunikan Rateb Meuseukat di Desa Medang Ara

redaksi by redaksi
06/06/2024
in Opini, Sastra
1
[Opini] Pesona Tari Tradisional; Memahami Keunikan Rateb Meuseukat di Desa Medang Ara

Oleh: Zulkhairi. Penulis adalah mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah Dan Komunikasi.

Kesenian merupakan wujud budaya dalam kehidupan sosial kultural sehingga keberadaannya tetap terjaga dengan baik. Karena kesenian merupakan sarana untuk mengekspresikan keindahan dari jiwa manusia. Jadi kesenian itu bisa digunakan untuk menjaga norma serta adat istiadat masyarakat supaya tidak lekang oleh waktu.

Maka dari itu biasanya kesenian dijadikan sebagai simbol budaya. Misalnya seperti tari rateb meuseukat yang berkaitan dengan unsur budaya Aceh. Kesenian yang mana tariannya diiringi dengan busana dan riasan ini bisa memperlihatkan identitas budaya yang memiliki makna tersendiri.

Tarian Rateb meuseukat diciptakan oleh Teuku Muhammad Thaib, seorang ulama yang memimpin pusat pendidikan agama yang terdapat di Gampung Rumoh Baro desa Medang Ara kecamatan Blang Pidie kabupaten Aceh Selatan. Nama Gampong Rumoh Baro tersebut kemudian diubah menjadi desa Medang Ara, beliau pernah belajar di samudra pasai dan kemudian meneruskan pendidikannya ke Baghdad.

Disana beliau menjumpai Ibnu Maskawaihi dan belajar padanya tentang pengetahuan agama Islam serta pengetahuan lainnya termasuk seni sebagai salah satu media dakwah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu tarian ini mulai berkembang dan mulai dikenal oleh masyarakat luas.

Dulunya, tarian adat masyarakat ini untuk menghindari kejenuhan belajar, dimainkan sesudah selesai mengaji pelajaran agama malam hari, dan juga hal ini tidak terlepas sebagai media dakwah tentang nilai-nilai ajaran Islam. Mereka mengajarkan agama dengan cara meratib yang mereka sebut “Ratib Meuseukat” seperti yang dilakukan oleh Ulama Ibnu Maskawaihi, dalam gerak dan lagu yang sederhana namun sangat menarik. Maka para santri yang telah menyelesaikan pelajarannya disana kembali ke tempat asal masing-masing dan disana mereka mengembangkan agama islam dengan menggunakan Ratib Meuseukat sebagai salah satu metode dakwahnya.

Tarian rateb meuseukat ini merupakan sebuah tarian kreasi yang berpola tradisional.Tari rateb meuseukat biasanya ditampilkan oleh para penari wanita. Jumlah penari tersebut terdiri dari 12 orang penari dan 1 orang penyair, biasanya disesuaikan dengan kelompok atau sanggar masing-masing. Saat pertunjukan, penari berpakaian tradisional serta dihias dengan hiasan dan tata rias yang membuatnya terlihat cantik. Dalam pertunjukannya, tari rateb meuseukat biasanya diawali dengan gerakan seperti tarian Aceh pada umumnya, Yaitu menari dengan posisi duduk sambil menepuk dada dan paha.

Dalam perkembangannya, tari rateb meuseukat ini masih terus dilestarikan dan dikembangkan sampai saat ini. Berbagai kreasi dan variasi dalam segi gerak, kostum dan pengiring juga sering ditampilkan di setiap pertunjukannya agar terlihat lebih menarik namun, tidak menghilangkan ciri khas dan keasliannya. Ketika pertunjukannya, iringan musik tari rateb meuseukat berupa rapai menjadi alat musik yang digunakan untuk melengkapinya. Alat musik rapai ini termasuk jenis perkusi yang cara memainkannya adalah dengan dipukul.

Pola tangan yang dilakukan oleh para penari tidak jauh berbeda dengan tari saman. Gerakan tangannya berupa menepuk-nepukan tangan ke bagian dada sembari menjentikkan jari dan menggelengkan kepala. Semua penari ketika dalam posisi duduk, sesekali akan berdiri menggunakan lutut mereka, serta akan membungkukan badan. Sedangkan untuk jumlah penari dalam tari ini selalu genap, minimal akan dibawakan oleh 12 orang penari. Pola dari gerakan tangan ini akan mengikuti lantunan irama tabuhan musik pengiring. Biasanya para penari akan melantunkan syair dan membalas syair yang dilantunkan oleh penyair. Namun, di dalam beberapa adegan, para penonton akan dikejutkan dengan teriakan melengking dari penari sebagai salah satu ciri khas tarian rateb meuseukat dari Aceh ini.

Tari rateb meuseukat ini juga masih sering ditampilkan di berbagai acara seperti acara penyambutan, acara perayaan dan acara adat lainnya. Selain itu, tari ini juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya seperti pertunjukan seni, dan festival budaya. Hal ini dilakukan sebagai usaha melestarikan dan memperkenalkan kepada generasi muda serta masyarakat luas akan tari rateb meuseukat ini.Tujuan utamanya adalah untuk menunjukan karakteristik wanita Aceh yang dikenal sangat kompak satu sama lain, pemberani dan semangat pantang menyerah. Melalui ragam gerakan yang diiringi oleh irama musik serta adanya teriakan yang meledak-ledak mempunyai makna sebagai bentuk ekspresi dan tekad kuat para wanita.

Makna tari rateb meuseukat yang berasal dari Aceh ini juga menggambarkan rasa syukur, bentuk puji-pujian dan zikir kepada Tuhan Yang Maha Esa. Banyak orang yang menganggap tari saman dan rateb meuseukat sama saja, padahal faktanya perbedaan diantaranya keduanya cukup terlihat jelas.

Walaupun keduanya bukan jenis tari berpasangan, namun perbedaan tari rateb meuseukat dan tari saman adalah terletak pada pembawaannya.

Di dalam tarian ini sangat menonjolkan rasa kekompakan, sopan santun, keagamaan, kepahlawanan dan kebersamaan. Dari semua aspek inilah yang jika dipadukan secara rapi dan baik membuat para penonton terpukau.

Daftar Pustaka
Kusmayati, H. A, M. (2002). Seni Pertunjukkan. Jakarta: PT. Aku Bisa.
Muryanto.(2019). Mengenal Seni Tari Indonesia. Jawa Tengah: ALPRIN.

Previous Post

Masjidil Haram Padat, Jemaah Diimbau Salat di Hotel dan Masjid Sekitar Hotel

Next Post

YARA: Bupati Bisa Copot Kepala Desa Kalau Tidak Taat Peraturan UU

Next Post
YARA: Bupati Bisa Copot Kepala Desa Kalau Tidak Taat Peraturan UU

YARA: Bupati Bisa Copot Kepala Desa Kalau Tidak Taat Peraturan UU

Comments 1

  1. Mas Anies says:
    2 tahun ago

    Dengan penjelasan yang rapi dan pemilihan bahasa yang bagus, sangat mudah dimengerti. Semangat penulis muda100%

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Lembaga Wali Nanggroe Identifikasi Hukum Materiil Peradilan Adat di Aceh Barat

Lembaga Wali Nanggroe Identifikasi Hukum Materiil Peradilan Adat di Aceh Barat

04/08/2026
PKB Pidie Jaya Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Dayah Istiqamatuddin

PKB Pidie Jaya Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Dayah Istiqamatuddin

04/08/2026
Kebakaran Hanguskan Kompleks Dayah di Bandar Dua

Kebakaran Hanguskan Kompleks Dayah di Bandar Dua

04/08/2026
Ancaman Narkotika, BNN Aceh Teken MoU dengan Pemerintah Abdya Bentuk BNNK

Ancaman Narkotika, BNN Aceh Teken MoU dengan Pemerintah Abdya Bentuk BNNK

04/08/2026
Fraksi Kebangkitan Pembangunan dan Demokrasi Desak Bupati Evaluasi SKPK Pijay

Fraksi Kebangkitan Pembangunan dan Demokrasi Desak Bupati Evaluasi SKPK Pijay

04/08/2026

Terpopuler

Kapolres Pidie Jaya Kritik Evaluasi SKPK: Jangan Bicara Tanpa Data, Rakyat Berhak Tahu Kinerja Pemerintah

Kapolres Pidie Jaya Kritik Evaluasi SKPK: Jangan Bicara Tanpa Data, Rakyat Berhak Tahu Kinerja Pemerintah

03/08/2026

Dari Atu Singkih ke Lembah Tidar: Alumnus Al Zahrah Lulus Akmil Setelah 3 Kali Gagal

Di Tengah Tuntutan Dua Bulan Penjara, IKA Unigha Desak Restorative Justice untuk Dua Mahasiswa

[Opini] Pesona Tari Tradisional; Memahami Keunikan Rateb Meuseukat di Desa Medang Ara

Lima Tahun Bertahan Tanpa Orang Tua, Lima Bersaudara di Pidie Jaya Pernah Dua Hari Menahan Lapar

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com