Oleh Yuwanda Hamidah. Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Organisasi mahasiswa (Ormawa) memegang peran signifikan dalam kehidupan kampus. Ia bukan sekadar tempat berkumpulnya mahasiswa dari berbagai latar belakang, melainkan juga menjadi ruang strategis untuk pembelajaran dan pengembangan diri. Namun, ormawa kerap mendapat stigma sebagai “sarang politik praktis” yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Hal ini mengundang pertanyaan: apakah ormawa masih menjadi wadah pengembangan diri atau justru telah bergeser menjadi ajang perebutan kekuasaan? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami fungsi dasar ormawa, dinamika yang terjadi di dalamnya, dan tantangan yang muncul untuk menjaga idealisme mahasiswa.
Fungsi Organisasi Mahasiswa
Pada dasarnya, organisasi mahasiswa dibentuk untuk memberikan ruang bagi pengembangan potensi mahasiswa, baik dalam bidang akademik, sosial, maupun kepemimpinan. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan himpunan mahasiswa jurusan, misalnya, dirancang untuk menciptakan pendidikan nonformal. Melalui ormawa, mahasiswa dapat belajar bekerja sama, mengambil keputusan, memimpin, dan melaksanakan berbagai program yang bermanfaat bagi masyarakat kampus maupun luar kampus.
Namun, dinamika politik tidak bisa dipisahkan dari keberadaan ormawa. Proses pemilihan ketua BEM atau pengurus lainnya mencerminkan miniatur demokrasi. Selain itu, organisasi mahasiswa sering kali menjadi medium mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi terhadap isu-isu nasional, seperti kebijakan pemerintah, melalui demonstrasi atau aksi kolektif.
Politik Praktis dalam Organisasi Mahasiswa
Organisasi mahasiswa sering kali menjadi arena pembelajaran politik. Namun, masalah muncul ketika praktik politik di dalamnya mulai didominasi oleh kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Hal ini dapat menyebabkan pergeseran fungsi organisasi dari wadah pengembangan diri menjadi sarana perebutan kekuasaan.
Fenomena politik praktis di ormawa bisa bermacam-macam bentuknya, seperti penggunaan sumber daya organisasi untuk kepentingan di luar kampus, intervensi pihak eksternal dalam pemilihan pengurus, hingga pembagian organisasi berdasarkan afiliasi politik tertentu. Jika dibiarkan, situasi ini tidak hanya menghilangkan esensi ormawa sebagai tempat belajar, tetapi juga mencoreng citra organisasi itu sendiri.
Tidak sedikit pula kasus di mana ormawa dimanfaatkan untuk mendukung agenda politik pihak eksternal. Mahasiswa yang seharusnya belajar memimpin justru terseret ke dalam kepentingan pragmatis yang merusak. Hal ini mereduksi potensi besar ormawa dalam membentuk generasi muda yang kritis dan idealis.
Ormawa sebagai Wadah Pengembangan Diri
Meski demikian, ormawa tetap memiliki potensi besar sebagai ruang pengembangan diri mahasiswa. Banyak mahasiswa mengakui bahwa keterlibatan aktif dalam ormawa memberikan pengalaman berharga. Keterampilan seperti manajemen waktu, kepemimpinan, komunikasi, hingga penyelesaian masalah menjadi kemampuan yang dapat diasah melalui kegiatan organisasi.
Selain itu, ormawa membuka peluang jaringan yang luas, baik di lingkungan kampus maupun dunia profesional. Tidak jarang, alumni organisasi menjadi mentor atau bahkan membuka jalan bagi mahasiswa untuk memasuki dunia kerja.
Program kerja seperti bakti sosial, pengabdian masyarakat, atau penelitian kolaboratif juga membantu mahasiswa untuk lebih memahami realitas sosial di sekitarnya. Pengalaman ini menjadi bekal penting dalam membentuk individu yang peduli dan berkontribusi aktif terhadap pembangunan masyarakat.
Tantangan Menjaga Idealisme Mahasiswa
Salah satu tantangan terbesar bagi ormawa adalah menjaga idealisme anggotanya di tengah tekanan eksternal dan godaan kekuasaan. Mahasiswa yang awalnya bergabung dengan niat tulus untuk belajar dan berkembang sering kali menghadapi realitas yang mengikis semangat idealisme tersebut.
Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Kampus, misalnya, harus berperan aktif dalam memberikan pendampingan kepada pengurus organisasi melalui pelatihan dan bimbingan yang berkelanjutan.
Mahasiswa sebagai penggerak utama juga harus memiliki komitmen untuk menjaga integritas organisasi. Mereka perlu memahami bahwa ormawa bukanlah alat untuk ambisi pribadi, melainkan ruang pembelajaran kolektif. Evaluasi internal yang dilakukan secara rutin dapat membantu mendeteksi dan mencegah penyimpangan di dalam organisasi.
Menyeimbangkan Peran Politik dan Pengembangan Diri
Stigma sebagai “sarang politik praktis” hanya dapat dihapus jika organisasi mahasiswa mampu menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan diri anggotanya. Bukan berarti ormawa harus menghindari politik sepenuhnya. Sebagai bagian dari masyarakat, mahasiswa tetap memiliki peran dalam politik, tetapi kontribusi tersebut harus berbasis pada idealisme, bukan kepentingan pragmatis.
Sebagai alternatif, ormawa dapat mengedukasi mahasiswa tentang politik melalui diskusi, seminar, atau pelatihan kepemimpinan tanpa melibatkan mereka dalam konflik kepentingan. Program-program yang bersifat inovatif dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa juga dapat menjadi daya tarik bagi mereka yang ingin berkembang.
Kesimpulan
Organisasi mahasiswa memiliki peran besar sebagai ruang pengembangan diri sekaligus arena pembelajaran politik yang sehat. Namun, peran tersebut hanya dapat terwujud jika ormawa mampu menjaga idealismenya dan menghindari praktik politik praktis yang merusak.
Mahasiswa sebagai aktor utama harus sadar bahwa keterlibatan mereka tidak hanya bertujuan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat kampus dan sekitarnya. Kampus pun perlu mengambil peran aktif dalam memberikan arahan agar ormawa tetap berjalan sesuai tujuan.
Dengan menjaga keseimbangan antara pengembangan diri dan peran politik, organisasi mahasiswa dapat menjadi tempat yang ideal untuk membentuk pemimpin masa depan yang berintegritas, visioner, dan berorientasi pada kepentingan bersama. []
![[Opini] Organisasi Mahasiswa: Sarang Politik Praktis atau Wadah Pengembangan Diri?](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2024/12/WhatsApp-Image-2024-12-19-at-08.54.44-750x375.jpeg)










