Jakarta- Satu gelas kopi arabica Gayo yang ditanam di Gayo Lues, usai diseduh. Wanita berkulit putih dan berkacamata itu, sejenak menghirup aroma yang mengepul dari gelas kaca. Ia tersenyum dan mengangguk. Kopi Arabica dari Gayo Lues punya cita rasa yang beda dan sungguh nikmat. Begitu ia memberikan kesaksian.
Namanya Annisa Chryssanthy.Lahir di Medan 12 mei 1992. Gadis yang ramah itu lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Manajemen Rekayasa Industri, pada medio 2015 silam. Bagi Annisa yang bekerja di salah satu perusahaan luar negeri sebagai market research, Kopi Arabica Gayo Lues yang ditanam di Pantan Cuaca, Gayo Lues, Provinsi Aceh, memiliki keistimewaan.
“Menurut saya, kelebihan kopi arabica Pantan Cuaca, Gayo Lues, adalah pada kemenonjolan acidity sweetness dan fruitnya. Bodynya juga balance. Kopi yang bagus dan pasti dirawat dengan penuh cinta,” ujarnya kepada Jurnalistik Atjehwatch.com, Senin (23/5/2016).
Pendapat ini bukan asal komentar. Annisa merupakan petani kopi di Sumedang, Jawa Barat. Dia paham betul dengan dunia perkopian Indonesia. Khusus untuk arabica Pantan Cuaca, ia juga berpendapat bahwa kopi itu memiliki kekhasan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kopi lainnya di tanah air.
“Kopi ini potensial dikembangkan, karena memiliki kualitas fisik dan rasa yang berbeda dengan daerah lainnya, bahkan di Tanoh Gayo sendiri,” terangnya.
Dia berharap, ke depan kopi single origin asal Pantan Cuaca bisa dikenal luas sampai ke manca negara. Apalagi saat ini produsen kopi sudah bisa berinteraksi langsung dengan end user, sehingga berpotensi menghasilkan feedback (keuntungan) yang lebih bagus. “Peluangnya besar. Berhubungan langsung dengan end user bermakna berpotensi pula untuk pengembangan ekonomi di kawasan Gayo Lues. Inputnya akan sangat besar untuk daerah,” tambahnya.
Peran Perempuan
Merawat kopi butuh keterampilan dan hati yang penuh cinta. Layaknya gadis, kopi butuh sentuhan yang menawarkan keteduhan dari pengelola kebun. Untuk itu keterlibatan perempuan dalam perkopian menjadi mutlak. Ia melihat petani kopi Gayo menempatkan perempuan pada posisi yang bagus dalam mengelola kopi.
“Merawat kopi hingga melahirkan bulir yang berkualitas, membutuhkan keterlibatan hati. Sabar, tekun, lembut menjadi keharusan. Perempuan adalah sosok yang memiliki jiwa tersebut. Sehingga keterlibatannya menjadi sangat penting. Misal saat menyeleksi bulir yang berkualitas, perempuan akan lebih sabar dalam melakukan proses seleksi. Di tangan kaum hawa, kualitas terbaik akan lahir. Gayo melakukan itu,” ujarnya.
Sebagai kawasan yang dikenal sebagai daerah yang penduduknya sangat menyukai kopi, selain keterlibatan perempuan, kehadiran generasi muda dari dua jenis kelamin juga memiliki dampak positif besar. Untuk hal itu, Annisa berpesan, kaum muda di Aceh sudah harus bergerak untuk mengenal dunia perkopian secara lebih nyata. Jangan hanya menjadi penikmat, tapi harus menjadi pelaku yang tahu kopi dengan pengetahuan yang utuh.
“Jangan malu untuk berbuat, tapi malulah, karena tidak berbuat apa-apa,” imbuhnya. []
(Aan)










